UMKM Butuh Modal dan Pasar
Pelaku UMKM batik khas Madiun, Sri Murniati (kiri) berfoto bersama kawan di sela-sela pameran Indonesia Fair Trade and Cultural Expo 2018, 26-27 April 2018. (Istimewa-Sri Murniati)

Solopos.com, MADIUN — Owner Batik  Murni Madiun, Sri Murniati, tak menyangka dirinya bisa mengikuti pameran UMKM di luar negeri, Bangladesh, pada bulan April 2018. Saat itu, wanita berusia 51 tahun itu diberi kepercayaan dari PT Industri Kereta Api (Inka) untuk mengikuti pameran UMKM di negara tersebut.

Kala mendengar informasi itu, wanita yang akrab disapa Murni itu kaget dan hampir tak percaya kalau ia dan produknya berupa kain batik khas Madiunan bisa mengikuti pameran di Bangladesh. Kemungkinan yang sulit dijangkau oleh pelaku UMKM seperti dirinya.

Murni pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu sebagai ajang promosi produknya. Ia pun mengemas puluhan kain dan baju batik Madiunan bercorak pecel hingga lokomotif kereta api.

Dalam ajang Indonesia Fair Trade and Cultureal Expo 2018 pada tanggal 26-27 April 2018 yang digelar Kementerian Perdagangan di Bangladesh itu, seluruh kain dan baju batik Madiunan yang dibawa ludes terjual. Dalam ajang itu, dia tidak menargetkan penjualan. Namun, lebih ke pengembangan pasar dan pengenalan produk kepada dunia internasional.

“Yang beli tidak hanya orang Bangladesh. Banyak juga dari warga negara lain yang mendatangi kegiatan itu. Ada juga beli dari orang Indonesia. Yang terpenting saya bisa mempromosikan produk batik ini ke pasar luar negeri,” ujar wanita yang kini menjadi Kasi Pemerintahan Kelurahan Nambangan Lor, Kota Madiun.

Murni dengan Batik Murni-nya dipilih PT Inka untuk mengikuti kegiatan pameran UMKM di Bangladesh karena menjadi salah satu mitra binaan perusahaan pelat merah itu. Murni menjadi mitra binaan Inka setelah meminjam permodalan yang ada dalam Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) perusahaan manufaktur kereta api itu. Selain juga produk batik yang diproduksi Murni dianggap layak untuk dijual di pasar internasional.

Selain diajak untuk ikut berpameran di luar negeri, Murni juga kerap digandeng PT Inka untuk mengikuti pameran produk di dalam negeri baik tingkat nasional, regional, maupun lokal.

Di tingkat nasional, dirinya pernah mengikuti pameran di Jakarta Convention Center (JCC) pada tahun ini. Selebihnya, ia diajak berpameran di lokal Madiun. Saat ada tamu dari luar negeri dan tamu luar kota yang datang ke PT Inka, hampir selalu diarahkan ke butiknya untuk berbelanja oleh-oleh di tempatnya.

Pameran Mandiri

Saat digandeng PT Inka itu, ia hampir tidak mengeluarkan biaya untuk pameran sama sekali. Karena seluruh kebutuhan mulai stand hingga biaya transportasi dan akomodasi dipenuhi Inka. Padahal, kalau dirinya mengikuti pameran secara mandiri tanpa adanya sponsor biasanya minimal mengeluarkan dana sekitar Rp10 juta untuk kegiatan pameran selama tiga hari. Biaya itu paling besar untuk menyewa stand pameran, akomodasi, hingga transportasi.

“Saya pernah ikut pameran mandiri di Surabaya. Habisnya hampir Rp10 juta. Biasanya saya ga mencari untung di pameran, tetapi lebih ke memperkenalkan produk dan mengembangkan pasar. Makanya kalau diajak Inka untuk ikut berpameran, saya senang karena bisa menghemat biaya juga kadang mendapatkan untung dari penjualan produk,” terangnya.

Murni tidak menyangka fasilitas yang diberikan Inka cukup besar setelah dirinya mengambil permodalan senilai Rp32 juta. Sebenarnya, awal mengambil permodalan itu ia agak maju mundur karena sebagai pengusaha baru belum ada kepastian masa depan dengan bisnis yang digelutinya. Kala itu, omzet per bulannya masih di angka Rp10 juta. Sedangkan saat ini omzetnya sudah mencapai Rp100 juta per bulan.

Namun, karena memang faktor keterdesakan dan keyakinan usahanya akan berkembang, ia pun memberanikan diri mengambil tawaran modal dari Inka. Saat itu, kondisi administrasi keuangannya sangat kacau dan tidak tertata. Inka melalui timnya pun datang dan mulai membimbing pengelolaan administrasi keuangan sampai tertata dengan baik.

Selama mengembangkan usahanya dari nol hingga kini, Murni juga memanfaatkan akses permodalan UMKM dari Bank Jatim. Di bank pelat merah milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur itu, Murni meminjam modal Rp20 juta.

Dia mengaku untuk meminjam permodalan di Bank Jatim tidak terlalu sulit karena statusnya sebagai PNS di Kota Madiun. Uang pinjamaannya itu pun langsung digunakan untuk mengembangkan usahanya.

Selama menjadi debitur di Bank Jatim, ia mengaku fasilitas-fasilitas yang diberikan ternyata berbeda dari Inka. Bank Jatim tidak pernah memberikan pembinaan untuk pengembangan usaha maupun pelatihan soal pembukuan keuangan. Selain itu, selama menjadi debitur sejak tahun 2014 silam, ia juga tidak pernah diajak Bank Jatim untuk mengikuti kegiatan pameran.

Satu dukungan promosi yang pernah dirasakan yakni pada momen tertentu seluruh karyawan bank tersebut dibuatkan seragam batik dengan produk batiknya.

Membayar Cicilan

Pelaku UMKM lain di Madiun, Oktavia Purnawati W. atau akrab disapa Vivi, menceritakan dirinya mulai mengembangkan usahanya di bidang pembuatan hingga penjualan jamu tradisional dengan merek The Djamoe sejak 2017. Sejak awal dirinya memang membentengi diri dari meminjam modal di perbankan. Alasan utamanya karena malas berurusan dengan administrasi yang ribet dan takut kalau tidak bisa membayar cicilan.

Hingga akhirnya, Vivi ditawari oleh tim dari PT Inka dan menjelaskan soal program permodalan yang diberikan Inka khusus untuk UMKM. Awalnya ia pun resisten terhadap tawaran tersebut. Namun, setelah mendengar berbagai benefit yang didapat ari teman-temannya. Vivi pun memberanikan diri untuk mengambil modal dari Inka.

Tak tanggung-tanggung, Vivi pun mengambil pinjaman modal senilai Rp20 juta untuk mengembangkan usaha yang baru dirintisnya itu. Direncanakan modal tersebut akan digunakan untuk pembelian alat produksi berupa mesin blender berukuran jumbo. Karena produksi jamunya semakin hari semakin tinggi.

Kala itu, ia hanya disodorkan selembar kertas formulir pengajuan permodalan dengan beberapa syarat administrasi seperti fotokopi KTP hingga keterangan usaha dari kantor kelurahan. Dalam pengambilan modal itu, ia pun diwajibkan menyertakan agunan sebagai jaminan. BPKB sepeda motor Vario miliknya pun diserahkan sebagai jaminan.

“Setelah proses pengajuan selesai. Tim dari Inka pun mensurvei tempat usaha saya untuk memastikan kebenaran usaha ini. Setelah disurvei, sepekan setelah itu modal yang saya ajukan sudah disetujui. Proses pencairan sebulan kemudian,” ujar dia saat ditemui Solopos.com di rumahnya pada 11 November 2018.

Benar saja, selama menjadi mitra binaan PT Inka, ia sudah beberapa kali diikutkan dalam program pameran UMKM di wilayah Madiun. Saat mengikuti pameran UMKM itu, ia tidak dibebani biaya apapun dan tempat pameran pun disediakan secara gratis.

Menurut Vivi, pemberian fasilitas seperti ini cukup penting bagi UMKM yang baru mengembangkan usahanya. Akses pemasaran biasanya yang belum dimiliki UMKM. Meski belum pernah diikutkan untuk mengikuti pameran di tingkat nasional maupun luar negeri, dirinya bersyukur masih mendapatkan fasilitas permodalan itu.

Jaminan Agunan

Berbeda kisah dari dua pelaku UMKM di atas, Anny Dwi Poerwahjoe Ningtyas yang merupakan pelaku usaha dengan produk makanan kebab justru galau karena tidak bisa mengakses permodalan di perbankan maupun di lembaga lainnya. Dia tidak bisa mengajukan kredit permodalan karena tidak memiliki agunan untuk jaminan.

Padahal, kata warga Kelurahan Klegen, Kota Madiun itu dirinya sangat membutuhkan pinjaman modal untuk mengembangkan usahanya yaitu akan menambah outlet kebab. Dia mengaku sudah mencari informasi terkait pengajuan kredit permodalan di sejumlah perbankan tak terkecuali di BPR Kota Madiun. Namun, di perbankan itu agunan menjadi syarat wajib untuk mendapatkan kredit permodalan.

“Saya juga sudah mencari informasi di PT Inka dari teman-teman, katanya di Inka bunganya kecil dan fasilitas yang diberikan juga banyak. Tapi, saat ada persyaratan agunan. Saya pun balik kanan,” ujar dia sembari menyebut tidak memiliki barang yang bisa digunakan untuk jaminan.

Saat ditanya mengenai permodalan yang bisa diakses melalui financial technology (fintech), ia pun mengaku telah mendapatkan informasi soal fintech. Justru ia takut dengan kredit online, karena berdasarkan testimoni sejumlah rekannya bahwa fintech tidak ramah untuk dijadikan tempat mengajukan kredit.

Sebagai pelaku UMKM yang kini usahanya sedang berkembang, Anny berharap pemerintah bisa memberikan fasilitas permodalan dengan persyaratan mudah dan tertutama tidak menggunakan agunan. “Atau kalau tidak ya jaminannya dipermudah, mungkin bisa berupa perhiasan emas seperti di Pegadaian,” ujar dia.

Diharapkan perbankan yang kini masih menjadi jujukan bagi pelaku usaha untuk mengambil kredit harusnya juga terlibat aktif untuk membantu mencarikan nasabahnya pasar. Sehingga ada manfaat lain yang didapat nasabah. Kalau penjualan mereka lancar tentunya akan berpengaruh pula pada kelancaran pembayaran kredit.

Lembaga Perbankan

Pelaku UMKM, khususnya yang baru merangkak naik, sudah seharusnya dibantu. Perannya bisa dilakukan oleh pemerintah maupun lembaga perbankan. Memfasilitasi pelaku usaha dengan konsumen itu juga menjadi hal penting.

“Saya mencari tempat pinjaman modal selain yang bisa memberikan bantuan modal juga bisa membantu saya dalam mencarikan konsumen dan membantu saya untuk tumbuh membesar,” kata Vivi.

Pengrajin stik bambu di Kota Madiun, Singgih Hermawan, mengaku menutup diri dari pinjaman permodalan dari perbankan. Ia mengaku belum memiliki agunan yang bisa digunakan untuk jaminan. Padahal selama ini masalah yang kerap menghampirinya adalah persoalan permodalan.

“Saat ini pesanan banyak. Tapi karena belum ada modal ya ambil yang kecil-kecil dulu. Saya belum berani produksi kerajinan dalam jumlah massal,” kata dia saat ditemui di tempat pameran kerajinan di halaman Sun City Mall Madiun, Sabtu (8/12/2018).

Singgih berharap ada lembaga permodalan yang bisa membantu pengrajin kecil sepertinya dalam menyediakan permodalan dengan persyaratan yang mudah dan bunga kecil. Karena menurutnya, pelaku usaha kecil memang membutuhkan uluran tangan permodalan supaya usahanya bisa semakin berkembang. 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom