UMR TINGGI: TPS Bakal Relokasi Pabrik Bihun dari Cilegon ke Sragen
Kegiatan pabrik Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food. (JIBI/SOLOPOS/Dok)
Kegiatan pabrik Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food. (JIBI/SOLOPOS/Dok)

SOLO -- Wacana relokasi pabrik dari kawasan Jabodatebek dan Serang ke Soloraya rupanya tidak hanya santer dari kalangan investor luar. PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food Tbk yang memiliki basis industri di Sragen juga tengah mengkaji relokasi satu pabrik makanan yang ada di Cilegon Jabar.

Pabrik makanan di Cilegon adalah hasil akuisisi PT TPS terhadap Subafood untuk produk makanan Bihun Jagung. “Setelah mengakuisisi Taro, tahun kemarin kami baru saja mengakuisisi Bihun Jagung milik Subafood. Dan saat ini kami sedang melakukan kajian agar pabrik di Cilegon itu pindah ke Sragen,” kata Direktur PT TPS, Budi Istanto, saat ditemui Solopos.com, di Sekretariat Hipmi Solo, Senin (25/3/2013).

Budi mengatakan, di Cilegon dia punya sekitar 300 orang karyawan dengan kapasitas produksi bihun jagung mencapai 2.000 ton per bulan. Sementara untuk memindahkan pabrik itu ke Sragen, saat ini PT TPS masih punya lahan sekitar 15 hektare.

Tak dipungkiri, salah satu alasan PT TPS memindahkan pabrik bihun jagung itu lantaran tingginya upah minimum regional (UMR) di wilayah Jabar.

“Itu hanya salah satu alasan saja. Tapi sebenarnya kami memang punya keinginan agar industri makanan kami ada di satu area, supaya pengawasannya lebih mudah.”

Sementara, untuk pabrik Taro di Bogor, rencana ekspansi bukan ke Soloraya melainkan ke Banjarmasin. Di pabrik Taro, TPS punya sekitar 500 karyawan. Dia menilai, dengan tetap di Bogor maka biaya untuk mendapatkan bahan baku lebih murah. “Dan di Banjarmasin nanti ekspansi hanya untuk penggorengan.”

Sebagai pelaku industri, Budi juga melihat kecenderungan saat ini wilayah Soloraya menjadi kawasan tujuan relokasi sejumlah pabrik dari Jabodetabek dan Serang. Dengan kenaikan UMR yang signifikan di kawasan tersebut, membuat pengusaha yang punya karyawan lebih dari 1.000 orang mulai memikirkan relokasi ke daerah dengan UMR lebih murah. Dia mengilustrasikan, di Soloraya rata-rata UMR berada di kisaran angka Rp900.000 per bulan. Sedangkan di Jabodetabek dan Serang mencapai Rp2,2 juta per bulan. Itu artinya, ada selisih biaya upah mencapai Rp1,3 juta per orang. Jika perusahaan itu punya 5.000 karyawan, maka satu bulan perusahaan semestinya bisa hemat Rp6 miliar, dan satu tahun mencapai Rp72 miliar.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho