Uji Coba Terburu-Buru, Kualitas Vaksin Tak Akan Maksimal
Tahapan pengujian vaksin. (Bisnis-Dok.)

Solopos.com, JAKARTA — Para ilmuwan memperingatkan bahwa adopsi awal dari vaksin Covid-19 dengan efektivitas sedang dapat mengganggu upaya untuk uji coba dan versi vaksin yang lebih baik. Uji coba yang terburu-buru hanya akan menghasilkan vaksin yang berkurang kualitasnya.

Peringatan ini mengemuka di tengah gencarnya perlombaan mengembangkan vaksin untuk menghentikan pandemi. Faktanya, bisa jadi akan muncul kebingungan yang cukup besar karena para peneliti masih berjuang menentukan versi terbaik bagi kelompok rentan yang berbeda, seperti orang tua.

Adam Finn, profesor dari Bristol University, mengatakan bahwa vaksin yang paling cepat tersedia adalah vaksin yang paling eksperimental. Mungkin saja vaksin itu tidak akan terlalu bagus, dari yang dibuat menggunakan metode lebih teruji dengan kecepatan standar.

Toyata Kenalkan New Fortuner dan New Kijang Innova di Soloraya

“Akan tetapi untuk membuktikan hal itu, akan menjadi sangat sulit jika banyak orang telah diberikan vaksin pertama. Diperlukan banyak orang untuk mendemonstrasikan mana yang terbaik, atau lebih cocok bagi kelompok tertentu,” katanya seperti dikutip The Guardian, Senin (26/10).

Finn mengatakan kebingungan seperti itu dapat menyebabkan kemunduran dalam menangani Covid-19. Dia menambahkan bahwa peneliti harus bersiap untuk menghadapi tantangan ini dan mencari cara untuk membandingkan keefektifan vaksin awal.

Dilaporkan saat ini ada 198 vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, empat versi utama telah menjalani uji coba fase III terakhir, termasuk vaksin BNT162b2 dari Pfizer dan vaksin dari Oxford-AstraZeneca.

Member Running Man Jeon So-Min Dikecam Penggemar Blackpink

Hasil uji coba itu—yang masing-masing dibandingkan dengan plasebo—diharapkan tersedia dalam beberapa pekan mendatang. Begitu vaksin pertama yang menunjukkan kemanjuran terungkap, akan ada tekanan besar untuk menggunakannya bagi kelompok tertentu yang berisiko tinggi. Akan tetapi, kelompok rentan seperti orang tua yang cenderung memiliki sistem kekebalan lebih lemah perlu memastikan kehati-hatian yang tinggi.

Dewasa Muda & Sehat

Kanta Subbarao, direktur kolaborasi World Health Organization (WHO) mengatakan uji coba vaksin awal tidak mungkin menunjukkan seberapa baik vaksin bekerja pada populasi tersebut. Menurutnya, vaksin sering kali bekerja lebih baik pada orang dewasa muda dan sehat.

Itulah sebabnya mengapa vaksin ditingkatkan dengan dosis yang lebih tinggi atau bahan pembantu untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit.

Irene Red Velvet Minta Maaf Gara-Gara Kasar ke Editor dan Stylist

Gregory Poland, direktur Vaccine Research Group at the Mayo Clinic, mengatakan kompleksitas, kekacauan, dan kebingungan yang terjadi dalam beberapa bulan yang singkat dan hampir tidak disadari banyak pihak. DIharapkan persetujuan akan diberikan untuk setiap vaksin yang melindungi setidaknya setengah dari mereka yang telah disuntik.

Masalahnya akan muncul ketika vaksin lain hadir dan tidak jelas, apakah mereka lebih baik karena produk pertama atau yang kedua.

Bryan Deane, direktur Association of British Pharmaceutical Industry mengatakan ada banyak pembicaraan yang terlalu optimistis tentang vaksin yang akan tersedia dalam beberapa bulan mendatang, menjelang perayaan Natal.

4 Rekomendasi Drama Thailand yang Diadaptasi dari Drama Korea

“Namun, itu sepertinya tidak mungkin sekarang. Hasil uji coba kemungkinan besar tidak akan selesai hingga tahun depan, dan ketika mereka melakukannya kemungkinan besar hasilnya akan keluar secara berurutan.” Katanya.

Dia melanjutkan bahwa vaksin pertama yang menunjukkan perlindungan signifikan merupakan vaksin yang akan langsung digunakan. Masalahnya adalah ketika vaksin lain melewati uji klinisnya, orang tidak bisa mengatakan bahwa vaksin pertama atau kedua lebih baik, karena peneliti belum menyiapkan cara untuk membandingkannya.

Finn menambahkan bahwa ini adalah sebuah paradoks. Jika orang mendapat vaksin yang efektif tetapi tidak terlalu baik, itu hampi lebih buruk daripada tidak memiliki vaksin sama sekali karena akan menghalangi proses mendapat vaksin yang lebih baik.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Sumber: Bisnis



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom