Turun Temurun, Soto Angkring Karanganyar Ini Gelar Lapak Sejak Zaman Penjajahan
Arta Tomi Wibowo melayani pelanggan sotonya di tenda kaki limanya Rabu (8/1/2020). (Solopos/Candra Mantovani)

Solopos.com, KARANGANYAR - Arta Tomi Wibowo berjualan soto angkring setiap malam di tenda kaki limanya yang bernama Soto Bagong Junior di Jl. Solo-Purwodadi tepatnya di depan Pasar Tuban, Gondangrejo, Karanganyar.

Pria berusia 35 tahun tersebut sudah berjualan soto angkring sejak 2015 setelah keluar dari pabrik tekstil tempatnya bekerja. Dia memutuskan untuk meneruskan usaha turun temurun keluarganya sebagai pedagang soto angkring yang sudah dilakukan sejak era penjajahan Jepang.

Pemkab Klaten Gelontorkan Rp700 Juta untuk Penataan PKL di Cokro Tulung

Dia menceritakan awal mula usaha tersebut dirintis oleh kakeknya yang kerap dipanggil Mbah Rin pada saat masa penjajahan jepang. Dulunya Mbah Rin tidak hanya berjualan soto namun juga kare dengan memikul angkring dan dijajakan berkeliling. Saat itu menurutnya nama soto dan kare yang dijajakan Mbah Rin sudah dikenal oleh banyak orang.

Hingga berjalannya waktu kesehatan Mbah Rin menurun dan kemudian diteruskan oleh ibunya. Berbeda dengan era kakeknya, ibunya memilih berjualan di pasar dan hanya berjualan soto saja tanpa kare karena persiapan yang dianggap melelahkan. Meskipun tidak berkeliling lagi, namun angkring yang dulu digunakan Mbah Rin ketika menjajakan soto dan kare masih digunakan sebagai ciri khas dan juga penghormatan.

Suara PKS di Pilkada Solo Pecah, Kaukus Muda Dukung Gibran Rakabuming

Saat ini, usaha soto tersebut sudah diteruskan Tomi yang merupakan generasi ketiga. Tomi pun juga menyadari bahwa ornamen angkring tidak boleh lepas dari usaha turun temurun tersebut dan tetap mempertahankannya hingga saat ini. Dia tetap membawa angkring tersebut di tenda kaki limanya meskipun terhitung ribet.

“Memang sejak awal mula Mbah saya yang jualan itu kan sudah pakai angkring. Itu alasan kenapa kami tidak mengubahnya. Kami ingin tetap mempertahankannya karena ini usaha turun temurun. Sebenarnya bisa saja kami tidak menggunakannya karena memang ribet bawanya soalnya kan kaki lima. Tapi saya memutuskan tetap harus ada,” paparnya.

Dibekuk Thailand, Tim Bulu Tangkis Putri Indonesia Jadi Runner Up Grup

Ditanyai apakah nanti usaha tersebut akan diturunkan ke generasi selanjutnya, Tomi mengaku belum terpikirkan. Menurutnya, diteruskan atau tidaknya usaha soto angkring yang berjalan selama tiga generasi itu tergantung dari minat anaknya nanti. Namun, dia berharap usaha turun temurun tersebut tidak putus sampai ke generasinya saja.

“Kalau saja bisa memilih ya pasti ingin terus turun temurun. Tapi balik lagi nanti anak saya bagaimana. Apakah mau atau tidak saya serahkan ke dia kalau sudah dewasa. Tapi saya kan masih punya adik juga, semoga dia nanti berniat meneruskan,” bebernya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom