Tutup Iklan
Solo Great Sale (Solopos-Dok)

Solopos.com, SOLO — Transaksi yang tercatat selama penyelenggaraan Solo Great Sale 2019 mencapai Rp450 miliar atau 75% dari target. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Solo selaku penyelenggara menargetkan transaksi SGS untuk kali kelima ini senilai Rp600 miliar.

Di sisi lain, nilai transaksi nontunai SGS di pasar tradisional sejauh ini masih minim. Sekretaris SGS 2019, David R. Wijaya, mengatakan transaksi SGS yang tercatat hingga Senin (25/2/2019) mencapai Rp450 miliar. 

“Total transaksi yang sudah direkap itu kebanyakan masih pembayaran tunai. Kami yakini masih banyak datanya yang belum ter-input sehingga kami juga jemput bola ke tenant-tenant. Dalam hal ini panitia siap membantu input data,” ujarnya, kepada wartawan, Selasa (26/2/2019).

Lebih lanjut David memaparkan pihaknya monitoring dan proaktif keliling ke pasar-pasar tradisional untuk memastikan input data. Menurutnya, kebanyakan para pedagang memasukkan hasil transaksi atau pembayaran langsung, sementara yang berupa pesanan belum terdata.

Sebagai contoh, pedagang mendapat order berupa sayuran dalam jumlah banyak untuk katering rumah makan.

Selain itu, pihaknya menengarai banyak tenant atau merchant yang menunda untuk input data transaksi. Hal semacam inilah yang disisir panitia agar semua terdata dan terekap. 

Di sisi lain, dari total transaksi tersebut, paling banyak di bidang transportasi (kereta api dan pesawat terbang), disusul otomotif. Setelah itu baru mal atau pusat perbelanjaan kemudian hotel.

“Di samping itu, transaksi nontunai khususnya untuk pasar tradisional belum signifikan. Dari 2.500 pedagang yang ikut serta baru 10% yang melakukan. Memang ada sejumlah kendala yang dihadapi seperti dianggap ribet prosesnya,” imbuhnya.

Hal yang dimaksud adalah ribetnya proses transaksi nontunai yang mesti menggunakan mesin electronic data capture (EDC). Selain itu, masih banyaknya praktik surcharge yang dianggap membebani konsumen.

Bank Indonesia juga menilai transaksi nontunai selama penyelenggaraan SGS oleh para pedagang tradisional belum maksimal. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Bandoe Widiarto, mengatakan hal itu karena terkendala persoalan infrastruktur yang disediakan sejumlah perbankan.

“Masih rendahnya transaksi nontunai yang dilakukan para pedagang di pasar tradisional karena persoalan infrastruktur, yakni ketersediaan mesin EDC yang masih minim. Kalau EDC siap, pedagang siap, enggak masalah,” paparnya.

Bandoe menambahkan dari 44 pasar tradisional yang berpartisipasi, pihaknya mencatat baru 20% yang tersedia mesin EDC. Maka dari itu, pihaknya menggandeng perbankan untuk menggenjot sektor ini ke depannya agar banyak pasar yang kian aktif ikut serta.

“Apalagi pasar tradisional ini juga dilombakan. Kategorinya adalah pasar transaksi nontunai dan pasar terheboh. Dari BI ada uang pembinaan senilai Rp29 juta,” jelasnya. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten