Ukur Kecepatan Evakuasi, Warga KRB III Merapi Swadaya Gelar Simulasi

Simulasi yang dilakukan meliputi respons warga ketika ada tanda untuk berkumpul dan bersiap evakuasi hingga kecepatan warga.

 Warga dari kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, menggelar simulasi evakuasi, Jumat (3/12/2021). (Istimewa)

SOLOPOS.COM - Warga dari kawasan rawan bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi di Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, menggelar simulasi evakuasi, Jumat (3/12/2021). (Istimewa)

Solopos.com, KLATEN—Warga di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III erupsi Gunung Merapi Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, secara swadaya menggelar simulasi evakuasi. Simulasi itu mereka lakukan untuk mengukur kecepatan dan kemampuan melakukan evakuasi mandiri terlebih saat ini kondisi ruas jalur evakuasi rusak parah.

PromosiPemungutan Suara Pemilu 2024 pada 14 Februari 2024

Simulasi digelar pada Jumat (3/12/2021). Kegiatan diikuti warga satu RT di wilayah Dukuh Mbangan. Simulasi yang dilakukan meliputi respons warga ketika ada tanda untuk berkumpul dan bersiap evakuasi hingga kecepatan warga.

Salah satu warga Dukuh Mbangan, Sukiman, mengatakan simulasi dilakukan secara mandiri oleh warga. Simulasi itu dilakukan untuk melatih kesiapsiagaan warga terhadap ancaman erupsi Gunung Merapi yang saat ini bertahan pada level siaga.

Baca Juga: Semeru Meletus, BPBD Klaten Siaga Antisipasi Bahaya Erupsi Merapi

Selain itu, simulasi itu dilakukan agar warga mengetahui kecepatan dan lama waktu mereka ketika harus mengungsi. Simulasi itu dibutuhkan warga untuk memperbarui kemampuan mereka melakukan evakuasi mandiri menyusul rusaknya jalur evakuasi utama. Alasannya, mereka tinggal di wilayah yang berjarak sekitar 4,5 km dari puncak Merapi.

Pada simulasi itu, warga menggunakan kentungan sebagai sinyal memanggil warga berkumpul ke tempat yang sudah ditentukan. Kemudian mereka mengukur waktu yang dibutuhkan warga untuk menaiki truk, mobil, maupun sepeda motor sebagai kendaraan yang mereka siapkan ketika proses evakuasi.

“Kemarin diukur kecepatan mereka datang butuh waktu berapa dan kecepatan mereka naik kendaraan butuh berapa lama. Kemarin ditemukan waktu untuk warga berkumpul itu sekitar lima menit. Tetapi untuk naik ke truk butuh waktu tujuh menit, naik sepeda motor dua menit, dan naik mobil lima menit. Itu sebagai ukuran kemudian nanti disatukan dengan proses evakuasi dari kampung melewati jalan rusak ke tempat pengungsian sementara,” kata Sukiman, Minggu (5/12/2021).

Baca Juga: Tol Solo-Jogja Jamin Tak Ganggu Jalan Kabupaten dan Saluran Irigasi

Hanya, warga belum menyimulasikan proses evakuasi warga dari kampung ke tempat pengungsian sementara. Mereka masih mempertimbangkan keselamatan warga.

“Ketika kami simulasikan melewati jalur evakuasi, truk kami coba dalam keadaan kosongan [tidak ada penumpang]. Takutnya nanti justru kecelakaan di jalan. Kemarin sudah dicoba ketika truk dan mobil berpapasan di jalan evakuasi yang rusak itu seperti apa dan di jalan kampung itu seperti apa. Ternyata repot semua,” kata Sukiman yang juga Koordinator Radio Lintas Merapi itu.

Evaluasi bakal terus dilakukan warga bersama sukarelawan. Seperti mengukur jarak warga yang bisa mendengar suara kentungan sebagai tanda untuk berkumpul.

Baca Juga: Selalu Gembira, Resep Mbah Gandung Tetap Sehat di Usia Senja

Warga dan sukarelawan kini masih mencari formula agar proses evakuasi mereka tetap aman dari kampung ke tempat evakuasi sementara menyusul rusaknya jalur evakuasi utama di desa setempat. “Intinya ini memang tidak kami lakukan rutin. Ini kami lakukan menyesuaikan kebutuhan kami,” kata dia.

Sukiman mengatakan ada tiga dukuh yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) III. Ketiga dukuh itu yakni Deles, Mbangan, dan Petung Lor. Warga secara rutin mendata kondisi warga. Saat ini, jumlah total warga di ketiga dukuh ada 122 keluarga dengan total 364 jiwa.

Saat ini ada lima ibu hamil, 33 balita, 47 lansia, serta delapan orang berkebutuhan khusus yang tinggal di ketiga dukuh. Selain itu, warga juga sudah memetakan jumlah tenak hingga kendaraan yang ada di desa setempat.

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Misteri Suara Singa di Taman Makam Pahlawan Solo, Pernah Ngalami?

Terdapat kisah misteri di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti, Jurug, Jebres, Solo, Jawa Tengah, yang legendaris di tengah masyarakat.

Perantau dari Batam Pulang, Siswa SMPN 1 Karangnongko Positif Covid-19

Satu siswa SMPN 1 Karangnongko itu tertular Covid-19 dari seorang perantau dari Batam yang pulang ke keluarganya di Desa Kanoman, Kecamatan Karangnongko, Klaten.

12 Guru dan Siswa SMA Warga Solo Positif Corona, Begini Kronologinya

Temuan belasan kasus positif virus corona pada guru dan siswa SMA Warga Solo berawal dari seorang guru yang memeriksakan kesehatan pada akhir pekan lalu.

Jaga Kesehatan, Pegawai Kantor Imigrasi Surakarta Gelar Fun Bike

Fun bike selain untuk menjaga kesehatan pegawai Kantor Imigrasi Surakarta juga merupakan rangkaian peringatan Hari Bhakti Imigrasi ke-72.

IDI Sukoharjo Pantau Perkembangan Kasus Harian Covid-19

Pemerintah diharapkan terus menggenjot capaian vaksinasi dengan target sasaran beragam kelompok masyarakat di Sukoharjo.

Siswa Positif Covid-19, PTM di 2 SMPN di Klaten Disetop

Terdapat satu siswa positif Covid-19 masing-masing di SMPN 1 Karangnongko dan SMPN 1 Kemalang Klaten.

Sopir Kaget Disalip Ditanjakan, Pikap Angkut Ribuan Telur Masuk Jurang

Mobil pikap pengangkut ribuan telur ayam yang dikemudikan warga Sukoharjo masuk jurang di Desa Plesungan, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

Hari Bhakti Imigrasi, Menkumham Yasonna Apresiasi Inovasi Keimigrasian

Menkumham Yasona meminta agar jajaran Imigrasi di seluruh Indonesia terus meningkatkan Profesionalisme dan Integritas dalam menjalankan Tugas Negara.

8 Boks PJU di Sumberlawang Dibobol Maling, Dishub Rugi Jutaan Rupiah

Pencuri menggondol sejumlah perangkat dari delapan boks lampu penerangan jalan umum (PJU) di sepanjang jalan Sumberlawang-Purwodadi.

Disambati Bupati Sragen soal Kemiskinan, Ini Jawaban Wagub Taj Yasin

Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen, menyebut Sragen tidak masuk daerah dengan kemiskinan ekstrem di Jateng. Namun masuk zona merah di Jateng.

Prihatin Kasus Narkoba Tinggi, Kejari Solo Terjun ke Sekolah-Sekolah

Prihatin dengan angka kasus penyalahgunaan narkoba yang tinggi, Kejari Solo turun ke sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman kepada pelajar untuk menjauhi narkoba.

14 Sertifikat Baru Lahan Terdampak JLT Sukoharjo Belum Terbit

Penerbitan sertifikat tanah yang baru setelah pelepasan hak karena terdampak JLT Sukoharjo mengacu pada ketentuan yang diatur di bidang agraria dan tata ruang.

Bupati Sragen Sambat ke Wagub Soal Angka Kemiskinan yang Tak Juga Turun

Bupati Sragen sambat ke Wagub Jateng. Ia mengaku sudah mengeluarkan anggaran banyak untuk mengentaskan kemiskinan namun angkanya tidak turun, justru naik.

Jual Minyak Goreng Rp14.000/Liter, Toko di Pasar Legi Solo Ini Diserbu

Toko Leo Jaya di lantai II Pasar Legi Solo diserbu pembeli yang antre untuk mendapatkan minyak goreng seharga Rp14.000/liter.

Jangan Macam-Macam, Kejari Karanganyar Kini Punya Satgas Mafia Tanah

Kejari Karanganyar telah membentuk Satgas Mafia Tanah sesuai instruki Kejaksaan Agung.

Dikeluhkan Warga, Tempat Karaoke di Wanglu Disegel Satpol PP Klaten

Penutupan itu dilakukan karena keberadaan karaoke dan kafe tersebut dinilai telah melanggar peraturan daerah (perda).