Trend Hybrid Learning dalam PPKM Level di Dunia Pendidikan

Opini ini ditulis Atiek Rachmawati, S.S, Alumnus Prodi Sastra Daerah FSSR (sekarang FIB) UNS dan Guru Bahasa Jawa SMA N 2 Grabag, Magelang.

 Ateik Rachmawati (Istimewa)

SOLOPOS.COM - Ateik Rachmawati (Istimewa)

Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan kembali memperpanjang kebijakan PPKM per level, di mana perpanjangan berlangsung mulai 5 Oktober-18 Oktober 2021 mendatang. Sementara angin segar berembus di dunia pendidikan dengan adanya pengajuan perizinan untuk melakukan simulasi pembelajaran tatap muka dan pembelajaran tatap muka terbatas (PTM Terbatas).

Seperti dikemukakan di laman https://jatengprov.go.id/, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Suyanta, mengatakan kebijakan tersebut berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri), yang ditindaklanjuti dengan Instruksi Gubernur Jawa Tengah Nomor 10 Tahun 2021 tentang Implementasi Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, Level 3 dan Level 2 Corona Virus Disease di Provinsi Jawa Tengah. Terkait pendidikan, untuk sekolah yang berada pada level 4 tetap tidak diperkenankan menyelenggarakan PTM (pembelajaran tetap dilakukan secara daring). Sedangkan untuk daerah kabupaten/kota yang level 2 dan level 3 diperbolehkan melaksanakan PTM terbatas.

Ancaman berbagai varian Covid-19 yang masih menghantui di sekitar kita, membuat tidak serta-merta semua sekolah langsung melakukan PTM terbatas. Namun, sekolah harus melalui proses perizinan dan simulasi dengan berbagai kesiapan, persyaratan yang harus dipenuhi, dan adanya evaluasi setelah proses simulasi berjalan. Perizinan yang dilakukan sekolah meliputi surat izin dari orang tua yang mutlak harus ada, perizinan ke puskesmas, perizinan ke Gugus Tugas Covid-19 kecamatan dan pengajuan rekomendasi Dinas Pendidikan kabupaten/kota, dan verifikasi cabang Dinas Pendidikan.

Jika semua perizinan sudah disetujui, satuan pendidikan bisa melakukan simulasi PTM yang berlangsung selama 2 pekan dengan ketentuan, (1) Satuan Pendidikan hanya diizinkan menyelenggarakan simulasi PTM dengan maksimal 4 rombel dengan jumlah siswa per rombel maksimal 18 orang. (2) Pembelajaran maksimal 30 menit dalam 1 jam pembelajaran dan sehari maksimal 4 jam pembelajaran. (3) Dalam 1 ruang kelas, diatur jaraknya minimal 1,5 meter. (4) Selesai pelajaran siswa langsung pulang, tidak ada kegiatan ekstra dan tidak ada istirahat. (5) Siswa dalam kondisi sehat. (6) Ada perizinan dari orang tua. (7) Diutamakan siswa yang berada di sekitar zonasi sekolah atau jarak maksimal 7 km dari sekolah atau menggunakan moda transportasi kendaraan sendiri selama melakukan perjalanan ke sekolah.

Kesiapan sekolah dalam melakukan simulasi PTM dan atau PTM terbatas dimulai dari kelengkapan sarana dan prasarana yang harus disediakan sekolah. Setiap Satuan Pendidikan harus siap dengan SOP pelaksanaan simulasi PTM. Menyiapkan sarana dan prasarana dengan lengkap sesuai dengan standar 5M dalam protokol kesehatan.

Selain penyiapan sarana dan prasana dalam standar protokol kesehatan, inovasi baru yang disiapkan sekolah adalah metode pembelajaran yang bisa mengakomodasi siswa yang ada di sekolah ataupun yang ada di rumah. Munculnya sistem pembelajaran berbasis hybrid learning dan blended learning mengemuka di setiap Satuan Pendidikan. Pastinya setiap Satuan Pendidikan berusaha untuk mewujudkan dan mengakomodasi sistem pembelajaran tersebut sehingga siswa bisa segera diajak untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru pada situasi pandemi ini.

Dari Sevima.com disebutkan hybrid learning adalah pembelajaran yang menggabungkan berbagai pendekatan dalam pembelajaran yakni pembelajaran tatap muka, pembelajaran berbasis komputer dan pembelajaran berbasis online (Internet dan mobile learning). Sedangkan blended learning adalah pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap-muka dan secara virtual. Blended learning juga sebagai sebuah kombinasi pengajaran langsung (face-to-face) dan pengajaran online, tapi lebih daripada itu sebagai elemen dari interaksi sosial. Hybrid learning dan juga blended learning adalah sebuah metode yang dapat menjadi sebuah alternatif pembelajaran dengan penggabungan model pembelajaran tatap muka di sekolah dan pembelajaran online.

