Pemilik warung Nasi Thiwul Mbok Sembleng, Tukimin (menggoreng), menggoreng dagangan di rumahnya, Dusun Saratan RT 003/RW 005, Desa Sejati, Giriwoyo, Wonogiri, Sabtu (8/2/2020) malam. (Solopos/M. Aris Munandar)

Solopos.com, WONOGIRI -- Tiwul adalah kuliner berbahan dasar singkong yang khas Wonogiri. Makanan tradisional ini belakangan kian sulit dijumpai.

Di Giriwoyo, tepatnya di Dusun Saratan RT 003/RW 005, Desa Sejati, Giriwoyo, Wonogiri, ada satu warung yang terkenal dengan menu tiwulnya.

Uniknya, warung ini tidak setiap hari buka, hanya pada hari pasar tertentu yakni Kliwon dan Pon.

Bukanya pun tidak pada siang hari melainkan malam hari. Pemilik warung tersebut, Tukimin, menjelaskan tidak ada alasan khusus kenapa hanya membuka warungnya pada malam Kliwon dan Pon.

Pilkada Sukoharjo: Spanduk Etik-Agus Bertebaran, Ternyata Ini Pemasangnya

“Karena rumah saya ini jauh dari jalan utama, takut tidak laku kalau buka setiap hari, jadi saya khususkan saja harinya,” kata dia saat ditemui Solopos.com di rumah yang sekaligus menjadi lokasi warungnya, Sabtu (8/2/2020) malam.

Tukimin menjelaskan usaha warungnya berawal dari usaha jual gorengan milik orang tuanya. Lalu pada 1991 dia mulai menambah menu makanan khas Wonogiri di warungnya, yakni tiwul.

Sejak awal ia berjualan di rumahnya. Rumah Tukimin berada di tengah-tengah perkampungan, akses jalan menuju ke sana minim penerangan.

Keliling Solo Naik Chopper, Gibran Sebut Motor Jokowi Lembek

Jarak rumah dengan kantor Kecamatan Giriwoyo sekitar 2,5 kilometer. Sementara akses masuk jalan ke rumahnya dari Jalur Lintas Selatan (JLS) sekitar 700 meter.

Warung makan Tukimin dikenal dengan sebutan Nasi Thiwul Mbok Sembleng. “Sembleng itu sebenarnya nama Ibu saya. Saya generasi penerus ketiga. Kali pertama yang membuka warung gorengan mbah saya, Pontiko. Tetapi yang mulai membuka menu tiwul saya,” terang dia.

Saat ini menu yang disajikan yakni nasi tiwul, sambal bawang, ikan cuwik, lalapan, trancam, sayur terong, dan aneka gorengan.

Pilkada Solo: Puguh Jalani Fit & Proper Test di DPP PDIP Jakarta Senin Siang

Cara memasaknya pun masih sederhana, yakni memakai tungku pawon berbahan bakar kayu. Dalam satu bulan ia menghabiskan 8 kubik kayu bakar.

Warung yang ia gunakan untuk berjualan masih terbuat dari kayu. Lantainya dari batu ubin yang terbuat dari tanah.

Meskipun jauh dari keramaian dan desain warungnya masih tradisional, animo pembeli tinggi.

Bahaya! Motor dan Pejalan Kaki Masih Berseliweran di Area Proyek Flyover Purwosari Solo

Warung Thiwul Mbok Sembleng di Giriwoyo, Wonogiri, Sabtu (8/2/2020) malam. (Solopos/M/ Aris Munandar)
Warung Thiwul Mbok Sembleng di Giriwoyo, Wonogiri, Sabtu (8/2/2020) malam. (Solopos/M. Aris Munandar)

Pantauan Solopos.com di lokasi, pembeli yang datang kebanyakan bermobil.

Solo Great Sale: Ada Diskon Hingga 70% di SGM, Apa Saja Produknya?

“Pembelinya datang dari berbagai luar daerah biasanya, ada yang dari Pacitan, Sragen, Solo, Yogyakarta, dan lain-lain,” imbuh dia.

Dalam satu bulan ia menghabiskan 3 kuintal tepung gaplek. Setiap buka, ia bersama enam pegawainya bisa memasak tiwul 3-5 kali. Sekali masak menghabiskan 6-7 kilogram tepung gaplek.

Sementara itu, menu lauknya, yakni ikan cuwik, setiap hari habis 60 besek, setiap besek berisi empat ekor ikan.

Lagi Hamil, Peserta CPNS 2019 Ini Kontraksi Saat Tes SKD

“Saya mulai goreng ikan sejak pukul 09.00 WIB, kemudian dilanjutkan menggoreng gorengan seperti tempe, tahu, getuk, lentho, gendar, dan lain-lain. Saya selesai menggoreng pukul 23.00 WIB. Jadi dalam satu hari menghabiskan 20 liter minyak goreng,” beber dia.

Warung Nasi Thiwul Mbok Sembleng mulai buka pukul 16.00 WIB-24.00 WIB.

Hati-hati, Ini Bahaya Minum Air Panas!

Satu porsi makan seharga Rp35.000 terdiri atas satu ceting (wadah nasi) tiwul, satu lemper sambal bawang, lima ikan cuwik, dan satu piring lalapan.

Untuk menambah menu trancam, sayur terung, dan gorengan di luar harga tersebut.

Hindari Motor Ngerem Mendadak, Bus Mira Sosor Kios di Mendungan Kartasura

“Thiwul ini kan makanan khas Wonogiri, saya ingin menghidupkan kembali makanan tersebut. Pada saat itu sudah tidak ada warung yang menjual tiwul, akhirnya pada 1991 saya memulai membuat tiwul,” kata Tukimin.

Bagi Tukimin, bisa mempertahankan usaha hampir 30 tahun ini merupakan buah dari kesabaran dan keuletan serta mempertahankan kualitas tiwul itu sendiri.

Pendaftaran SNMPTN di Depan Mata, Ini Daftar Jurusan Kuliah Termurah

Naik Peringkat, UNS Solo Masuk 5 Besar Kampus Terbaik Se-Indonesia

Salah satu pembeli, warga Dusun Dawung, Desa Bumiharjo, Giriwoyo, Anisa, mengatakan ia sudah menjadi pelanggan warung tersebut sejak awal berdiri.

“Saat ini saya merantau di Jakarta, kebetulan ini pulang kampung. Setiap pulang kampung, saya pasti ke sini. Rasanya kurang lengkap kalau pulang kampung jika tidak mampir sini. Yang bikin nafsu makan itu sambal bawang dan trancamnya,” kata Anisa.

Lowongan Kerja Terbaru, Klik di Sini!

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten