Waduh! Pemeriksaan Covid-19 di Jateng Masih Rendah
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kanan) meninjau pemeriksaan Covid-19 pada karyawan pabrik di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Jum'at (4/9/2020). (Antaranews.com)

Solopos.com, SEMARANG -- Jawa Tengah (Jateng) saat ini memang menempati posisi teratas secara nasional dalam percepatan vaksinasi Covid-19. Namun secara testing atau pemeriksaan Covid-19 masih tergolong rendah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang disajikan Kawal Covid19 per 15 Februari 2021, angka positivity rate di Jateng berada di angka 11,14 persen. Positivity rate adalah rasio atau perbandingan jumlah kasus harian dengan jumlah pemeriksaan Covid-19 harian dan dikali 100.

Semakin banyak pemeriksaan Covid-19 yang dilakukan suatu daerah, maka positivity rate-nya akan semakin turun karena semakin banyak kasus yang ditemukan.

Bahkan, Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah menetapkan standar positivity rate suatu daerah haruslah tidak lebih dari 5%. Jika mampu berada di angka kurang dari 5%, maka daerah itu telah dinyatakan berhasil dalam melakukan penanganan Covid-19.

Baca jugaJateng Klaim Bebas Zona Merah Covid-19, Berkat PPKM dan Jateng di Rumah Saja?

Sementara di Indonesia, positivity rate masih berada di angka 11,83%. Sedangkan dari 34 provinsi, baru enam daerah yang positivity rate-nya berada di bawah 5%. Keenam daerah dengan perbandingan jumlah kasus harian dengan jumlah pemeriksaan Covid-19 yang masih rendah. Yakni Aceh, Bangka Belitung, DI Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Riau, dan Sumatra Barat.

Sementara Jateng berada di urutan kedua positivity rate tertinggi di Jawa, yakni 11,14% atau di bawah Jawa Timur yang menempati urutan teratas dengan 27,69%.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengakui jika positivity rate di Jateng masih tinggi. Dengan kata lain, jumlah testing dan tracing masih rendah. Atau pemeriksaan Covid-19 masih rendah.

"Nah, itu yang terus kita kejar. Makanya, kenapa dilakukan PPKM dan ditandai dengan penambahan tracer [pelacak kasus Covid-19]," ujarnya saat dijumpai Semarangpos.com di kantornya, Senin (15/2/2021).

Baca jugaTerkendala Pembiayaan, Pemkab Karanganyar Evaluasi Rencana RS Khusus Covid-19

PPKM Mikro

Ganjar menambahkan pada pelaksanaan PPKM skala mikro yang diterapkan mulai 9-23 Februari 2021, memperbanyak tes atau pemeriksaan Covid-19 baik dengan PCR maupun rapid test antigen memang menjadi fokusnya.

Bahkan untuk pemeriksaan Covid-19 atau tracing nanti pihaknya akan dibantu aparat dari TNI dan Polri. "Jadi nanti tracer dari TNI dan Polri itu benar-benar akan mencari [kontak erat pasien Covid-19]. Semoga itu jadi energi baru bagi [tenaga kesehatan] Puskesmas dalam melakukan tracing," imbuhnya.

Ganjar menargetkan nantinya setiap tracer bisa melacak 15-30 kontak erat Covid-19. Namun, jika hanya mampu melacak 15 kontak erat sudah cukup bagus.

"Selama ini kan kita cuma bisa 3 sampai 5 [satu orang tracer]. Nanti, targetnya satu tracer bisa melacak 30 orang, tapi kalau 15 sudah cukup bagus," katanya.

Meski positivity rate masih terbilang tinggi, Ganjar mengaku cukup senang dengan situasi saat ini. Ia mengklaim kasus penambahan Covid-19 di Jateng mengalami penurunan.

Selain itu, jumlah vaksinasi termin kedua tahap pertama di Jateng juga terbilang tinggi, dengan persentase 69%. Sedangkan beberapa rumah sakit juga sudah mulai mengurangi blok isolasi bagi pasien Covid-19.

"Itu tandanya jumlah pasien yang dirawat mulai berkurang. Angka kematian juga sudah turun. Terbukti beberapa rumah sakit sudah mulai mengurangi blok-blok isolasinya," klaim Ganjar.

 

 



Berita Terkini Lainnya








Kolom