Waduh! Sampah Menumpuk Di Dam Duk Bubrah Sragen Hingga 10 Ton
Sukarelawan SAR bersama warga dan TNI berusaha menarik sampah yang sudah diikat tali dadung dari sungai ke daratan di Dam Buk Bubrah, Dukuh Plosokerep, Desa Bandung, Ngrampal, Sragen, Minggu (24/1/2021). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Puluhan warga bersama sukarelawan SAR dan TNI mengevakuasi sampah seberat 10 ton yang menyumbat Dam Buk Bubrah, Dukuh Plosokerep, Desa Bandung, Ngrampal, Sragen, Minggu (24/1/2021).

Gotong-royong mengangkat sampah itu untuk kali kedua setelah dari Dam Jetis Klenteng Pilangsari, Ngrampal, Sragen. Saat musim penghujan sejumlah dam sering kali “panen” sampah karena kiriman dari daerah dari wilayah hulu sungai.

Kendati warga, sukarelawan SAR di bawah koordinasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan TNI bekerja keras mengevakuasi, tetap belum mampu mengangkat seluruh sampah yang menumpuk.

Baca Juga: Terima 6.960 Dosis Vaksin Sinovac, Ini Lokasi Vaksinasi Covid-19 Perdana Karanganyar

Sampah itu di dam wilayah Sragen itu didominasi batang dan ranting bambu, batang pohon, pohon pisang, plastik, bahkan ada yang menemukan bangkai ayam.

“Butuh alat berat untuk evakuasi sampah itu. Soalnya volumenya bisa sampai 10 ton kalau dengan kandungan sedimentasinya,” ujar seorang sukarelawan BPBD Sragen, Suparman, saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu siang.

Alat Berat

Camat Ngrampal Joko Hendang Murdono langsung berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sragen untuk mengupayakan alat berat.

Baca Juga: 2 Acara Hajatan Dibubarkan Tim Cipta Kondisi Solo, Lurah Ngaku Kecolongan

Demikian pula, Sekretaris Kecamatan Endang Wijayanti juga sibuk menghubungi sejumlah rekanan swasta yang memiliki akses ke alat berat. Tumpukan sampah di dam wilayah Ngrampal, Sragen, itulah yang mengakibatkan talut, bukdeker, dan jalan usaha tani sebelah selatan dam ambrol dan longsor.

“Kalau dengan manual tenaga manusia tidak memungkinkan selesai dalam waktu singkat. Soalnya kami pernah pinjam alat berat tetapi untuk operasional ditanggung pemohon,” ujar Joko.

Joko mengatakan akan bicara dengan pemerintah desa untuk pengadaan alat berat itu sebab untuk operasional bisa menggunakan belanja tak terduga (BTT). Nilai BTT itu 10% dari alokasi dana desa (DD).

Baca Juga: PPKM Tahap II: Jam Operasional Pusat Perbelanjaan Solo Ditambah 1 Jam

Nilai dana Desa Bandung mencapai Rp800 juta. Joko menerangkan saat musim penghujan dam di Desa Bandung, Ngrampal, Sragen, itu sering kali menjadi “tempat parkir” sampah.

Kesadaran

Ia berharap dari daerah hulu ada kesadaran untuk tidak membuang sampah ke sungai sehingga tidak merepotkan warga daerah hilir. Selain dam Plosokerep, Joko menyebut tumpukan sampah juga terjadi di dam wilayah Kendal, Ngrampal.

Namun, warga Kendal sudah berswadaya mengangkat sampah-sampah itu. Seorang warga setempat, Andi, 41, mengatakan luapan air dari Dam Buk Bubrah sempat masukan ke permukiman dan menggenangi 5-6 rumah warga Plosokerep RT 012.

Baca Juga: Cawabup Terpilih Klaten Yoga Hardaya Dilaporkan ke Polisi, Apa Tanggapan Sri Mulyani?

Ia mengatakan sumber permasalahannya pada sampah yang menumpuk itu di dam Buk Bubrah, Sragen. Sampah itu menumpuk karena ada satu pintu air dam itu yang rusak dan tidak bisa terbuka.

Kepala Desa Bandung, Supardi, mengatakan BTT untuk memperbaiki pintu air dam yang rusak itu bila mendapat izin. Selain itu bisa untuk operasional pembersihan sampah dan memperbaiki jalan usaha tani yang longsor.

Duduk Bersama

Pembersihan sampah itu melibatkan sukarelawan dari BPBD, Tagana, FKPPI, Sukarelawan Ganefo, SAR ARH Center, dan sukarelawan KWS.

Baca Juga: Pasien Membeludak, DPRD Sukoharjo Minta Pemkab Segera Tambah Faskes Covid-19

Kepala BPBD Sragen yang juga Sekretaris Daerah Sragen Tatag Prabawanto sudah meminta DPUPR untuk menyelesaikan persoalan sampah itu dengan berkoordinasi dengan desa dan kecamatan.

Koordinator Petugas Pemeliharaan Sungai Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) wilayah Sragen dan Karanganyar, Wijiyono, menjelaskan Dam Jetis Klenteng dan Dam Plosokerep itu nomenklaturnya belum masuk ke BBWSBS.

Baca Juga: 2 Pelanggan Reaktif Rapid Test, Petugas Tutup Warung Hik Di Kratonan Solo

Kendati demikian, Wijiyono menyampaikan BBWSBS tidak akan tinggal diam. Ia mengatakan BBWSBS akan duduk bersama dengan pemerintah provinsi dan kabupaten untuk menangani persoalan sungai itu.

“Selama ini kami menangani empat sungai, yakni Sungai Grompol, Mungkung, Garuda, dan Kenatan. Kami segera koordinasi dengan pihak terkait,” katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom