Tutup Iklan
Pembicara di seminar pengelolaan sampah Rechta UMS Solo. (Istimewa)

Solopos.com, SUJOHARJO – Pengelolaan sampah menjadi pokok bahasan penting di era masa kini. Maklum saja, sampah merupakan masalah lingkungan yang sangat sulit dipecahkan.

Padahal, pemerintah mencanangkan gagasan Indonesia bebas sampah pada 2025. Oleh sebab itu, diskusi pengelolaan sampah menjadi hal menarik. Seperti digelar dalam seminar oleh Mahasiswa Hukum Pencinta Alam UMS Solo, 26 September 2019.

Dosen sekaligus pemateri seminar tersebut, Rizka, mengimbau mahasiwa memulai budaya hidup bersih dengan membuang sampah di tempatnya. "Hargai lingkungan karena mahasiswa merupakan agent of change," tuturnya dalam siaran pers yang diterima Solopos.com, Kamis (17/10/2019).

Rizka juga mengimbau mahasiswa mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan merokok untuk menjaga udara tetap bersih. "Larangan merokok ditempat umum sudah ada peraturan yang mengaturnya, tapi pada kenyataanya, kita nya sendiri yang masih bandel melakukan/melanggarnya," sambung Rizka.

Pemateri lain, Aminah, melihat ada potensi yang bisa dimanfaatkan dari sampah. Namun, dia amat prihatin banyaknya sampah yang justru mencemari laut Indonesia. "Indonesia sendiri merupakan negara terbesar kedua yang mempunyai sampah laut terbesar.

Kalau kita tahu, nantinya sampah-sampah tadi pastinya akan termakan oleh ikan, dan ikan tersebut pasti akan ditangkap dan dimakan oleh kita, yang nanti malah akan merugikan kita karena akan menyebabkan penyakit yang mematikan," terang dia.

Minimnya pengetahuan soal pengolahan sampah menjadi barang berguna menjadi alasan banyaknya limbah di lautan. Pihak terkait biasanya berpikir tempat penampungan sampah sudah tidak cukup hingga akhirnya dibuang ke lautan.

Hal itulah yang mendasari Rechta UMS Solo menggelar seminar bertajuk, Kebijakan dan Pengelolaan Sampah sebagai Bentuk Kepedulian Lingkungan untuk Mendukung Program Pemerintah Indonesia Bebas Sampah 2025.

"Harapannya setalah adanya seminar ini, kita semua bisa mengerti akan cara menjaga lingkungan, yang pada intinya dimulai dari diri kita sendiri. Seperti tidak menggunakan sedotan lagi saat membeli minuman, karena sedotan merupakan barang yang sulit terurai. Kalau langkah kecil tersebut, dilakukan oleh satu juta orang, maka dampaknya akan besar terhadap lingkungan," terang panitia seminar, Vira Alvi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten