Ilustrasi tes seleksi perangkat desa. (Solopos-Dok)

Solopos.com, KLATEN -- Sejumlah institusi mengadakan uji coba (try out) tes seleksi pengisian perangkat desa serentak pada Minggu (29/4/2018). Selain Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, yang berencana melatih warganya, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Madani juga menggelar try out.

Try out di STIA Madani tersebut terbuka untuk umum dan rencananya digelar pada Sabtu (21/4/2018) mendatang. Pendaftaran try out tersebut dimulai pada Sabtu (7/4/2018) lalu.

Koordinator try out STIA Madani, Eko Wiratno, mengatakan STIA Madani mengadakan setelah ada usulan dari para mahasiswa yang mendaftarkan diri seleksi perangkat desa. “STIA Madani juga pernah bekerja sama dengan Pemkab untuk pengujian kepada calon perangkat desa. Selain itu di STIA Madani ada jurusan Administrasi Publik dan Administrasi Bisnis yang nyambung,” kata Eko saat dikonfirmasi Solopos.com, Senin (9/4/2018).

Didasari pertimbangan itu, Eko lantas mengunggah informasi soal try out yang digelar STIA Madani sejak Sabtu malam melalui media sosial. Dari unggahan itu, ia kebanjiran pendaftar peserta try out. Kuota peserta try out itu dibatasi 100 orang. “Awalnya kuota hanya untuk 50 orang. Ternyata sudah ada 60-an pendaftar,” katanya.

Biaya masing-masing peserta try out senilai Rp100.000. Materi try out yakni tentang kiat mengerjakan materi soal ujian pengisian perangkat desa.

“Kami berikan materi bagaimana menyelesaikan soal-soal dengan tepat. Nanti peserta kami beri modul serta ada simulasi ujian dan praktik,” urai dia.

Sementara itu, kalangan DPRD Klaten menilai potensi kecurangan terkait pengisian perangkat desa di Klaten kecil. Salah satunya lantaran ujian dilakukan secara terbuka.

Sekretaris Komisi I DPRD Klaten, Sunarto, menilai kecurangan secara tersistemik kecil kemungkinan. “Kalau kecurangan tersistemik sepertinya tidak mungkin. Kalau itu ada calo-calo yang menjanjikan bisa meloloskan pasti ada. Namun, kalau tersistemik untuk meloloskan calon tertentu itu tidak. Apalagi, ujiannya juga terbuka,” kata Sunarto saat ditemui di DPRD Klaten, Senin.

Begitu pula dengan kemungkinan kebocoran soal ujian pengisian perangkat desa. Seperti diketahui, seleksi pengisian perangkat desa di Klaten digelar serentak pada Minggu (29/4/2018) melalui tes tertulis dan praktik komputer.

Penguji berasal dari perguruan tinggi yang sudah melakukan memorandum of understanding (MoU) dengan tim pencalonan pengangkatan perangkat desa (TP3D) yang dibentuk di masing-masing desa. “Kalau soal sampai bocor saya yakin perguruan tinggi tidak berani. Kalau memang ada, berarti konyol,” urai dia.

Terkait dua perguruan tinggi yakni Unwidha dan UAD yang diusulkan Pemkab ke TP3D sebagai penguji, Sunarto mengatakan Pemkab sebatas memberikan masukan kepada TP3D. Kewenangan menentukan perguruan tinggi berada di tangan tim yang dibentuk kades tersebut. “Kalau mau menggunakan perguruan tinggi lainnya kan itu kewenangan TP3D,” kata Sunarto.


Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten