Staf medis merawat pasien yang terjangkit virus Corona, di Central Hospital di Wuhan, China, Sabtu (25/1/2020) menurut foto yang diunggah di media sosial. (Antara/Reuters)

Solopos.com, SOLO -- Penyebab merebaknya virus Corona atau coronavirus dari Wuhan, China, masih misterius. Namun, ular-ular beracun seperti kobra China diduga sebagai sumber dari strain terbaru coronavirus yang kini mewabah di China.

Hal itu terungkap dalam artikel berjudul Snakes could be the original source of the new coronavirus outbreak in China yang diterbitkan oleh The Conversation, Kamis (23/1/2020). Artikel itu ditulis oleh tiga profesor mikrobiologi dari University of Pittsburg, yaitu Haitao Guo, Guangxiang "Geoerge" Luo, dan Shou-Jiang Gao.

Dugaan itu berdasarkan penelitian terhadap sampel virus dari pasien di China untuk menentukan kode genetik virus. Strain baru virus corona ini merupakan satu keluarga dengan virus-virus berbahaya yang sebelumnya pernah membunuh ratusan orang di dunia, yakni severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-CoV) dan Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut virus corona baru ini sebagai new coronavirus 2019-nCoV.

Coronavirus menular melalui udara terutama menginfeksi saliran pernafasan atas pencernaan mamalia dan unggas. SARS-CoV dan MERS-CoV dapat menginfeksi saluran udara atas dan bawah (paru-paru) sehingga menyebabkan gangguan pernafasan dan komplikasi pada manusia.

Virus corona baru atau 2019-nCoV ini memiliki gejala yang sama dengan SARS-CoV dan MERS-CoV. Sayangnya, saat ini belum ada vaksin atau antivirus untuk mematikan coronavirus.

Mahasiswi Klaten Terisolasi di Apartemen Wuhan China, Andalkan Isi Kulkas

Menurut ketiga peneliti ini, SARS dan MERS merupakan penyakit virus zoonotic, artinya pasien pertama terinfeksi langsung dari hewan. Hal ini dimungkinkan karena virus ini mengalami sejumlah mutasi gen ketika menginfeksi tubuh manusia.

Kini, virus itu telah mampu menular dari manusia ke manusia. Hasil studi menunjukkan, sumber SARS-CoV dan MERS-CoV adalah kelelawar, luwak, dan unta.

Dalam kasus 2019, muncul laporan bahwa kelompok pasien pertama yang masuk rumah sakit adalah para pekerja dan pelanggan pasar grosir seafood. Pasar itu juga memproses daging dan hewan hidup seperti ternak, keledai, domba, babi, unta, serigala, musang, tikus bambu, landak, dan reptil.

"Sejak tidak ada laporan temuan coronavirus menginfeksi hewan air, maka yang paling masuk akal adalah coronavirus mungkin berasal dari hewan lain [selain hewan air] yang dijual di pasar itu," tulis ketiga profesor tersebut.

Kelelawar - Ular - Manusia

Hipotesis tentang sumber coronavirus ini juga terlontar dalam edisi terbaru Jurnal of Medical Virologi. Para peneliti membuat analisis dan membandingkan jaringan genetik 2019-nCoV dan coronavirus yang lain.

Studi tersebut mengungkapkan virus baru ini paling terkait dengan kelelawar seperti SARS dan MERS. Kelelawar menjadi salah satu terduga sumber 2019-nCoV atau corona baru. Jika benar sumbernya adalah kelelawar, virus dari kelelawar diduga telah bermutasi sebelum menginfeksi manusia.

"Tapi jika peneliti menunjukkan lebih detail tentang analisis bioinformatik dari 2019-nCoV, hal itu akan menunjukkan coronavirus bisa datang dari ular," bunyi artikel tersebut.

Korban Jiwa Akibat Virus Corona di China Bertambah Jadi 41 Orang

Peneliti menggunakan analisis kode protein virus corona baru dan membandingkannya dengan coronavirus dari berbagai hewan seperti burung, ular, marmot, landak, kelelawar, dan manusia. Hasilnya, mereka menemukan kode protein dalam 2019-nCoV atau virus corona baru paling mirip dengan yang berasal dari ular.

Ketiga ilmuwan Pittsburg ini mengaitkan perilaku ular di alam bebas yang sering memangsa kelelawar. Hal itu sejalan dengan temuan banyaknya ular yang dijual di pasar seafood di Wuhan, China.

Karena itu, dugaan saat ini adalah 2019-nCoV menyebar dari kelelawar ke ular, lalu ke manusia. Inilah yang menjadi awal penularan wabah virus corona baru.

"Namun bagaimana virus dapat beradaptasi dalam kedua hewan berdarah dingin [kelelawar dan ular] dan makhluk berdarah panas [mamalia dan manusia] masih menjadi misteri," tulis ketiga ilmuwan tersebut.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten