Seorang petugas keamanan melihat kamera CCTV di pos keamanan kompleks Masjid Al Aqsha Klaten, Selasa (21/5/2019). (Solopos/Ponco Suseno)

Soloos.com, KLATEN -- Menjadi petugas keamanan masjid bukanlah pekerjaan mudah dan ringan. Apalagi untuk masjid sebesar Masjid Al Aqsha Klaten.

Salah satu petugas keamanan Masjid Al Aqsha Klaten, Suharto, 51, menceritakan beratnya tugas sehari-harinya yang tak jarang harus berhadapan kriminal. Suharto kerap harus berhadapan dengan pencuri sandal atau barang lain milik pengunjung/jemaah masjid.

Seperti pada Selasa (21/5/2019) siang. Mantan petugas keamanan bank swasta di Jakarta itu baru saja berkeliling mengawasi kondisi keamanan di kompleks Masjid Agung Al Aqsha Klaten. Siang itu kondisi di kompleks masjid terbilang kondusif.

Di dalam pos keamanan, Suharto harus sering-sering mengamati layar monitor di sudut ruangan. Layar monitor itu menampilkan rekaman kamera closed circuit television (CCTV).

Di layar monitor itu terlihat jelas beberapa lokasi yang perlu diawasi secara terus-menerus di antaranya tempat parkir, pintu masuk utama masjid, dan lainnya. Jumlah kamera CCTV mencapai 23 unit.

“Menjadi petugas keamanan di sini harus jeli melihat orang-orang yang masuk ke masjid. Benar, ini rumah Allah SWT. Tapi yang datang ke masjid ini tidak semuanya ingin salat. Tempo hari, ada orang masuk ke masjid bukan untuk salat tapi mencuri sandal dan sepatu,” kata Suharto saat ditemui wartawan di pos keamanan di kompleks Masjid Agung Al Aqsha Klaten, Selasa.

Sembari memperbaiki posisi duduknya, Suharto mulai menceritakan aksinya saat menangani pencurian sandal dan sepatu di Masjid Agung Al Aqsha Klaten, Jumat (17/5/2019) siang lalu. Waktu itu sudah masuk waktu Salat Jumat.

Suharto dan petugas keamanan lainnya, Dwi, menaruh curiga kepada seorang pengunjung masjid yang datang dari arah selatan masjid atau dari arah jalan Solo-Jogja. Pengunjung dayang itu tanpa memakai alas kaki.

Belakangan diketahui, pengunjung masjid itu bernama Heru Sutopo, 56, warga Banyudono, Boyolali. Saat di masjid, Heru Sutopo tidak salat. Dia hanya mengambil sandal kulit milik salah satu jemaah Salat Jumat di sisi timur masjid.

Heru Sutopo keluar masjid memakai sandal yang baru saja dia curi. Heru berjalan menuju ke kompleks Gedung Olahraga (GOR) Gelarsena Klaten di sebelah barat masjid. Usut punya usut, Heru Sutopo menyembunyikan sandal yang dicuri di taman dekat GOR Gelarsena.

Sukses menjalankan aksi pertamanya, Heru Sutopo kembali ke kompleks masjid. Lagi-lagi, Heru tak mengenakan alas kaki saat datang ke rumah Allah itu. Kali ini, Heru mengincar sepatu kulit milik salah satu jemaah di sisi utara masjid.

Saat Heru Sutopo mengambil sepatu kulit itu, Salat Jumat sudah rampung. “Saat Heru Sutopo mengambil sepatu itu, saya datangi dengan Pak Dwi. Semula saya tanya ke dia, apa itu sepatunya? Dijawab iya. Tapi saya tak percaya. Kebetulan, saat Heru Sutopo datang ke masjid tanpa alas kaki itu sempat dipotret Pak Dwi. Begitu diperlihatkan foto di kamera telepon seluler, Heru tak berkutik. Selanjutnya, Heru kami tangkap. Dia langsung menunjukkan lokasi sandal kulit yang telah dicurinya [di GOR Gelarsena Klaten],” katanya.

Begitu memperoleh keterangan yang jelas dan memperoleh barang bukti, Suharto mulai menghubungi anggota Polres Klaten dan anggota Polsek Klaten Utara. Pencuri sandal kulit dan sepatu kulit itu lalu digelandang ke Mapolres Klaten.

“Saat saya tanya, Heru Sutopo sempat memberikan jawaban yang atos [keras]. Saya sempat emosi juga. Setahu saya, Heru Sutopo itu sempat bekerja sebagai pengemudi bus. Mungkin karena memiliki tabiat buruk, dia dipecat dari perusahaannya,” kata Suharto.

Pengalaman menangkap pencuri yang terjadi akhir pekan lalu itu merupakan sekelumit cerita yang dialami Suharto selama mengabdikan diri sebagai petugas keamanan masjid. Selama bekerja sebagai petugas keamanan, Suharto harus sering memasang mata dan telinga terhadap berbagai aksi kejahatan yang mengintai jemaah/pengunjung masjid.

“Saya sudah ikhlas bekerja di sini meski terkadang harus bersinggungan dengan penjahat. Aksi pencurian sering terjadi di sini. Sekitar satu bulan lalu, ada juga bus jemaah disatroni maling. Tas milik pengunjung hilang. Kerugian material senilai Rp3,5 juta,” katanya.

Kapolsek Klaten Utara, AKP I Wayan Nartha, mewakili Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi, mengaku sudah menerima laporan terkait aksi pencurian di Masjid Agung Al Aqsha Klaten, Jumat (17/5/2019).

“Di kompleks masjid itu sudah kami pasangi spanduk yang intinya selalu hati-hati dan waspada. Selalu jaga dan awasi barang berharga,” katanya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten