Wajah Baru Lebaran
Damar Tri Afrianto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Bagi umat Islam di Indonesia  hari Lebaran kali ini diawali dengan sederet hilangnya rutinitas sepanjang Ramadan, seperti kekhusyukan ibadah berjemaah yang terbatas, pudarnya berburu takjil dan ngabuburit bersama handai taulan, dan tradisi mudik yang dilarang melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 tahun 2020.

Hilangnya keriuahan suasana Ramadan tak lain untuk mencegah dan mengurangi persebaran Covid-19. Serangkaian suasana Ramadan selama pandemi ini melahirkan wajah baru Lebaran tahun ini. Sejumlah protokol kesehatan akan mewarnai tradisi perayaan Lebaran kali ini.

Kebijakan urusan kesehatan menjelang Lebaran itu tak luput dari pergesekan sosial di masyarakat karena hampir semua tradisi Lebaran kita bakal tereduksi. Sebuah pertentangan diprediksi akan muncul antara tradisi baru dengan segala protokol kesehatan dengan tradisi konservatif yang sudah mengakar dan terwarisi.

Wajah baru Lebaran akan menimbulkan anakronisme sosial ketika pola dan hakikat Lebaran pada umumnya tidak dimaknai secara bijak. Situasi wabah yang tak dikehendaki ini sepatutnya segera dicarikan pemaknaan alternatif tentang perayaaan Lebaran agar tidak terjadi pergolakan sosial di masyarakat karena merasa hakdan  kebebesan berlebaran dibatasi.

Perlu ada upaya dari setiap individu untuk merefleksikan kembali hakikat Lebaran yang subtantif agar Lebaran yang kita lewati di tengah pandemi tetap menjadi keutamaan. Upaya tersebut merupakan kerja yang tak mudah. Makna Lebaran telah dimodifikasi oleh daya komodifikasi.

Praktik berlebaran kerap didominasi oleh pernyataan kultural daripada spiritual. Persolekan dan perjamuan adalah pernyataan kultural yang lebih dominan daripada pengahayatan sebagai fitrah manusia setelah ditempa ibadah puasa satu bulan.

Dekonstruksi

Budaya Lebaran selama ini didominasi oleh pemaknaan materialistis karena yang sedang dirayakan adalah kebahagian fisik. Jarang kita menyebut perayaan ini sebagai kebahagian spiritual. Pemaknaan materialistis itulah yang bernilai absolut sehingga kita seolah-olah ditutup dari jalan untuk menemukan makna lain dari Lebaran.

Dari sinilah menjadi penting untuk kita mendekonstruksi makna Lebaran agar mendapatkan pemaknaan alternatif. Dekonstruksi adalah upaya perlawanan terhadap anggapan-anggapan yang absolut. Cara berpikir dekonstruktif justru memberikan dorongan untuk menemukan segala sesuatu yang selama ini tidak memperoleh perhatian.

Hal ini memungkinkan kita menjelajahi makna Lebaran yang lebih hakiki, tanpa terikat dengan suatu aturan yang dianggap telah berlaku universal dan konservatif. Cara berpikir dekonstruktif ini pertama-tama dikenalkan oleh filsuf asal Prancis Jacques Derrida. Awalnya metode ini digunakan untuk bidang filsafat dan kesusastraan namun cukup relevan untuk memahami fenomena Lebaran kali ini.

Makna Lebaran yang telah mentradisi perlu dekonstruksi sebagai upaya adapatasi di tengah pandemi ini. Kita perlu menengok kembali makna Lebaran  yang lebih hakiki daripada yang selama ini kita lakukan, yaitu mengonsepsikan makna Lebaran pada ritus spiritual. Pemaknaan ini kerap tertutupi oleh gebyar dan gempita Lebaran yang konservatif.

Ritus spiritual adalah perjalanan batin manusia dalam interaksi dengan Sang Khalik. Lebaran adalah peristiwa agama dan budaya agar manusia tetap menjaga fitrah sebagai manusia. Makna inilah yang harus kita pegang dalam menyambut wajah Lebaran baru kali ini. Lebaran yang dominan dengan praktik konsumerisme harus kita dekonstruksi.

Tradisi ini yang kerap membawa kita hanya mendapatkan kepuasan lahiriah dan jauh dari nutrisi batiniah. Upaya dekonstruksi pada satu sisi juga membuka tabir makna Lebaran tentang pentingnya manajemen perenungan reflektif. Makna ini tak pernah hadir di permukaan karena makna dominan Lebaran lebih mengutamakan ”kemenangan” daripada ”perenungan”.

”Perenungan” diasosiasikan sebagai koreksi dan evaluasi diri sebagai insan manusia, sedangkan ”kemenangan” adalah ekspresi euforia yang jika tidak terkontrol justru membawa jatuh ke jurang kenistaan. Lebaran sebagai perenungan lebihcocok untuk membangun ketahanan diri dalam membentuk manusia karena sifat mengevaluasi diri jauh lebih rumit dan butuh keikhlasan untuk mengganggap manusia adalah pusat dari segala bentuk kekurangan.

Hak Berlebaran

Segenap pembatasan sosial harus kita terima dalam melewati Lebaran karena wabah Covid-19 mengubah drastis perayaan Lebaran. Pada sisi lain, sebagian masyarakat tetap akan kukuh mengekspresikan hak berlebaran dengan euforia. Menyiapkan perjamuan, baju baru, bersilaturahmi, dan segala bentuk sifat komunal akan tetap kita jumpai.

Fenomena yang kedua itu yang perlu kita sikapi dalam jangka panjang. Belum sampai menginjak perayaan Lebaran, pandemi Covid-19 di Indonesia mencapai jumlah kasus tertinggi. Hak berlebaran yang dilandasi dengan emosi dan dan egosentris yang berlebihan berpontensi mengundang gelombang baru Covid-19.

Gelombang baru yang lebih besar dengan kriteria-kriteria yang lebih rumit untuk diatasi. Kita perlu sejenak melepaskan atribut dan ritus Lebaran yang konvensional dengan memodifikasi tradisi dan tetap berpegang pada subtansi. Hak berlebaran tidak akan terenggut oleh pandemi ketika Lebaran ini kita maknai secara subtantif dan spritualistis.

Ekspresi kultural semacam bersalam-salaman dan silaturami dapat teratasi karena ekspresi paling hakiki dari memaafkan adalah terletak pada keikhlasan hati, bukan sentuhan fisik. Bersolek dan berpakaian baru dapat dikesampingkan karena hakikat Lebaran adalah pada hati dan pemikiran yang baru.

Ekspresi kerinduan pada kampung halaman dan sanak saudara dapat teratasi karena esensi dari Lebaran bukan pertemuan, tapi pada pengakuan identitas dan jejak siapa dan dari mana manusia berasal. Itulah segenap wajah baru Lebaran kita kali ini. Selamat berlebaran…


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho