Irfantoro dan anggota Pramuka saat mengikuti Apel Besar Peringatan Hari Pramuka di Lapangan Denggung, Jumat (14/7/2015). (Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati)

Tuna Daksa anggota Pramuka DIY, Irfantoro gesit memanjat dan melompat

Solopos.com, SLEMAN- Peringatan Hari Pramuka di Sleman berlangsung meriah. Tak hanya diikuti peserta Pramuka dari kabupaten setempat, Apel Besar pada Jumat (14/8/2015) pagi itu diikuti perwakilan anggota Pramuka se-DIY.

Sejak pukul 08.00 WIB, ribuan peserta berjejer rapi membentuk barisan. Mereka menghadap ke arah panggung tamu undangan yang di situ duduk Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka DIY, GKR Mangkubumi, para kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), dan pejabat lainnya.

Di tengah ribuan peserta Pramuka yang berdiri, ada satu siswa tuna daksa yang menempatkan diri di barisan paling depan. Ia tetap duduk tegap sekalipun di atas kursi roda. Bahkan ketika sang pemimpin upacara menginstruksikan istirahat, ia taat aturan dengan memposisikan kedua tangannya terkunci di belakang pinggang.

Kepada Harian Jogja, siswa tuna daksa bernama Irfantoro itu mengungkapkan rasa bangganya mengikuti kegiatan Pramuka. "Bisa lebih dekat sama alam," ucapnya singkat. Selain itu bisa lebih mengenal karakter teman karena dalam pramuka banyak melibatkan kerjasama kelompok.

Salah satu kegiatan yang paling ia sukai adalah wide game di alam bebas. Meski kedua kakinya kecil dan tak mampu berjalan layaknya teman lainnya, ia masih bisa bertarung adu kecepatan merayap di tanah lumpur. Bahkan ia dikenal paling lincah di antara siswa lainnya.

Karena keterbatasannya, siswa kelahiran 10 April 1998 yang pernah mendapat juara 1 lomba balap kursi roda tingkat provinsi ini terpaksa tak bisa mengikuti kegiatan Pramuka, seperti memanjat dan melompat. "Kalau ada kegiatan seperti itu, guru menugaskan saya ngasih semangat buat teman-teman. Ayo, ayo, kamu pasti bisa," kara Irfan menunjukkan gayanya.

Baginya, pramuka mampu menanamkan jiwa kepedulian. Seperti saat ia ditunjuk sebagai tim P3K, ia bisa melayani temannya yang membutuhkan pengobatan. Sayang, ia merasa tak semua remaja merasakan hal itu. Lebih banyak kegiatan menarik lainnya yang berhasil mengambil perhatian remaja zaman sekarang daripada harus berpanas-panasan mengikuti pramuka.

Kegiatan kepramukaan selama ini sepertinya memang hanya identik dengan baris-berbaris, kemah, dan menghafal sandi. Padahal jika Dasadharma dan Trisatya mampu diaplikasikan ke dalam kegiatan yang mengikuti tren remaja, maka bisa memunculkan minat siswa untuk mengikutinya.

Terkait hal itu GKR Mangkubumi mengakui jika kegiatan Pramuka masih belum dilakukan maksimal. Selama ini kegiatan Pramuka hanya menjadi penyanding pelajaran formal dan sebatas kegiatan ekstra kurikuler. Menurutnya sosialisasi akan pentingnya Pramuka masih kurang.

"Bahasa marketingnya kurang. Agar diminati anak muda, kegiatan pramuka bisa dibuat menarik. Kita masukkan IT [Teknologi Informasi] untuk pramuka karena basic remaja adalah IT," kata GKR Mangkubumi usai mengikuti Apel Besar.

Jika kemasan kegiatan lebih inovatif dan kreatif maka bisa menarik minat remaja tergabung aktif dalam Pramuka. "Apa yang diminati remaja bisa kita sesuaikan. Pramuka bukan hanya tempat nyanyi tapi untuk meningkatkan kreatifitas," pungkasnya.

Dalam apel besar tersebut ditampilkan pula bendera Indonesia berukuran raksasa berlambang tunas kelapa. Bendera berukuran 15 x 8 meter itu merupakan persembahan dari peserta Kwarcap Bantul. Selain itu juga ada sajian paduan suara, kreasi pesawat dari SMA TNI AU, dan tarian daerah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten