Ahmad Ubaidillah/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Jika membaca secara cermat sejarah ekonomi modern, kita seperti membaca kisah dengan plot bikinan otak cerdas, yang setara dengan plot novel terbaik. Alur ceritanya adalah kisah tentang perjuangan manusia mencari kekayaan dan kemakmuran serta pencarian model ekonomi yang bisa memenuhi kebutuhan manusia pada umumnya.

Konon, kekayaan dan kemakmuran tidak terlepas dari uang. Uang adalah penakluk. Penakluk terbesar dalam sejarah bukan kekuatan militer, keampuan ideologi, atau lainnya. Penakluk yang satu ini memiliki toleransi dan kemampuan beradaptasi secara ekstrem, sehingga mengubah orang-orang menjadi pengikut setia.

Orang-orang yang tidak memercayai Tuhan yang sama, atau mematuhi raja yang sama, rela menggunakan uang yang sama. Yuval Noah Harari mencontohkan Usama bin Ladin, meskipun benci setengah mati terhadap budaya, agama, dan politik Amerika Serikat, tetap doyan dolar Amerika Serikat. Bagaimana bisa uang berhasil padahal Tuhan dan raja gagal?

Itulah pertanyaan Yuval Noah Harari dalam buku Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. Uang diciptakan berkali-kali di banyak tempat. Pengembangan uang melibatkan penciptaan realitas antarsubjektif baru yang hanya ada dalam imajinasi bersama orang-orang. Uang bukanlah keping logam dan lembar kertas.

Uang adalah apa pun yang orang-orang bersedia menggunakan untuk melambangkan secara sistematis nilai benda-benda lain demi bertukar barang dan jasa. Uang memungkinkan orang-orang membandingkan secara cepat dan mudah nilai komoditas yang berbeda-beda secara mudah, bertukar satu hal dengan hal lain, dan menyimpan kekayaan dengan praktis.

Nilai Hanya dalam Imajinasi

Menurut Harari, uang memiliki nilai hanya dalam imajinasi kita. Nilainya tidak ada dalam struktur kimiawi atau warna atau bentuk cangkang atau kertas. Uang bukanlah kenyataan material. Uang adalah produk psikologis. Uang bekerja dengan mengubah zat menjadi pikiran. Mengapa uang berhasil?

Mengapa orang bersedia menukar sawah yang subur dengan segenggam cangkang atau segebok kertas tak berguna? Mengapa kita bersedia pergi pagi, pulang sore, peras keringat, banting tulang mendorong gerobak menjual mi ayam hanya demi beberapa lembar kertas berwarna?

Orang-orang bersedia melakukan hal-hal semacam itu sewaktu mereka memercayai potongan-potongan imajinasi kolektif mereka. Kepercayaan adalah bahan mentah yang digunakan untuk mencetak semua jenis uang. Uang adalah sistem kesalingpercayaan, bukan sembarang sistem kesalingpercayaan.

Yang menciptakan kepercayaan itu adalah jaringan hubungan politik, sosial, dan ekonomi jangka panjang yang sangat kompleks. Mengapa kita memercayai lembaran rupiah atau dolar? Karena tetangga-tetangga kita memercayainya. Tetangga-tetangga saya memercayainya karena saya memercayainya.

Peran penting kepercayaan menjelaskan mengapa sistem keuangan kita terjalin sedemikian erat dengan sistem politik, sosial, dan idelogi kita; mengapa krisis keuangan kerap dipicu oleh perkembangan politik; dan mengapa naik turunnya pasar saham bergantung pada perasaan para pedagang saham pada suatu pagi. Uang meminta kita memercayai bahwa orang lain memercayai sesuatu.

Selama ribuan tahun, para filsuf, pemikir, dan nabi mencela uang dan menyebut sebagai akar kejahatan. Itu mungkin saja benar, tetapi uang juga merupakan puncak toleransi manusia. Uang lebih berpikiran terbuka daripada bahasa, hukum negara, kode budaya, kepercayaan agama, dan kebiasaan sosial.

Puncak Toleransi

Uang adalalah satu-satunya sistem kepercayaan ciptaan manusia yang bisa menjembatani nyaris setiap jurang budaya dan tidak membeda-bedakan agama, gender, ras, usia, atau orientasi seksual. Berkat uang, bahkan orang-orang yang tidak saling kenal dan tidak saling memercayai bisa tetap bekerja sama secara efektif.

Orang-orang mengandalkan uang untuk melancarkan kerja sama dengan orang asing, namun mereka takut uang akan menyelewengkan nilai-nilai dan hubungan akrab manusia. Orang-orang bersedia menghancurkan bendungan-bendungan yang selama ini menghambat pergerakan uang dan perdagangan.

Mereka membangun bendungan-bendungan baru untuk melindungi masyarakat, agama, dan lingkungan dari perbudakan kekuatan pasar. Uang juga sangat penting untuk membangun imperium dan mendorong sains. Apakah uang merupakan tujuan akhir upaya-upaya itu, ataukah hanya kebutuhan yang berbayar?

Pada 1776, ahli ekonomi dari Skotlandia, Adam Smith, menerbitkan The Wealth of Nations. Ini barangkali manifesto ekonomi terpenting sepanjang masa dan merupakan kelahiran kapitalisme. Hal terpenting dari sistem ekonomi kapitalisme modern adalah kemunculan suatu etika baru yang menyatakan laba harus diinvestasikan kembali untuk produksi.

Ini mendatangkan lebih banyak laba, yang lagi-lagi diinvestasikan untuk produksi, yang mendatangkan lebih banyak laba, dan seterusnya;  tak habis-habisnya. Investasi dapat dilakukan dalam beberapa cara: memperbesar pabrik, penelitian sains, dan mengembangkan produk baru.

Dalam kredo kapitalis baru, firman yang paling pertama dan paling suci adalah laba produksi harus diinvestasikan kembali untuk meningkatkan produksi. Itulah mengapa kapitalisme disebut ”kapitalisme”. Kapitalisme membedakan ”kapital” alias modal dengan ”kekayaan” biasa.

Imperialisme

Kapital terdiri atas uang, barang, dan sumber daya yang diinvestasikan dalam produksi. Kekayaan dikubur dalam tanah atau disia-siakan untuk aktivitas produktif. Kapitalisme berperan penting bukan hanya dalam kebangkitan sains modern, melainkan juga kemunculan imperialisme Eropa.

Imperialisme Eropa-lah yang menciptakan sistem kredit kapitalis pada awalnya. Lingkaran ajaib kapitalisme imperial adalah kredit membiayai temuan baru; temuan baru memungkin pembentukan koloni; koloni memberikan laba; laba membangun kepercayaan; dan kepercayaan berbuah lebih banyak kredit. Dalam kasus Indonesia, uang juga membiayai aksi militer yang dilakukan oleh kapal-kapal milik perusahaan perseroan Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), untuk melawan para pesaing dan perampok serta menaklukkan Indonesia.

Ketika saudar-saudagar VOC kali pertama tiba di Indonesia pada 1603, tujuan mereka komersial. Guna mengamankan kepentingan komersial dan memaksimalkan laba para pemegang saham, saudagar VOC mulai bertarung melawan penguasa lokal yang memasang tarif tinggi; juga melawan pesaing dari Eropa.

VOC mempersenjatai kapal-kapal dagang dengan meriam. Perusahaan tersebut merekrut tentara-tentara sewaan dari Eropa, Jepang, India, dan Indonesia. VOC juga membangun benteng-benteng dan menggelar pertempuran dan pengepungan berskala penuh. Para kapitalis garis keras cenderung berargumen bahwa modal tidak seharusnya bebas memengaruhi politik, namun politik tidak seharusnya dibolehkan memengaruhi modal.

Mereka berargumen ketika pemerintah ikut campur di pasar, kepentingan politik menyebabkan pemerintah membuat investasi gegabah yang membuahkan pertumbuhan melambat. Pertumbuhan ekonomi modern bisa jadi merupakan penipuan besar-besaran.

Di bawah kapitalisme, spesies manusia dan ekonomi global mungkin terus tumbuh, namun semakin banyak individu yang hidup dalam kelaparan dan kekurangan. Inilah kritik yang masih terus perlu kita ajukan kepada kapitalisme.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten