UMKM SLEMAN : Usaha Keripik Belut, Raih Omzet Puluhan Juta
Wartiyem, 48, warga Klaci 2, Margoluwih, Seyegan, Sleman menunjukkan hasil produksinya. (Mayang Nova Lestari/Harian Jogja)

Awal mula sebagai distributor belut segar lantas membuat Warti bertemu banyak orang dan bertambah pengalaman serta pengetahuannya tentang belut.

Solopos.com, SLEMAN—Memulai usaha pembuatan keripik belut sejak 2002 lalu membuat Wartiyem, 48, warga Klaci 2, Margoluwih, Seyegan kini makin bersemangat menggeluti dunia usahanya. Tak hanya karena permintaan pasar yang semakin menggila namun juga karena banyak pengalaman yang membuatnya terus tertantang di bisnis yang cukup menjanjikan itu.

Perempuan berjilbab yang akrab disapa Warti tersebut awalnya sama sekali tak bersinggungan dengan dunia wirausaha kuliner. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai penjahit untuk menjajal terjun sebagai distributor belut pada tahun 2001. Dengan modal awal lima juta ditambah dengan sejumlah peralatan menjahit yang ia jual akhirnya ia dapat menggerakkan langkahnya.

“Untuk modal awal saya jual msin jahit dan mesin border saya untuk dagang belut,” kata dia, Selasa (14/3).

Awal mula sebagai distributor belut segar lantas membuat Warti bertemu banyak orang dan bertambah pengalaman serta pengetahuannya tentang belut. Ia mempelajari dunia usaha lebih dalam, kemudia ia menemukan cara agar usahanya dapat berkembang dan lebih menguntungkan tentunya. Mengolah belut menjadi keripik menjadi pilihan Wart, selain karena nilai jualnya lebih tinggi juga menurut Warti keripik belut banyak peminatnya.

Warti melanjutkan, ia terbilang menjadi salah satu pengusaha yang bermodal keberanian cukup besar. Diakuinya meski produk keripik belut yang berlabel ‘Citra Rasa’ itu banyak peminatnya, namun juga tak mudah bagi Warti untuk memertahankan keberadaan produknya tersebut.

Keberanian Warti dikatakannya yakni dalam upaya memasarkan keripik belutnya perlu upaya ekstra. Salah satunya yakni dengan giat mengikuti pameran di sejumlah wilayah di Indonesia demi mempromosikan keripik belut. Bagi Warti, mental yang baik niat serta kemauan harus berkembang besar dalam diri sendiri ketika memilih jalan untuk berwirausaha.

Di rumah produksinya yang berada di Seyegan kini dapat mengandeng 11 karyawan untuk memproduksi keripik belut. Ada sebanyak tiga kolam penampungan belut yang ia miiki dengan luas masing-masing berukuran 2x 1,5 meter. Pengiriman belut segar didatangkannya langsung dari sejumlah kota misalnya Lumajang, Malang, juga daerah di Jawa Barat. Setiap harinya produksi keripik belut terus dilakukan, hingga kini ia mampu memenuhi permintaan pasar dengan mengirimkan 75 kg hingga 100 kg per harinya.

Pemasaran pun telah merambah hingga ke sejumlah daerah di Indonesia bahkan luar negeri, seperti Jakarta, Bandung, Bali, Jateng dan sekitar, juga sampai ke Hongkong. Penjualan mayoritas dilakukannnya dengan pengirimna langsung dan online.

Warti mengatakan, bisnis keripik belut bukan sembarang bisnis. Ia berani mengatakan bahwa usaha tersebut merupakan usaha yang cukup menjanjikan. Lama kelamaan ia pun mulai memahami bahwa aneka olahan makanan dapat menjadi peluang bisnis. Akhirnya, untuk mengembangkan bisnis keripik, Warti mulai mencoba aneka bahan olahan keripik lainnya seperti keripik Teri, Paru, Bayam, Kenikir, Pare, juga tempe.

“Ternyata memang pasarnya bagus, namun belut yang paling banyak diminati,” kata dia.

Salah satu karyawan Wart sekaligus yang menjadi tangan kanan usaha yakni Ning. Ning mengatakan setiap bulannya, omzet yang diperoleh dari usaha keripik tersebut mencapai puluhan juta. Belum lagi apabila liburan menjelang.

“Pas hari-hari biasa omzet mencapai Rp45-50 juta. Sedangkan kalau liburan, saat lebaran misalnya bisa mencapai Rp75 juta,” kata dia.

Warti berharap, dengan berkembangnya bisnis keripik belutnya tersebut nantinya ia dapat mendirikan sebuah toko oleh-oleh khusus keripik belut. Sehingga konsumen dapat leluasa dalam mendapatkan keripik yang bercita rasa gurih tersebut.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom