Tutup Iklan
Pekerja menyelesaikan proses akhir pembuatan mebel rotan di Jakarta, Senin (18/1/2016). (Bisnis-Dedi Gunawan)

Solopos.com, SURABAYA – Kinerja industri mebel tahun ini diprediksi hanya mampu tumbuh sekitar 5% - 6% akibat pergerakan pasar domestik maupun ekspor yang belum membaik. Tingkat daya saing investasi yang rendah juga menjadi faktor lain yang menghambat pertumbuhan.

Sekjen Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, mengatakan awalnya pengusaha merencanakan industri mebel bisa tumbuh 8%, tetapi kondisi yang belum membaik, diperkirakan hanya mampu 5% - 6%.

“Industri mebel cukup tertekan akibat banyak faktor, tapi setidaknya masih bisa tumbuh sedikit karena disokong oleh kinerja mebel di Jawa Tengah yang sedang dalam masa keemasannya,” jelasnya seusai seminar mebel di Surabaya, Selasa (20/8/2019), seperti dilansir bisnis.com.

Dia menjelaskan salah satu faktor yang memengaruhi kinerja industri ini adalah masalah upah minimum pekerja di Jateng yang tidak setinggi di Jatim sehingga industri di Jatim merosot.

“Jika ingin industri ini tumbuh seperti di Vietnam yang mampu mencapai 38% dalam 3 tahun, maka pemerintah harus menarik investasi masuk dengan mudah. Tanpa ada relokasi industri, misalnya dari Tiongkok ke sini, maka pertumbuhan industri kita cuma bisa 4%-5% an,” katanya.

Sobur mengatakan seharusnya Indonesia punya potensi menjadi negara relokasi dari pabrik-pabrik asal Tiongkok. Namun, pabrikan Tiongkok lebih memilih relokasi ke Vietnam yang dinilai lebih ramah investasi serta lebih dekat secara geografis.

“Luas wilayah Indonesia lebih besar dari Vietnam, jumlah bahan baku kita juga merupakan ketiga terbesar di dunia setelah Brasil, juga SDM kita banyak. Untuk itu, kita harus punya regulasi yang lebih menarik dari Vietnam sebagai booster,” imbuhnya.

HIMKI menyarankan pemerintah agar belajar ke Vietnam bagaimana membuat regulasi yang ramah investasi sehingga pertumbuhan industri bisa lebih cepat dan signifikan. Hingga saat ini, katanya, masih ada ratusan regulasi yang harus dihadapi sebuah industri mebel di Indonesia.

“Sebagai contoh, ada industri asing masuk dan mereka membawa tenaga kerjanya, itu pun banyak izin yang menghambat dan dibatasi padahal itu juga untuk meningkatkan devisa kita. Pemerintah sendiri memberikan kemudahan impor untuk kemudahan ekspor, tapi baru sebatas raw material, sedangkan SDM juga perlu dipikirkan,” imbuhnya.

Ketua HIMKI Jatim, Nur Cahyudi, menambahkan pada semester I/2019, realisasi ekspor mebel di Jatim hanya bisa US$122 juta, turun 6,5%  jika dibandingkan periode sama tahun lalu yakni US$130 juta. Begitu juga secara nasional, nilai ekspor mebel tahun lalu hanya bisa mencapai US$1,7 miliar, turun dibandingkan tahun sebelumnya US$2 miliar.

“Semester II pergerakannya tidak begitu baik, karena kita juga masih menunggu kebijakan pemerintah baru, termasuk pemerintah daerah supaya daerah ini bisa jadi daya tarik investasi. Yang terjadi industri mebel Jatim berkurang, baik kapasitas produksi maupun pasar,” ujarnya.

Menurut Nur, pemda harus membuat kebijakan yang mendukung investasi, termasuk pengusaha pun harus punya inovasi baru dalam membuat produk yang berkualitas. Salah satunya dengan penggantian atau peremajaan mesin.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten