Tutup Iklan
Xanana Gusmao saat menjenguk BJ Habibie di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Juli 2019 lalu. (Twitter @KatolikG)

Solopos.com, SOLO -- Sebuah momen mengharukan terekam dan ditunjukkan dalam sebuah video saat Presiden Ke-3 Republik Indonesia (RI) Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto pada Juli 2019 lalu. Dalam video itu, Habibie yang sedang berbaring berpelukan erat dengan mantan pemimpin Timor Leste Xanana Gusmao.

Pertemuan kedua tokoh tersebut menyiratkan keharuan yang mendalam. Mereka berbincang dengan ekspresi mendalam, lalu Xanana memeluk Habibie dengan erat dan mengecup keningnya. Habibie pun membalas pelukan sahabatnya itu dengan memberikan pelukan yang tak kalah erat.

Video tersebut diunggah di akun Twitter Katolik Garis Lucu, @KatolikG, Kamis (12/9/2019). Hingga Kamis malam pukul 20.00 WIB, video tersebut telah di-retweet 20.600 kali dan mendapatkan 42.300 like.

"Xanana Gusmao saat menjenguk BJ Habibie..penuh haru dan penuh rasa kemanusiaan..Tisu mana tisu...," kicau pengguna akun tersebut.

Hubungan kedua tokoh memang tak hanya sekadar dekat, tapi juga penuh latar belakang kemanusiaan. Semasa masih dalam pendudukan Indonesia, Xanana Gusmao adalah pemimpin kemerdekaan Timor Leste. Sedangkan Habibie adalah salah satu tokoh di dalam pemerintahan Indonesia, sempat menjadi Wakil Presiden hingga menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto pada 1998.

Dalam sejarah Timor Leste (dulu Timor Timur), keputusan Presiden Habibie menggelar referendum pada 1999 merupakan pintu gerbang masa depan negara tersebut. Referendum itu sekaligus mengakhiri penguasaan Indonesia atas Timor Timur sejak invasi militer atau Operasi Seroja pada 7 Desember 1975.

Saat menjabat sebagai Presiden RI setelah tumbangnya Orde Baru, Habibie membuka wacana untuk memberikan pilihan demokratis bagi rakyat Timor Timur. Apakah mereka ingin tetap menjadi bagian dari Indonesia atau tidak.

Pembicaraan pun dilakukan dengan PBB yang kemudian menggelar pertemuan antara Indonesia dengan Portugal yang dulunya berkuasa di Timor Timur. Pada akhirnya, pertemuan pada 5 Mei 1999 menghasilkan Persetujuan antara RI dan Portugal tentang Masalah Timor Timur yang membahas tentang referendum.

Melalui referendum, rakyat Timor Timur diberi pilihan apakah ingin tetap menjadi bagian dari Indonesia dengan status Daerah Otonomi Khusus atau berpisah dari Indonesia. Referendum yang dipantau oleh United Nations Mission in East Timor (Unamet), misi PBB untuk masalah Timor Timur itu digelar pada 30 Agustus 1999. Hasilnya, 94.388 suara (21,50 %) menyatakan menerima status otonomi khusus Timor Timor dalam NKRI, sedangkan 344.580 suara (78,50%) menyatakan menolak otonomi khusus dan memilih merdeka.

Selama era pendudukan Indonesia di Timor Timur, Xanana Gusmao adalah tokoh pemimpin kemerdekaan. Dia sempat memimpin Fretilin sebelum meninggalkan kelompok tersebut karena kian terdesak dan konflik internal. Xanana pun membangun kekuatan dan mulai melakukan gerakan diplomatik. Misalnya dia berbicara kepada media internasional tentang kasus berdarah di Santa Cruz 12 November 1991.

Xanana kemudian ditangkap pada November 1992 lalu dijatuhi hukuman penjara pada Mei 1993 dengan tuduhan pemberontakan, kepemilikan senjata, hingga separatisme. Xanana baru bebas pada akhir 1999 atau setelah referendum Timor Timur.

Xanana terpilih menjadi Presiden Timor Leste untuk periode 2002-2007. Kemudian dia kembali memimpin Timor Leste sebagai Perdana Menteri untuk periode 2007-2015. Pascakemerdekaan Timor Leste, hubungan dengan Indonesia justru sangat baik ditandai kunjungan para pemimpin kedua negara.

Avatar
Editor:
Adib M Asfar

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten