Ilustrasi wisatawan mancanegara. (dok. Harianjogja.com)

Semarangpos.com, SEMARANG — Sekitar 1 juta lebih wistawan mancanegara (wisman) membatal kunjungannya  ke Indonesia saat momen libur Natal dan Tahun Baru 2019. Hal itu diperkirakan karena musibah bencana tsunami yang terjadi di di Selat Sunda, 22 Desember 2018.

Hal itu diungkapkan Menteri Pariwisata, Arief Yahya, saat berdialog dengan pelaku wisata di Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Grand Maerakaca, PRPP Semarang, Jumat (4/1/2019).

“Jadi bencana mempengaruhi. Ada tiga bencana besar dan dampaknya sekitar 1 juta wisman tidak jadi datang ke Indonesia,” ujar Arief.

Arief mengatakan pada libur Natal dan Tahun Baru kali ini jumlah kunjungan wisman ke Indonesia hanya naik sekitar 5%, sekitar 10 juta orang. Jumlah itu jauh lebih sedikit dibanding saat momen libur Lebaran yang mencapai 20 juta orang.

Arief menilai turunnya jumlah wisatawan asing tak terlepas dari tiga musibah besar yang terjadi di Indonesia sepanjang 2018. Pada 5 Agustus 2018, Indonesia diguncang gempa di Lombok, setelah itu gempa dan tsunami di Palu, 28 September, dan terakhir tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018 atau tiga hari menjelang perayaan Natal.

“Palu memang bukan destinasi [wisata] utama, tapi orang luar tahunya di Indonesia ada gempa dan tsunami. Sehari setelahnya, wisman turun drastis dan banyak yang melakukan pembatalan,” imbuh Arief.

Adanya bencana itu juga membuat pemerintah negara lain mengeluarkan travel advice kepada warganya yang ingin berkunjung ke Indonesia, seperti Tiongkok. Padahal selama ini Tiongkok merupakan negara penyumbang wisman terbesar di Indonesia. Namun dengan keluarnya travel advice itu, kini Tiongkok hanya menempati urutan kelima di bawah Malaysia, Singapura, Timor Leste, dan Australia.

Travel advice yang dikeluarkan Pemerintah China sangat efektif. Jumlah wisman dari China langsung turun drastis. Travel advice dianggap sebagai larangan dan mereka sangat patuh kepada pemerintahnya,” jelas Arief.

Berbeda halnya dengan turis asal Australia. Adanya travel advice dari Pemerintah Australia tak terlalu berimbas pada kunjungan warganya ke Indonesia, terutama Bali.

“Orang Australia merasa Bali adalah rumah kedua, seperti kampung halaman,” beber Arief.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten