Nyamuk jenis Aedes Aegypti inilah yang menyebarkan penyakit chikungunya lewat gigitan pada manusia. (JIBI/Solopos/Dok.)

Solopos.com, WONOGIRI--Sedikitnya delapan orang warga RT 003/RW 001 Lingkungan Kerdukepik, Kelurahan Giripurwo, Kecamatan Wonogiri, terjangkit cikungunya.
Lurah Giripurwo, Tumino, saat ditemui solopos.com, di kantornya, Rabu (23/10/2013), mengatakan delapan orang warga RT 003/RW 001 Lingkungan Kerdukepik itu terkena cikungunya sejak sepekan lalu. Sampai saat ini, masih ada beberapa korban yang dirawat di rumah sakit di kawasan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.

"Iya kabarnya begitu. Ada delapan orang satu RT. Ada siapa itu namanya, yang sampai sekarang masih di rumah sakit," ungkap Tumino.

Menurut Tumino, Lingkungan Kerdukepik yang menjadi tempat tinggal delapan korban cikungunya itu termasuk padat, nyaris tidak ada pekarangan kosong. Walau demikian, daerah itu terbilang bersih, kendati dekat dengan area hutan milik Perhutani.

Kejadian cikungunya, langsung disikapi pihak kelurahan dengan menggencarkan kerja bakti untuk membersihkan lingkungan.

"Sebenarnya, setiap hari Minggu kami sudah ajak warga kerja bakti. Apalagi menghadapi penilaian Adipura awal November mendatang. Dengan kejadian ini akan kami gencarkan lagi," ujar Tumino.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Suprio Heriyanto, mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Wonogiri, Widodo, mengatakan pihaknya belum menerima laporan kejadian cikungunya di Kerdukepik tersebut. Dia menduga lantaran kejadian belum lama, laporan dari petugas lapangan belum masuk ke bidangnya.

Kendati demikian, Suprio tak menampik kejadian cikungunya mulai bermunculan seiring terjadinya beberapa kali hujan. Selama bulan September hingga Oktober ini saja ada belasan warga di Kecamatan Eromoko yang terjangkiti cikungunya.

ejadian tersebut menimpa warga di satu kompleks pemukiman atau RT, lalu menyebar ke kompleks pemukiman lainnya. "Di Eromoko itu ada tiga kejadian di tiga tempat berbeda tapi masih satu desa. Ada yang korbannya empat orang, ada lima orang, ada enam orang. Rata-rata kena penyakit ini dua pekan, tapi ada yang sampai sebulan," beber Suprio.

Dia menambahkan merebaknya kasus cikungunya besar kemungkinan merupakan akibat warga mengabaikan kebersihan tempat penampungan air selama kemarau. Pasalnya, air dianggap warga sebagai barang berharga yang tidak boleh dibuang-buang begitu saja. Kemudian, ketika hujan mulai turun, cikungunya mulai berkembang dan menjangkiti warga. Kondisi itu, sebutnya, berpotensi terus meningkat selama November-Desember, dan memuncak pada Januari tahun depan.

Di singgung mengenai kasus cikungunya di Kerdukepik, Suprio memastikan pihaknya tidak akan melakukan fogging di kawasan tersebut. Alasannya, nyamuk penyebab cikungunya lebih banyak tersebar di luar ruangan sehingga fogging tidak efektif. Lagi pula, biaya fogging mahal, padahal anggaran untuk keperluan fogging di Pemkab tinggal sekitar Rp20 juta.

"Tinggal Rp20 juta, padahal masih sampai akhir tahun. Jadi kami harus hemat. Yang di Kerdukepik kami sarankan untuk menggalakkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk atau PSN," ungkapnya.

Mulai bermunculannya kejadian cikungunya menambah daftar penyakit tersebut sepanjang tahun ini. DKK Wonogiri mencatat ada 389 orang yang terkena cikungunya sejak awal 2013. Jumlah itu jauh lebih tinggi daripada kejadian serupa tahun 2012, yang hanya sekitar 200 orang.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten