Unilever Selandia Baru Mulai Uji Coba Empat Hari Kerja Sepekan
Ilustrasi Logo Unilever. (Reuters)

Solopos.com, WELLINGTON — Perusahaan barang konsumen Unilever Selandia Baru akan melakukan uji coba empat hari kerja dalam seminggu. Walaupun kerja empat hari, 81 karyawan perusahaan itu tetap menerima gaji lima hari kerja. Percobaan ini akan berlaku selama 12 bulan.

Pengin Coba Es ABC Upin-Ipin, Cewek Ini Langsung Terbang ke Malaysia

Dilansir Reuters, Selasa (1/12/2020), perusahaan raksasa produk konsumen Unilever memberikan pernyataan pada Selasa (1/12/2020), bahwa pihaknya siap untuk mencoba kerja empat hari seminggu untuk semua karyawan Selandia Baru.

Unilever mengatakan semua 81 anggota staf di Selandia Baru dapat berpartisipasi dalam uji coba tersebut. Uji coba empat hari kerja ini akan dimulai pada minggu depan dan akan berlangsung selama 12 bulan, hingga Desember tahun depan.

Kerja 4 Hari Dibayar 5 Hari

Meski bekerja hanya empat hari, karyawan akan tetap dibayar selama lima hari. Managing Director Unilever Selandia Baru Nick Bang, mengatakan tujuannya dari uji coba tersebut untuk mengubah cara kerja yang dilakukan, bukan menambah jam kerja dalam empat hari.

Mirip Pisuhan, Penduduk Minta Nama Desanya Diganti

“Jika kami berakhir dalam situasi di mana tim bekerja empat hari diperpanjang maka kami kehilangan intinya,” katanya.

Nick Bang menambahkan bahwa Unilever tidak ingin memiliki tim yang memiliki hari-hari yang panjang. Tetapi uji coba tersebut untuk membawa perubahan materi dalam cara mereka bekerja.

Setelah 12 bulan, Unilever akan menilai hasil pemindahan dan melihat bagaimana hal itu dapat berhasil untuk 155.000 karyawannya secara global.

“Ini merupakan eksperimen. Kami tidak membuat komitmen lebih dari 12 bulan. Tapi kami pikir akan ada pembelajaran bagus yang bisa kita kumpulkan saat ini,” ujarnya.

Dibully Gara-Gara Berbeda, Pria Ini Diajak Ibunya Hidup di Hutan

Tak Ada Pabrik

Dilaporkan tidak ada manufaktur yang berjalan di Selandia Baru. Semua staf Unilever ada di bagain penjualan, distribusi, dan pemasaran.

Minggu kerja yang lebih pendek telah diperdebatkan di Selandia Baru. Firma perencanaan perkebunan Perpetual Guardian mempelopori gagasan tersebut, dan menyatakan telah melihat peningkatan produktivitas yang besar.

Ide tersebut mendapatkan momentum pada tahun ini, ketika Perdana Menteri Jacinda Ardern mendorong perusahaan untuk menawarkan sistem ini kepada karyawannya di tengah pandemi Covid-19. Perdana Menteri tersebut juga mengatakan sistem ini membantu meningkatkan pariwisata domestik sementara perbatasan internasional tetap ditutup.

Bongkar Rapor SD Tahun 1956 Milik Mbah Parti, Cucu Malah Ngakak

“Ketika perdana menteri membicarakannya dalam konteks seperti apa pekerjaan di masa depan, itu merupakan dorongan bagi kami," kata Nick Bang.

Namun, pemerintah Selandia Baru sendiri belum menerima gagasan itu di kantornya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom