Umat Kristen Irak Rayakan Natal Pertama Sejak 2013
Pasukan Irak (JIBI/Solopos/Reuters)

Umat Kristiani di Irak merayakan Natal pertama sejak 2013.

Solopos.com, JAKARTA -- Beberapa ratus warga Irak pemeluk Kristen, Sabtu, pergi bersama-sama ke sebuah kota di utara yang baru-baru ini direbut kembali dari ISIS, untuk merayakan Natal untuk pertama kali sejak 2013.

Namun kegembiraan mereka ternodai setelah menyaksikan keadaan gereja mereka yang rusak dan tak terawat. Bartella, yang pernah menjadi rumah bagi ribuan pemeluk Kristen Assyria, dikosongkan pada Agustus 2014 ketika ISIS melancarkan serangan-serangan di seantero Irak dan tetangganya, Suriah.

Pasukan Irak menguasainya kembali dalam beberapa hari pertama ofensif dukungan Amerika Serikat mulai Oktober. Para perempuan yang memegang lilin, masuk ke gereja Mar Shimoni di kota itu dan mengekspresikan suka citanya karena dapat kembali ke tempat itu. Di sanalah mereka dibaptis

"Ini adalah hari terbaik dalam hidup saya. Kadangkala saya berpikir hal ini tak akan pernah terjadi," ujar Shurook Tawfiq, seorang ibu rumah tangga yang berusia 32 tahun kepada Reuters, sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara, Minggu (25/12/2016). Ia terdampar di Erbil, kota Kurdi, dekat Bartella.

Gereja itu rusak parah dan tak terawat. Salib baru dipasang dan pohon Natal dari plastik diletakkan dekat pintu gerbang besar. Tentara berjaga-jaga di dekatnya dan yang lain berada di atap-atap. Kota itu dihuni sedikit warga dengan rumah-rumah rusak akibat pertempuran yang berkecamuk dua bulan lalu.

"Perasaan saya bercampur aduk antara sedih dan senang," kata Pastur Mussa Shemani kepada kantor berita Reuters sebelum memimpin misa malam Natal. "Kami sedih melihat apa yang telah dilakukan terhadap tempat-tempat suci kami oleh saudara-saudara kami, tetapi pada saat bersamaan kami senang menyelenggarakan misa pertama setelah dua tahun."

Kawasan Nineveh adalah salah satu permukiman paling kuno yang dihuni kaum nasrani. Tempat itu sudah ada hampir 2.000 tahun lalu. Di Mar Shimoni, jemaat melantunkan nyanyian dan berdoa dalam bahsa Syriac, yang dekat dengan yang diucapkan Yesus. "Ini gereja tempat saya dibaptis, tempat saya dididik, tempat saya diajari keyakinan," kata Bahnam Shamanny, editor Bartelli al-Syriann, surat kabar lokal yang terbit bulanan.

ISIS menyasar semua kelompok non-muslim Sunni yang tinggal di bawah kekuasaannya dan memberlakukan hukuman keras atas pengikut Sunni yang tidak akan mematuhi interpretasi Islam yang ekstrem.

Para pemeluk Kristen di kawasan itu diberikan ultimatum antara lain untuk membayar pajak. Sebagian besar di antara mereka melarikan diri ke kawasan otonomi Kurdi, melintasi sungai Zab ke arah timur.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom