Ilustrasi menghitung uang rupiah. (Bisnis-Dwi Prasetya)

<p><strong>Solopos.com, JAKARTA</strong> -- Rasio utang Indonesia masih berada jauh di bawah negara-negara kelas menengah dunia. IMF mencatat, beban utang emerging market hampir mencapai 50% dari PDB. Sementara Kementerian Keuangan Indonesia mencatat tingkat utang terhadap PDB Indonesia hanya 28,7% terhadap PDB.</p><p>Ekonom INDEF Bhima Yushistira menilai, kendati rasio <a href="http://news.solopos.com/read/20180413/496/910263/peringkat-naik-pemerintah-utang-indonesia-kredibel-bukan-bangkrut" target="_blank">utang Indonesia</a> masih jauh di bawah rata-rata utang negara kelas menengah dunia, resiko yang dibawanya perlu diwaspadai.</p><p>"Di antaranya adalah efek pengetatan moneter global dan instabilitas geopolitik, yang dapat membuat investor asing mencari aset yang lebih aman dan menimbulkan keluarnya arus modal dari negara berkembang [termasuk Indonesia]," ujar Bhima, Kamis (19/4/2018).</p><p>Dengan melihat resiko eksternal tersebut, Bhima menambahkan pemerintah harus segera melakukan mitigasi resiko. "Utang pemerintah yang naik cukup signifikan dalam 3 tahun terakhir lebih disebabkan oleh alokasi belanja barang, belanja infrastruktur, dan belanja pegawai yang menjadi lebih besar," katanya.</p><p>Dia memaparkan, hal tersebut memperlihatkan bahwa tidak semua utang untuk belanja pemerintah ini digunakan untuk pengeluaran yang produktif. Oleh karena itu, pemerintah harus lebih berhati-hati, karena menurutnya di sisi lain pertumbuhan PDB Indonesia hanya 5% dalam rata-rata 3 tahun terakhir.</p><p>"Nominal utang naik signifikan tetapi tingkat PDB stagnan membuat rasio utang terus meningkat dan tidak produktif," tuturnya.</p><p>Adapun Bhima mengacungi jempol solusi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk merasionalisasikan proyek infrastruktur. Selanjutnya, Bhima menyarankan agar pemerintah melakukan penyusunan anggaran prioritas, misalnya mengurangi transfer untuk daerah jika serapan Pemda masih rendah dan mengevaluasi belanja pegawai pemerintah.</p><p>"Selain itu rasio pajaknya harus naik di atas 11% karena beban <a href="http://news.solopos.com/read/20180413/496/910247/moodys-naikkan-peringkat-utang-indonesia-dinilai-aman" target="_blank">kewajiban utang</a> makin berat. Tahun lalu lebih dari Rp470 triliun habis untuk bayar cicilan pokok dan bunga utang atau setara 31% dari penerimaan pajak," paparnya.</p>


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten