Upacara Adat Mahesa Lawung di Keraton Solo Digelar 2 Kali Dalam Sehari
Abdi dalem membawa sesajen dari Kori Kamandungan menuju Sitihinggil pada tradisi Wilujengan Nagari Mahesa Lawung Wawu 1953 di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kamis (26/12/2019). (Solopos/M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO -- Upacara adat Wilujengan Nagari Mahesa Lawung di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat digelar dua kali dalam sehari, Kamis (26/12/2019). Keduanya di lokasi yang sama yakni Sitihinggil Kompleks Keraton Solo.

Namun, kedua upacara yang diinisiasi dua kubu keraton itu digelar bergiliran dengan selang empat jam. Kubu Paku Buwono (PB) XIII menggelar upacara itu lebih dulu pada pagi hari. Upacara ini dipimpin G.P.H. Dipo Kusumo sebagai Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Selanjutnya pada Kamis siang giliran kubu Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo yang menggelar acara serupa dipimpin Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo, G.K.R. Wandansari Koes Moertiyah.

Pantauan Solopos.com, Kamis siang, kain kafan putih menjadi penutup kepala kerbau dan jerohannya. Puluhan abdi dalem berbeskap hitam dan sentana darah dalem berbusana beskap putih mengelilingi sesaji itu.

Potret Toleransi di Taman Doa Ngrawoh Sragen Bikin Pengamat Musik Ternama Ini Kagum

Satu per satu doa dilangitkan. Prosesi rutin tahunan tersebut memiliki upacara inti yakni penanaman kepala kerbau. Ritual kuno yang konon sudah ada sejak era Mataram Hindu ini digelar setiap bulan bakda Mulud pada hari Senin atau Kamis menurut perhitungan kalender Jawa.

Setelah didoakan di Sitihinggil, kepala kerbau berikut jerohannya ditanam di pepohonan Alas Krendowahono, Gondangrejo, Karanganyar. Seperti semua ritual dalam tradisi Jawa, Wilujengan Nagari Mahesa Lawung juga sarat simbolisme.

Dalam masyarakat Jawa, hewan kerbau sering digunakan untuk melambangkan kebodohan. Dengan mengubur kepala kerbau, Keraton ingin menyampaikan bahwa orang Jawa harus bisa memendam kebodohannya.

Uji Coba KA Bandara Solo, Stasiun Kadipiro-Adi Soemarmo 12 Menit

Dipilihnya hutan Krendowahono untuk mengubur kepala kerbau karena Keraton berada di tengah empat unsur (pancer). Sebelah utara hutan Krendowahono, sebelah timur Gunung Lawu, sebelah selatan Laut Selatan, dan sebelah barat Gunung Merapi.

Upacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung ditutup dengan kenduri bersama. “Ditanamnya kepala kerbau merupakan perlambang, semoga segala masalah yang membelit Keraton seperti konflik antarsaudara dapat selesai. Keraton dapat bersinar sehingga pamornya kembali,” ucap Gusti Moeng, sapaan akrab G.K.R. Wandansari kepada wartawan, Kamis.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho