Kategori: Nasional

Ahli Patologi Klinik: Vaksinasi Covid-19 saat Puasa Aman


Solopos.com/Cahyadi Kurniawan

Solopos.com, JAKARTA—Vaksinasi Covid-19 saat berpuasa tidak membatalkan serta tidak membahayakan kesehatan alias aman. Sejumlah orang menceritakan rasa kantuk dan mual seusai vaksinasi saat puasa. Meski demikian, vaksinasi tidak berdampak negatif terhadap kesehatan mereka.

Ahli Patologi Klinik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Tonang Dwi Ardiyanto, menceritakan vaksinasi saat berpuasa bukanlah hal baru. Seseorang yang menjalani umrah pada Ramadan juga bakal menjalani vaksinasi dengan metode sama.

Seusai vaksinasi, reaksi yang timbul beragam, mulai dari nyeri di sekitar lokasi penyuntikan, sangat lapar, atau sangat mengantuk. Tonang merasakan mengantuk luar biasa seusai vaksinasi Covid-19 saat puasa, beberapa waktu lalu. “Antara puasa dan tidak puasa, sama persiapannya. Istirahat yang cukup, tenang, sahur cukup, ikuti prosedur, dan setelah selesai segera pulang, istirahat. Kita berharap tidak terjadi masalah. Kalau ngantuk sekali, lapar sekali, ini alamiah. Bukan sesuatu kesengajaan. Suntik saat puasa tidak menimbulkan masalah besar,” kata Tonang dalam talkshow virtual bertajuk Vaksin Aman saat Puasa yang digelar Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN), Selasa (13/4/2021).

Minum Air Putih

Ketua Bidang Fatwa MUI, Asrorun Ni’am Soleh, merasakan hal berbeda. Ni’am mengikuti vaksinasi saat berpuasa. Vaksinasi berjalan lancar. Namun, ia merasakan mual. Ia lalu berkonsultasi dengan dokter. Dokter menyarankan agar Ni’am banyak minum air. Ia pun minum.

“Dalam situasi seperti ini sama seperti orang terpapar Covid, tidak serta merta boleh atau tak boleh berpuasa. Harus dilihat kondisi faktualnya,” ujar dia. Menurut Ni’am, vaksinasi mendorong terwujudnya herd immunity atau kekebalan kelompok terhadap Covid-19. Jadi vaksinasi bukan hanya sebagai tanggung jawab manusia sebagai makhluk sosial, melainkan juga makhluk beragama.

Vaksinasi dengan model injeksi tidak membatalkan puasa. Namun, perlu dilihat sejauh mana ketahanan fisik seseorang sebelum menerima vaksin. Skrining penting berdasarkan penilaian tenaga kesehatan, apakah seseorang laik menerima vaksin saat puasa atau sebaliknya.

Malam Hari

“Teknisnya melihat kondisi faktual calon peserta vaksinasi dan vaksinator. Bisa juga vaksinasi pada malam hari, misalnya, karena kondisinya tidak layak, tensinya turun pada saat siang hari. Saat skrining, enggak mungkin kondisi fisik lemah terus harus vaksinasi,” ujar dia.

Peran ustaz, lanjut Ni’am, penting untuk mendorong cakupan vaksinasi selama Ramadan. Ramadan menjadi instrumen keagamaan yang mendorong masyarakat muslim meningkatkan kedisiplinan mereka. Peran ustaz bisa maksimal dalam menyosialisasikan vaksinasi kepada muslim.

“Ramadan ini sebagai sarana efektif melatih disiplin. Pengejawantahannya adalah disiplin mencuci tangan dan memakai masker. Wabah tidak menghalangi ibadah. Ibadah yang beradaptasi menghadapi wabah,” kata Ni’am.

Share
Dipublikasikan oleh
Ayu Prawitasari