Flyover Manahan. (Solopos-dok)

Solopos.com, SOLO -- Pembangunan jalan layang (flyover) di Kota Solo menuai kritik. Seperti diketahui, setelah selesai dengan pembangunan flyover (FO) Manahan, tahun ini pembangunan FO Purwosari dimulai.

Lingkar Studi Transportasi (Transportologi) Solo menolak pembangunan jalan layang di Solo didasari kondisi ruas-ruas jalan yang sempit atau kurang luas.

“Ruang-ruang di Solo peninggalan Belanda. Jalannya kecil-kecil. Kalau dibangun flyover ruangnya sempit,” ujar pegiat Transportologi, Sukma Larastiti, 30, saat diwawancara solopos.com, Rabu (15/1/2020).

Opsi memperluas FO diakui Lala, panggilan akrabnya, sebenarnya bisa dilakukan dengan membebaskan lahan di sekitarnya. Tapi pemerintah berkecenderungan tak melakukan itu mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan.

Dia mencontohkan FO Manahan yang karena sempit malah memunculkan titik konflik baru.

“Kalau membuat jalan naik ke atas seharusnya tidak menimbulkan titik konflik baru. Ketika ada titik konflik baru, berpotensi terjadinya kecelakaan dan penumpukan kendaraan ketika arus kendaraan yang naik banyak. Apa yang terjadi di FO Manahan menyalahi buku kuning sistem transportasi, tak direkomendasikan,” imbuh dia.

Lala mengusulkan dilakukan riset inspeksi keselamatan jalan untuk menyikapi teranjur dibangunnya FO Manahan dengan desain seperti itu. Dari hasil riset itu bisa ditentukan langkah atau solusi yang mesti dilakukan.

Dia juga menyoroti pembangunan median jalan di pintu-pintu masuk FO Manahan yang dinilai membahayakan.

“Kalau dilihat dari aspek desain keselamatan jalan tergolong tidak layak,” kata dia.

Sedangkan ihwal pembangunan FO Purwosari, Lala mengaku belum mengetahui detail desainnya. Tapi untuk lebar per jalurnya dinilai sudah cukup baik bila bisa 5,5 meter. Justru persoalan (konflik) menurut dia bisa terjadi di bagian bawah FO itu.

Dia khawatir bakal dilakukan pembersihan trotoar atau pohon peneduh di Jl. Perintis Kemerdekaan untuk bisa dilalui kendaraan berat. Lala juga khawatir getaran yang ditimbulkan kendaraan-kendaraan berat akan mengancam Omah Lowo yang masuk cagar budaya.

“Saya ndak tahu seberapa kuat menahan getaran,” urai dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten