Calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan berdialog dengan petani kopi di Temanggung, Jateng, Senin (24/9/2018). (Antara-Heru Suyitno)

Solopos.com, JAKARTA -- Pertemuan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (25/4/2019), rupanya punya makna. Wakil Ketua Umum PAN Bara Hasibuan mengatakan partainya akan menentukan arah dukungannya pasca-Pemilu 2019.

"Yang jelas kita kan akan melihat posisi kita lagi ya. Kan pemilihan presiden sudah selesai, ya jadi kita lihat nanti ke depannya bagaimana," kata Bara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (25/4/2019), dilansir Liputan6.com.

Bara belum bisa memastikan apakah PAN akan bergabung dalam koalisi Jokowi. Meski begitu, Bara menilai pertemuan itu menunjukan sikap negarawan pada Zulkifli.

"Yang penting mereka bertemu dulu dan itu menunjukan sikap kenegarawanan. Ke depannya bagaimana, apakah akan ada repositioning, nanti kita lihat," ungkap dia.

Selain itu, pertemuan Zulkifli dan Jokowi juga dinilai Bara memiliki nuansa positif. Serta membawa suasana yang baik pasca-Pemilu 2019. "Saya pikir kuncinya di situ. Dengan begitu kita lagi-lagi membutuhkan sikap kenegarawanan, kemampuan dari semua pihak disini, bukan hanya kedua capres tapi juga para pendukungnya untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan segala-segalanya," ucap dia.

Sebelumnya, Presiden Jokowi tampak berbincang dengan Zulkifli Hasan usai pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku di Istana Negara Jakarta, Rabu 24 April 2019. Tak hanya berdua, dalam perbincangan itu ada pula Ketum Partai Nasdem Surya Paloh dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto.

Perbincangan diawali dari Jokowi yang berjalan menuju meja bundar di tengah Istana Negara usai mengucapkan selamat kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku, Murad Ismail dan Barnabas Orno.

Zulkifli, Jokowi, dan Surya Paloh

Selang beberapa menit, Zulkifli menyusul bersama Surya Paloh. Dia duduk di sisi kanan, sementara Paloh di sisi kiri Jokowi. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu tampak menyampaikan sesuatu kepada Zulkifli. Sesekali wajah calon presiden petahana itu tersenyum.

Setelah berbincang dengan Jokowi dan sejumlah elite politik, Ketum PAN ini mengaku membahas beberapa hal, salah satunya persoalan pemilihan umum (Pemilu) 2019.

Zulkifli Hasan mengakui bahwa masa kampanye dalam Pemilu Presiden (Pilpres) dan Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 selama 8 bulan sangat menguras energi. "Kita mengatakan pemilu ini terlalu lama, menghabiskan energi, nanti harus mengubah undang-undangnya agar pemilu itu ya 1,5 bulan. Masa 'berantem' disuruh undang-undang sampai 8 bulan," kata Zulkifli seperti dilansir Antara.

PAN yang dipimpin Zulkifli merupakan salah satu partai pendukung calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. "Kalau silaturahim kan pasti banyak yang kita bicarakan, soal pemilu terlalu lama sampai 8 bulan, habis energi," tambah Zulkifli.

Masa kampanye pemilu berlangsung mulai 23 September 2018 sampai 13 April 2019. Zulkifli sendiri adalah calon anggota legislatif (caleg) dari daerah pemilihan Lampung. Senada dengan Zulkifli, Hasto Kritiyanto juga mengakui bahwa kampanye 8 bulan untuk pemilihan serentak itu melelahkan.

"Pak Zul juga banyak menyampaikan pengalamannya dalam kampanye 8 bulan yang melelahkan tersebut, tapi intinya bagaimana kita sebagai bangsa bersatu mengutamakan kepentingan umum dan 8 bulan sudah terlalu panjang untuk berkontestasi, saatnya semua berpikir tentang rekonsiliasi untuk bangsa dan negara," ujar Hasto.

Apalagi masa kampanye itu banyak diwarnai dengan berita bohong (hoaks) dan fitnah. "Setelah pelantikan Pak Murad dan Pak Barnabas, Presiden Jokowi dengan Pak Surya Paloh, Pak Zul dan saya. Jelas suasananya akrab tapi semua merasa lelah dengan 8 bulan kampanye dengan kontestasi yang sering kali diwarnai ide-ide yang begitu tajam karena hoaks dan fitnah," tambah Hasto.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten