Vaksinasi di Boyolali Masuk Yang Tertinggi di Jateng, Sukoharjo yang Terendah
Tenaga kesehatan di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali mengikuti vaksinasi Covid-19 tahap pertama, Senin (25/1/2021). (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)

Solopos.com, SEMARANG -- Pemprov Jateng mengklaim proses vaksinasi kedua di Jawa Tengah (Jateng) menjadi yang tercepat secara nasional. Peran aktif pemerintah kabupaten dan kota memberikan kontribusi besar.

"Penyuntikan kedua itu, karena jadwal saja yang tidak bisa dipercepat. Tapi kita sudah luar biasa. Penyuntikan kedua sudah 69%, itu tertinggi di Indonesia. Rata-rata di Indonesia hanya 29%," ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, Yulianto Prabowo, seusai rapat penanganan Covid-19 di Kantor Gubernur Jateng, Senin (15/2/2021).

Yulianto menambahkan dari 35 kabupaten dan kota ada lima yang tergolong tinggi proses vaksinasinya. Kelima daerah itu yakni Wonosobo 87,5%, lalu Kota Pekalongan, Boyolali, Salatiga, dan Kabupaten Semarang. "Sedangkan yang masih rendah itu Sukoharjo, yakni 41,6%," ujarnya.

Baca juga: DKK Sukoharjo Data Vaksin Covid-19 Petugas Pelayanan Publik, Apa Gunanya?

Dia mengatakan tingkat vaksinasi yang tinggi memberikan dampak positif. Yulianto mencontohkan turunnya kasus Covid-19 pada kelompok tenaga kesehatan (nakes) setelah vaksinasi. “Sebelumnya itu rata-rata tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif Covid dalam sepekan bisa mencapai 250-300 orang. Tapi setelah vaksinasi, itu menurun. Bahkan pekan terakhir, sepekan ini hanya 27 orang," tuturnya.

Ia mengaku masih ada nakes yang belum mendapatkan vaksin karena memiliki komorbid atau penyakit bawaan. Namun karena sekarang ada kebijakan baru, diharapkan akan semakin banyak nakes yang menjalani vaksin.

Aturan Baru

Seperti diketahui, aturan baru pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dapat diberikan pada kelompok usia 60 tahun ke atas, komorbiditas, penyintas Covid-19 dan ibu menyusui dengan terlebih dahulu dilakukan anamnesa tambahan.

Baca juga: Ditangkap Satpol PP di Kawasan Terminal Lama Boyolali, Pengamen Langsung Pura-Pura Cacat

Sementara bagi komorbiditas dengan hipertensi dapat juga divaksinasi. Kecuali jika tekanan darahnya di atas 180/110 MmHg, dan pengukuran tekanan darah sebaiknya dilakukan sebelum menjalani screening.

Kemudian bagi komorbiditas penderita diabetes tetap dapat divaksinasi sepanjang belum ada komplikasi akut. Sedangkan bagi penyintas kanker dapat tetap diberikan vaksin.

"Untuk nakes yang belum divaksin sekitar 15%. Kebanyakan karena memiliki kriteria eksklusi seperti lansia, punya komorbiditas hipertensi, diabetes, atau lainnya."



Berita Terkini Lainnya








Kolom