Sistem pembelajaran yang belakangan menjadi tren ini memang terbukti menjadi solusi ampuh untuk terus mengawal siswa agar tidak semakin jenuh dan terjebak dalam learning loss mereka. Metode ini dinilai lebih efektif dan efisien serta dapat menjadikan pengembangan keterampilan digital dari siswa ataupun dari para pendidik.

Teknis Hybrid Learning

Teknis yang dipakai dalam metode hybrid learning ini adalah siswa yang datang ke sekolah adalah dengan kuota 50 persen. Misalnya, jika terdapat 36 jumlah siswa di kelas, yang diperkenankan mengikuti pembelajaran hanya 18 siswa saja. Sisanya (18 siswa yang lain) wajib melakukan pembelajaran secara daring di rumahnya masing-masing di waktu yang bersamaan sesuai dengan jadwal yang diberikan sekolah.

Seperti pembelajaran biasanya, guru juga wajib membuat silabus dan rencana pembelajaran. Silabus dan RPP ini bisa dirancang dengan pola blended untuk bisa mengakomodasi siswa secara luring ataupun daring tersebut. Materi yang disampaikan secara luring atau tatap muka di kelas, juga bisa diakses siswa secara daring melalui berbagai platform PJJ yang digunakan. Ini diharapkan agar para siswa bisa memahami materi yang disampaikan oleh guru dengan mudah dan tidak berbatas media dan juga waktu.

Satuan pendidikan ataupun guru bisa memanfaatkan fasilitas interaksi daring dengan Learning Management System (LMS). Misalnya Google Meet, Zoom Meet, Microsoft Teams, Free Conference Call (FCC) dan media pembelajaran lainnya. Adanya interaksi aktif antara guru dan siswa diharapkan bisa kembali membangun proses kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien.

Model hybrid learning ini memang menawarkan solusi dan menjadi tren baru di kalangan dunia pendidikan. Namun, tetap ada risiko yang benar-banar harus diperhatikan. Adanya interaksi antar siswa yang berada di sekolah menjadi salah satu hal yang harus menjadi perhatian utama. Karenanya, masing-masing dari guru ataupun tenaga pendidikan harus gencar mengingatkan standar Prokes 5M kepada para siswa. Setelah siswa selesai melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah, perlu adanya kedisiplinan dari siswa untuk benar-benar langsung pulang menuju ke rumahnya masing-masing dan segera membersihkan dirinya.

Sementara guru bisa memantau dengan cara meminta siswa share location dan mengirimkan kepada guru melalui aplikasi WhatsApp. Siswa yang berada di rumah dengan adanya jadwal pembelajaran daring yang ditetapkan bersamaan dengan pembelajaran tatap muka di sekolah, juga masih akan menemui kendala terkait dengan kuota Internet ataupun jaringan Internet yang kurang bersahabat. Sehingga tidak memungkinkan, jumlah siswa yang diharapkan bisa mengikuti pembelajaran daring dengan metode hybrid learning tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Namun begitu, segala risiko dan kendala yang dihadapi hanya akan menjadi sedikit catatan jika sistem dijalankan dengan kesadaran tinggi dan kedisiplinan menerapkan prokes yang ketat. Ini merupakan sebuah upaya mengendalikan learning lossĀ pada siswa sehingga siswa tidak semakin kehilangan pengetahuan dan keterampilan tertentu yang pastinya akan berdampak pada kemunduran proses akademik.

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) tidak bisa dimungkiri belum sepenuhnya efektif dan membuat siswa kehilangan pembelajaran. Kerja sama yang baik dengan melibatkan peran orang tua, guru, dan lingkungan satuan pendidikan menjadi bagian penting dari keberhasilan pendidikan siswa, karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.


Berita Terkait

Berita Terkini

Peran Pemberitaan Pemerintah dalam Komunikasi Publik Masa Kini

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten

Sistem Pembayaran Pensiun di Indonesia

Opini ini ditulis Yuniar Yanuar Rasyid, Widyaiswara Ahli Utama Pusdiklat AP Kementerian Keuangan.

Trend Hybrid Learning dalam PPKM Level di Dunia Pendidikan

Opini ini ditulis Atiek Rachmawati, S.S, Alumnus Prodi Sastra Daerah FSSR (sekarang FIB) UNS dan Guru Bahasa Jawa SMA N 2 Grabag, Magelang.

Selama 16 Tahun Berhasil Provokasi Puluhan Orang Tinggalkan Zona Nyaman

Esai ini ditulis oleh Dr Aqua Dwipayana, Penulis Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.