Pemain Argentina merayakan gol Sergio Aguero ke gawang Qatar dalam pertandingan penyisihan Copa America 2019 di Arena do Gremio, Porto Alegre, Rio Grande do Sul, Brasil, Senin (24/6/2019) dini hari WIB. (Reuters-Henry Romero)

Solopos.com, RIO DE JANEIRO — Estadio Jornalista Mario Filho bukanlah stadion yang bersahabat bagi Timnas Argentina. Lima tahun lalu, Lionel Messi dkk. harus menitikkan air mata di stadion yang lebih akrab disebut Maracana itu saat mereka dibekuk Jerman di final Piala Dunia 2014. Satu gol Mario Gotze sudah cukup untuk menghancurkan impian Argentina meraih trofi Piala Dunia pertamanya sejak 1986.

Sejak kekalahan menyakitkan itu, Argentina seperti sulit beranjak dari nasib sial. Pada final Copa America 2015 dan 2016 mereka kalah secara beruntun dari Chile. Langkah Albicelsete bahkan harus terhenti di babak 16 besar Piala Dunia 2018 setelah kalah 3-4 dari Prancis.

Kini Argentina harus kembali ke Maracana, stadion yang menjadi kuburan mereka lima tahun silam, saat melawan Venezuela dalam babak perempat final Copa America 2019, Sabtu (27/6/2019) dini hari WIB.

Venezuela memang bukan tim yang memiliki tradisi bagus di turnamen bergengsi Amerika Latin tersebut. Bersama Ekuador, Venezuela menjadi negara yang belum pernah sekalipun menjuarai Copa America. Prestasi terbaik La Vinotinto hanyalah peringkat keempat saat turnamen itu digelar di Argentina tahun 2011. Namun di bawah Pelatih Rafael Dudamel, Venezuela perlahan tumbuh menjadi tim alot yang sulit dikalahkan.

Hal itu dibuktikan dengan catatan tak terkalahkan di fase grup yang diisi rival macam Peru, Brasil dan Bolivia. Roberto Firmino dkk. bahkan sukses ditahan imbang tanpa gol oleh Kolombia di laga kedua penyisihan. Capaian tersebut tentu sudah cukup untuk memperingatkan Argentina agar tak jemawa di Maracana.

“Kami harus menciptakan gol, harus hati-hati sekali, untuk menghindari munculnya kejutan,” ujar kiper Argentina, Franco Armani, Kamis (27/6/2019).

Lini belakang Argentina yang sudah kebobolan tiga gol di fase grup jelas perlu mewaspadai Darwin Machis. Striker Venezuela itu tengah on fire seusai mencetak dua gol saat timnya membekuk Bolivia dengan skor 3-1. Penyerang Newcastle United, Salomon Rondon, juga bisa menjadi ancaman karena memiliki manuver dan penguasaan bola yang baik.

Beruntung moral Albiceleste mulai meningkat seusai kemenangan 2-0 atas Qatar di fase grup lalu. Masalahnya, tim asuhan Lionel Scaloni itu dianggap belum mampu bermain secara kolektif. Hal ini bisa berbahaya karena Argentina tidak pernah bisa mengalahkan Venezuela dalam tiga pertemuan terakhir mereka.

Tim Tango bahkan pernah kalah 1-3 ketika kedua tim bertemu di Madrid dalam laga persahabatan Maret lalu. Kapten Venezuela, Tomas Rincon, menegaskan timnya tak gentar dengan nama besar Argentina, tim yang telah menjuarai 14 edisi Copa America.

“Yang penting saat ini adalah kerja tim, bagaimana Anda bermain sebagai tim. Kami menghormati semua orang, tetapi kami tidak takut siapa pun.” 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten