Waduk Bade Boyolali Mengering Malah Ramai Jadi Tempat Selfie
Sejumlah warga menikmati senja di Waduk Bade Boyolali yang surut akibat musim kemarau, Sabtu (20/10/2018) sore. (Solopos-Nadia Lutfiana Mawarni)

Solopos.com, BOYOLALI -- Selalu ada kemudahan di balik kesulitan. Begitu Tugimin, 54, salah satu warga Desa Bade, Kecamatan Klego, Boyolali, mengamini kata pepatah.

Sudah tiga bulan terakhir dia yang bekerja sebagai buruh tani kehilangan sumber pendapatan lantaran sawah tadah hujan yang digarapnya tak kunjung mendapatkan air.

“Ya gimana, berbulan-bulan enggak hujan tidak ada air,” kata dia ketika berbincang dengan Solopos.com di kawasan Waduk Bade, Sabtu (20/10/2018) sore.

Meski demikian, Tugimin tak lantas kehilangan akal. Dia banting setir sementara waktu karena Waduk Bade yang surut banyak dimanfaatkan wisatawan berswafoto sambil menunggu senja.

Tugimin kini sementara waktu berjualan es teh di kawasan waduk. Tugimin yang merupakan warga lokal menambahkan warga biasa menyebut kawasan itu Sabana alias Saba Sore.

Penyebabnya, waduk yang mengering justru memunculkan tanah lapang hijau yang ditumbuhi rerumputan.

Dia menambahkan wisata ini menjadi wisata musiman saban kemarau. Namun, sabana paling luas baru terjadi tahun ini karena musim kemarau yang berkepanjangan.

Salah satu pengunjung, Eka Aprilia, 17, datang bersama kekasihnya, Bagus. Keduanya warga Gemolong, Sragen.

Sekitar enam kilometer ditempuh sejoli ini untuk menikmati senja bersama di tempat yang belakangan viral di media sosial Instagram itu.

“Penasaran aja sih, kayaknya bagus foto-foto di waduk sambil menunggu matahari terbenam,” kata dia.

Layaknya Generasi Z seusianya, Eka banyak mengakses media sosial Instagram untuk mendapatkan informasi mengenai tempat-tempat yang belakangan naik daun untuk dikunjungi.

Kemudian lewat sebuah akun @klegogoodplace Eka menemukan tempat wisata musiman ini. Selain sebagai tempat favorit swafoto, Eka menilai positif tempat itu.

Lewat pintu belakang, dia dan sang kekasih tak perlu merogoh kocek untuk biaya masuk atau biaya parkir. Selain Eka, tampak di sana serombongan keluarga, juga beberapa komunitas yang sedang menggalang dana untuk korban gempa Palu.

Setelah berkeliling, Eka mulai mengeluarkan ponsel pintarnya. Tak lama kemudian dirinya dan Bagus segera mencari titik-titik terbaik untuk berfoto.

Lain Eka, lain pula Siti Komariyah, 55, warga Andong, Boyolali. “Kayaknya tempat ini cocoknya buat yang anak muda. Kalau sudah seumur saya melihat mereka yang bising naik motor malah jadi enggak enak,” kata dia.

Siti justru menginginkan tempat wisata cuma-cuma ini dikelola secara lebih optimal. Misalnya dengan memberi batas antara pengunjung yang ingin bersantai dan pengendara motor yang memasuki area waduk.

Usulan ini juga diamini Sumiyati, 35, ibu rumah tangga asal Andong yang datang membawa buah hatinya yang baru berusia 5 tahun. “Kalau campur sama motor kan bahaya pas anak lari-lari,” imbuh dia.

Penelusuran Solopos.com, tempat wisata dadakan itu tak ada pengelolanya. Hanya ada oleh seorang tukang parkir yang memungut retribusi parkir kendaraan senilai Rp4.000.

Namun tak sedikit pengunjung yang memilih masuk area waduk lewat sisi belakag agar tak terkena retribusi karcis dan parkir.



Avatar
Editor:
Suharsih


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom