R. Wulandari/Istimewa

Gagasan ini dimuat Harian Solopso edisi Rabu (6/3/2019). Esai ini karya R. Wulandari, praktisi bisnis dan alumnus Akademi Keuangan dan Perbankan Indonesia, Bandung, Jawa Barat. Alamat e-mail penulis adalah rjewulandari@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Digitalisasi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu hal krusial saat ini agar UMKM mampu survive dan berdaya bersaing pada era revolusi industri 4.0.

Dalam beberapa tahun terakhir kontribusi sektor UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) kian besar. Merujuk data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, kontribusi sektor UMKM terhadap PDB meningkat dari 57,84% menjadi 60,34%.

UMKM juga membantu penyerapan tenaga kerja di dalam negeri. Penyerapan tenaga kerja di sektor UMKM tumbuh dari 96,99% menjadi 97,22% selama lima tahun terakhir.

Pada masa silam UMKM juga membuktikan ketahanan dan eksistensi dalam jagat perekonomian negeri ini. Barangkali kita masih ingat krisis moneter yang melanda Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara pada pertengahan 1997.

Ketika itu fondasi ekonomi Indonesia tak kuat menahan krisis tersebut yang ditandai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah yang semula Rp2.500 per dolar Amerika Serikat merambat liar hingga mencapai Rp16.000 per dolar Amerika Serikat pada saat itu.

Buntutnya iklim bisnis melesu dan pertumbuhan ekonomi Indonesia jalan di tempat. Banyak investor dan pengusaha besar yang gulung tikar dan sebagian mengalihkan modal ke negara-negara lain.

Saat itu sektor UMKM justru mampu bertahan dan menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Menurut UU No. 20/2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, perusahaan yang digolongkan sebagai UMKM adalah perusahaan-perusahaan dengan beberapa kriteria.

Masalah Menonjol

Pertama, usaha mikro yaitu usaha produktif milik orang perorangan dan atau badan usaha perorangan yang nilai asetnya sampai Rp50 juta dengan pendapatan sampai Rp300 juta per tahun.

Kedua, usaha kecil yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian, baik langsung maupun tidak langsung, dari usaha menengah atau usaha besar, dengan nilai aset antara Rp50 juta hingga Rp500 juta dengan total penghasilan sekitar Rp300 juta hingga Rp2,5 miliar per tahun.

Ketiga, usaha menengah yakni usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian, baik langsung maupun tidak langsung, dengan usaha kecil atau usaha besar, yang memiliki aset sekitar rp500 juta hingga Rp10 miliar dengan jumlah pendapatan Rp2,5 miliar hingga Rp50 miliar per tahun.

Beberapa masalah menonjol yang sekarang masih dihadapi oleh UMKM kita antara lain wawasan kewirausahaan sebagian besar pelaku UMKM yang masih minim, harga produk yang kurang bersaing, minimnya akses pasar dan akses modal, sulitnya perizinan, serta infrastruktur yang buruk.

Tentu saja permasalahan-permasalahan di atas harus dicarikan solusi. Membiarkan UMKM terus berlarut-larut dibelit masalah-masalah tersebut hanya membuat nasib UMKM berada di ujung tanduk dan semakin sulit bersaing dengan UMKM negara-negara lain.

Dalam mengarungi era revolusi industri 4.0, UMKM kita perlu menyelaraskan diri dengan tuntutan zaman. Itulah sebabnya digitalisasi UMKM menjadi salah satu hal krusial untuk dilakukan. Ada beberapa alasan digitalisasi UMKM perlu dilakukan.

Pertama, memperluas target pasar. Dengan ongkos yang relatif lebih murah, bahkan gratis, sekarang UMKM dapat memanfaatkan beragam platform media sosial untuk menjangkau target pasar yang lebih luas ketimbang hanya memanfaatkan iklan lewat media konvensional yang notabene biayanya lumayan tinggi.

Kedua, interaksi dan transaksi bisa lebih cepat. Digitalisasi membuat batas-batas geografis runtuh. Jarak dan waktu tak lagi menjadi kendala. Interaksi dan transaksi bisnis bisa dilakukan kapan saja serta di mana saja.

Delapan Juta Go Online

Informasi mengenai produk-produk terbaru, potongan harga, maupun bonus belanja dapat diperbarui seketika (real time). Ini menjadikan pelanggan dan mitra bisnis jauh lebih mudah dalam membuat keputusan.

Ketiga, efisiensi. Digitalisasi membuat bisnis lebih efisien, mulai dari soal proses pembelian bahan, penjualan, penggajian, hingga urusan inventarisasi barang. Digitalisasi juga memungkinkan para pengelola UMKM menyusun strategi pemasaran dan penjualan yang lebih pas untuk musim-musim tertentu.

Keempat, mendapatkan profil pelanggan yang lebih akurat dan lebih detail. Digitalisasi yang melibatkan metode matriks dan analisis online dapat bermanfaat bagi UMKM dalam menjaring profil pelanggan secara lebih akurat dan secara lebih detail.

Dengan begitu, para pengelola UMKM mampu menyusun strategi produksi, pemasaran, dan penjualan dengan lebih akurat dan dengan lebih detail pula. Agar UMKM kita tidak sampai ketinggalan dalam soal digitalisasi, program-program pelatihan digital bagi UMKM mesti diselenggarakan secara teratur dan berkesinambungan di berbagai wilayah negeri ini.

Kita mengapresiasi yang dilakukan Google Indonesia selama tiga tahun terakhir ini yang berhasil melatih sekurangnya satu juta pelaku UMKM dalam hal pemasaran secara online.

Kita berharap bakal semakin banyak pelaku UMKM di negeri ini yang memperoleh pelatihan serupa sehingga target delapan juta UMKM yang go online pada 2020, sebagaimana dicanangkan pemerintah, dapat tercapai.

Bagaimanapun era digital adalah keniscayaan. UMKM kita mesti mampu memanfaatkan kemajuan sektor teknologi digital dewasa ini guna mengerek daya saing produk-produk yang mereka hasilkan.

Ke depan, diharapkan para pelaku UMKM dapat mengadopsi dan mengimplementasikan teknologi digital dalam keseluruhan lini bisnis mereka sehingga usaha mereka mampu terus survive dan lebih berdaya bersaing.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten