Waduh, Ada 1.000 Pengajuan Cerai Masuk ke PA Karanganyar

Dari seluruh aduan yang masuk ke PA Karanganyar, pengajuan perceraian mendominasi dibandingkan dispensasi pernikahan.

 Ilustrasi Perceraian (Solopos/Whisnupaksa)

SOLOPOS.COM - Ilustrasi Perceraian (Solopos/Whisnupaksa)

Solopos.com, KARANGANYAR — Pengadilan Agama (PA) Karanganyar mendata sebanyak 1.000 pengajuan cerai masuk ke PA setempat hingga September 2021. Pengajuan perceraian didominasi gugat cerai dengan permasalahan ekonomi.

Panitera Pengadilan Agama Karanganyar, Mohamad Sukiyanto, mengatakan total aduan yang masuk ke PA Karanganyar sebanyak 1.200 aduan hingga Kamis (16/9/2021). Aduan yang masuk meliputi gugat cerai, talak cerai, dan dispensasi pernikahan.

Dari seluruh aduan tersebut, menurutnya perceraian mendominasi dibandingkan dispensasi pernikahan.

Baca juga: Objek Wisata di Karanganyar Masih Tutup, Pemkab Turunkan Lagi Target PAD

“Hingga kemarin [Kamis], kami mendata ada total 1.200 yang masuk [aduan]. Untuk dispensasi pernikahan sekitar 200 aduan dan perceraian mencapai 1.000 aduan,” ucap dia kepada Solopos.com, Jumat (17/9/2021).

Pembatasan Penerimaan Pengajuan

Sukiyanto menjelaskan angka tersebut termasuk cukup banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sebelum adanya pandemi. Namun, dibandingkan tahun 2020, jumlah pengajuan perceraian yang masuk di 2021 relatif lebih sedikit. Dia memprediksi angka tersebut akan terus bertambah hingga akhir tahun nanti.

“Kalau di 2020 kemarin, di periode yang sama hingga September ada 1.100-an pengajuan perceraian yang masuk. Tapi tahun ini lebih sedikit. Tapi angka 1.000 tahun ini lebih sedikit karena terkendala penundaan dan pembatasan penerimaan pengajuan. Soalnya kami saat ini hanya membatasi 20 pengajuan per hari. Tapi melihat trennya hingga saat ini, saya rasa akan lebih tinggi [pengajuan perceraian] dibandingkan tahun lalu,” imbuh dia.

Baca juga: Dikunjungi Kepala Bappenas, Bupati Karanganyar Curhat Pembangunan RSUD Enggak Kelar-Kelar

Sukiyanto juga menjelaskan dari 1.000 aduan yang masuk didominasi gugat cerai yang dilayangkan oleh pihak perempuan. Alasannya juga 90 persen dikarenakan permasalahan ekonomi.

Menurutnya, permasalahan ekonomi yang berbanding lurus dengan tingginya angka gugat cerai diakibatkan dampak dari pandemi Covid-19.

“Kebanyakan dari perempuan yang melayangkan gugatan. Mereka beralasan ekonomi yang tidak bisa dicukupi. Ini menurut saya karena pandemi juga. Soalnya pandemi ini banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan, sehingga mereka tidak dapat pemasukan dan tidak mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga,” ungkap dia.

Baca juga: Istimewanya Monstera dari Lereng Lawu Karanganyar, Bisa Seharga Mobil dan Rumah


Berita Terkait

Berita Terkini

Selain di Ruang Kelas, Guru di Solo Usulkan PTM di Ruang Terbuka

PTM di ruang terbuka yang diusulkan guru di Solo dinilai dapat mengurangi potensi penularan Covid-19 di lingkungan sekolah.

Terbit 1855 dan Beraksara Jawa, Inilah Surat Kabar Pertama di Kota Solo

Surat kabar Bromartani yang berbahasa dan beraksara Jawa disebut terbit kali pertama di Solo pada 1855.

Duh! Volume Sampah Masuk ke TPA Mojorejo Sukoharjo Naik 30 Ton per Hari

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo terus berusaha mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA Mojorejo, Bendosari.

Paundra Curhat Minta Dihargai, Ini Respons Kerabat Mangkunegaran

Gusti Pangeran Hariyo (G.P.H) Paundrakarna Jiwo Suryonegoro salah satu kandidat penerus penguasa Mangkunegaran mendadak curhat minta dihargai.

8 Merchant Ini Jadi Favorit di Solo Great Sale 2021

Delapan merchant menjadi favorit pelanggan di ajang Solo Great Sale 2021 yang sudah berlangsung kurang lebih setengah bulan terakhir.

Kasus Pinjol Ilegal Meresahkan di Banyak Wilayah, Bagaimana di Solo?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan edukasi kepada masyarakat. OJK mengimbau masyarakat untuk memastikan legalitas jasa pinjol ketika ingin mengaksesnya.

Andalkan Google Maps, Awal Tragedi Minibus Terguling di Karanganyar

Sopir minibus Isuzu Elf pengangkut rombongan guru asal Demak yang terguling di Matesih, Karanganyar, mengaku mengandalkan Google Maps karena tidak tahu jalan menuju Objek Wisata Air Terjun Jumog.

Ealah... Patungan Beli Sabu, Joplek dan Monyong Dibekuk Polisi Wonogiri

Joplek dan Monyong, dua pria asal Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, ditangkap Tim Opsnal Satresnarkoba Polres Wonogiri setelah patungan untuk membeli sabu-sabu.

Sejak Ada Exit Tol, Sragen Timur Mulai Dikepung Pabrik dan Toko Modern

Sejak ada exit tol Sambungmacan, tiga pabrik berskala besar hingga empat minimarket modern mulai mengepung wilayah Sragen bagian timur.

Paundra: Saya Cucu Bung Karno & Putra Mangkunagoro, Jangan Disepelekan!

Gusti Pangeran Hariyo (G.P.H) Paundrakarna Jiwo Suryonegoro menegaskan statusnya sebagai cucu Bung Karno dan putra dalem Mangkunagoro IX dan meminta semua pihak tidak menyepelekan dirinya.

Fotografer Keliling Viral di Tawangmangu Ternyata Cewek Boyolali Hlo

Inilah sosok Dewi Ivoni, wanita asal Boyolali yang viral setelah menjadi fotografer keliling di kawasan wisata Tawangmangu.

Pekan Ini, PPKM di Sragen Ditarget Turun ke Level 1

Dengan cakupan vaksinasi yang mencapai 72,34%, level PPKM di Sragen diharapkan turun ke level 1 pada pekan ini.

Paundra Curhat Jadi Raja Mangkunegaran Bukan Kompetisi, Apa Maksudnya?

GPH Paundrakarna curhat bahwa menjadi raja penerus Mangkunegaran bukanlah sebuah kompetisi.

Kebakaran Sragen: 3 Rumah Warga Ludes

Tiga rumah warga di Sragen, Jawa Tengah, terbakar diduga akibat korsleting listrik.

Cantik! Ini Fotografer Keliling yang Viral di Tawangmangu

Inilah sosok fotografer keliling di Tawangmangu yang viral di media sosial karena menawarkan tarif murah, Rp3.000 per file.