Volume Gunung Anak Krakatau Susut 60%, Apa Dampaknya?
Letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Banten, Senin (10/12/2018). Sejak Jumat (7/12/218) hingga Minggu (9/12/2018), terjadi 204 letusan awan hitam setinggi 150-300 meter dengan durasi 31-72 detik diiringi 22 kali gempa vulkanik. (Antara-Weli Ayu Rejeki)

Solopos.com, PANDEGLANG -- Volume Gunung Anak Krakatau (GAK) di Perairan Selat Sunda Banten mengalami penyusutan antara 150 sampai 180 juta meter kubik akibat erupsi dan kegempaan vulkanik selama beberapa pekan lalu.

"Penyusutan volume itu sampai 60 persen atau dua per tiga dari volume awal," kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Gerakan Tanah (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agus Solihin saat dihubungi Antara di Pandeglang, Minggu (30/12/2018).

Selama ini, kondisi gunung mengalami penyusutan volume sehingga tubuh gunung menurun. Berdasarkan analisis visual, Anak Krakatau yang semula tingginya 338 meter,namun kini terkikis menjadi 110 meter.

Selain itu, ketinggian Gunung Anak Krakatau menjadi lebih rendah dibandingkan Pulau Sertung. Tinggi Pulau Sertung hingga kini mencapai 182 meter, sehingga Anak Krakatau lebih rendah menjadi 110 meter.

"Kami berharap menyusutnya volume gunung itu tidak menimbulkan tsunami," katanya.

Ia menjelaskan, penyusutan volume Anak Krakatau itu hingga 180 juta kubik dipastikan menyisakan antara 40 sampai 70 juta meter kubik. Bahkan, kondisi Gunung Anak Krakatau kini tinggal dua per tiga dari volume semula akibat tingginya erupsi dan letusan itu.

Saat ini, status Gunung Anak Krakatau Siaga atau Level III dan masyarakat tidak boleh mendekati gunung tersebut dalam radius lima kilometer. Selain itu juga masyarakat agar menyiapkan masker,apabila terjadi hujan abu.

Tiupan angin bergerak ke arah timur laut dengan ketinggian asap 1.000 meter. "Kami berharap adanya penyusutan volume gunung bisa ditetapkan status kembali normal," katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom