Petugas DLH Solo memindahkan pohon yang terdampak flyover Purwosari di Jl. Slamet Riyadi, Kerten, Laweyan, Senin (13/1/2020). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo terus memindahkan pohon-pohon terdampak flyover Purwosari. Pohon-pohon itu kemudian dibawa dan disimpan di gudang DLH yang bersebelahan dengan Taman Balekambang.

Ketinggian pohon itu bervariasi antara satu meter hingga tiga meter. Bagian bawah pohon dibungkus karung berwarna putih. Sebagian dari karung itu tertanam di dalam tanah. Bagian atas pohon angsana dan asam kranji menyisakan dahan-dahan dan ranting yang nyaris tanpa daun.

Batang pohon itu diletakkan dengan hati-hati di lubang tanah yang disediakan. "Teknik kami memindahkan pohon memang seperti itu, mengurangi dedaunan dan sedikit memangkas akar. Tentunya dengan pertimbangan khusus dengan upaya menyelamatkan pohon. Ada beberapa teknik kalau memindahkan pohon yakni dikeruk sampai akarnya dengan alat berat. Tapi itu tidak memungkinkan karena medannya bukan hutan atau kebun," ujar Kepala DLH Kota Solo, Gatot Sutanto, saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, pekan lalu.

Ia menyebut teknik pemindahan pohon dengan mengurangi daun itu bertujuan mengurangi penguapan dikarenakan akar sebagai penyerap air banyak berkurang. Ketinggian pohon yang maksimal hanya 3 meter bermanfaat saat penanaman kembali karena pohon belum memiliki akar yang kuat.

Ia menjelaskan pohon-pohon di Gudang DLH itu sedang menjalani tahapan karantina sebelum dipindahkan dan ditanam kembali di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Taman Satwa Taru Jurug, dan Makam Bong Mojo, Kecamatan Jebres. Ia menyebut masa karantina sekitar empat bulan bahkan lebih.

Warga Sidoharjo Sragen Dipatuk Ular Hijau

Selama masa karantina DLH menyiapkan lokasi penanaman kembali. Pohon-pohon harus dipertahankan agar tetap hidup. Dalam hal ini, DLH menggunakan hormon penyubur akar.

"Untuk memulihkan kondisi pohon itu butuh waktu cukup lama. Ibaratnya usia manusia semakin tua semakin lama pulihnya. Masa karantina itu untuk memulihkan kondisi akar karena banyak terpangkas. Lalu, menyehatkan pohon dari luka-luka saat pemindahan, seperti pemberian tanah khusus serta menjaga pohon dari penyakit. Media tanam yang digunakan juga tanah khusus untuk menjaga pohon," imbuh eks Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Solo itu.

Gatot menyebut cairan penyubur akar atau rootone jadi andalan untuk segera menumbuhkan akar pohon. Cara-cara tradisional seperti menyiram pohon menggunakan air cucian beras atau memanfaatkan kulit bawang putih juga jadi pilihan.

Ia mengakui saat ini banyak tekanan dari masyarakat terkait pemindahan pohon itu. Ia menegaskan Pemkot Solo tidak ada niatan mencari jalan pintas dengan menebang pohon lalu mengganti dengan 10 pohon baru untuk setiap pohon yang ditebang.

Ia menyebut petugas tidak akan tega ketika merawat setiap hari pohon berusia puluhan bahkan ratusan tahun itu. Apalagi, pohon-pohon itu telah memberikan sumbangan kehidupan selama ini.

Ia menjelaskan pemindahan pohon itu tidak termasuk dalam anggaran pembangunan flyover Purwosari. Pemindahan pohon itu menggunakan anggaran pemeliharaan dan baru diusulkan pada APBD-P 2020.

Pelajar Pembunuh Begal Terancam Penjara Seumur Hidup, Bagaimana dalam Hukum Islam?

Setelah flyover Purwosari selesai dibangun, Gatot telah merencanakan untuk pohon peneduh di kawasan itu, termasuk di konstruksi flyover kelak dia mengusulkan agar dapat dimanfaatkan sebagai lokasi teduh penghijauan dengan ditanami tanaman rambat.

"Bagi kami pemindahan pohon ini kerja ekstra keras. Cemoohan sangat mengena bagi kami. Tetapi ini tantangan bagi kami untuk mencetak sejarah memindah pohon sebanyak itu," imbuhnya.

Seperti diketahui, ada 377 pohon di kawasan Purwosari yang terdampak flyover. Tadinya pohon-pohon itu akan ditebang, namun kemudian Pemkot Solo memutuskan pohon itu dipindahkan ke lokasi lain.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten