Warga Dusun Senik, Bumirejo, Lendah telah memproduksi gerabah secara turun temurun sejak jaman nenek moyang. Gerabah di dusun ini disepuh dengan tanah merah di bagian akhir produksi sebagai ciri khasnya, Selasa (18/10/2016).(Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)

UMKM Kulonprogo menghasilkan gerabah yang diproduksi secara turun temurun.

Solopos.com, KULONPROGO -- Warga Dusun Senik, Bumirejo, Lendah memproduksi gerabah sebagai suatu profesi yang dilakukan secara turun temurun. Meski bentuknya mirip proses kerajinan di Kasongan, Bantul, pengerjaan gerabah Senik memiliki perbedaan.

Produsen gerabah Senik biasanya membuat tungku dengan beragam ukuran. Tukijo, Kepala Dusun Senik mengatakan terdapat sekitar 30 pengrajin gerabah di dusunnya. Setiap pengrajin mampu memproduksi 15 hingga 20 gerabah dalam berbagai ukuran per hari.

“Sudah turun temurun, tidak tahu dari tahun berapa,” jelasnya pada Selasa (18/10/2016).

Tukijo menguraikan bahan pembuatan gerabah diambil dari tanah lempung di sawah yang digemburkan. Tanah tersebut kemudian dicampur dengan pasir dengan cara diinjak-injak. Setelah tercampur, adonan tersebut kemudian dibentuk sesuai kebutuhan.

Gerabah yang sudah berbentuk ini kemudian dipalu supaya lebih padat untuk kemudian dijemur di bawah panas matahari. Setelah dijemur, permukaan gerabah dihaluskan dengan air dan kemudian dijemur kembali. Terakhir, gerabah dipoles dengan tanah merah baru kemudian dibakar.

Tjukio memaparkan polesan tanah merah ini yang menjadikan kerajinan ini berbeda dari gerabah Kasongan. Tanah merah tersebut dipercaya menjadikan gerabah lebih padat meski secara tampilan tidak memberikan perbedaan berarti. Umumnya, gerabah dibakar selama satu jam dengan suhu panas tertentu. Secara keseluruhan, proses pembuatan gerabah membutukan waktu sekitar 2 hingga 3 hari hingga selesai sempurna.

Haryanti, salah satu pengrajin gerabah mengatakan bahan baku utama pembuatan gerabah didapatkan dari daerah sekitar. Tanah lempung dibeli dari sawah setempat dengan harga Rp200.000 per kol. Sedangkan pasir dibeli dari penambang Sungai Progo seharga Rp180.000 per kol.

Namun, tanah lempung dari sawah tersebut hanya bisa didapatkan setelah musim panen padi. Karena itu, ia biasanya membeli tanah lempung dalam jumlah banyak untuk digunakan selama kurun waktu tertentu.

“Kalau musim panas tanah lempungnya tidak ada,kering semua,”urainya.

Gerabah produksinya dipasarkan ke sejumlah daerah di DIY dan sekitarnya. Setiap bulannya, Haryanti biasa mendapatkan penghasilan bersih sebesar Rp800.000. Angka tersebut sebenarnya tidaklah istimewa. Terlebih saat ini, biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bahan baku sera kebutuhan sehari-hari semakin tinggi. Selain itu, pasar penjualan tungku gerabah semakin tergerus dengan adanya bantuan kompor gas dari pemerintah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten