Ilustrasi (JIBI/Rachman)

Solopos.com, SEMARANG — Hujan sudah mulai mengguyur beberapa wilayah di Jawa Tengah (Jateng) belakangan ini. Meski demikian, bencana kekeringan akibat kemarau berkepanjangan rupanya belum juga surut.

Bahkan, akibat kemarau yang  berkepanjangan itu sekitar 78.000 hektare lahan pertanian di Jateng mengalami kekeringan. Tragisnya, dari 78.000 ha lahan yang mengalami kekeringan itu sekitar 25.000 ha di antaranya mengalami puso atau gagal panen.

Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultural dan Perkebunan (BPTPHP) Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng, Herawati, menyebutkan lahan pertanian yang mengalami kekeringan di Jateng cukup merata.

“Kekeringan terjadi di hampir seluruh wilayah Jateng. Ada 32 kabupaten/kota yang lahan pertaniannya mengalami kekeringan dan puso. Terbanyak di Cilacap,” ujar Herawati kepada Solopos.com, beberapa waktu lalu.

Herawati menuturkan lahan pertanian di Cilacap yang mengalami kekeringan tercatat mencapai 18.000 ha, di mana 6.236 hektare di antaranya mengalami gagal panen atau puso.

Selain Cilacap, kekeringan juga melanda lahan pertanian di Grobogan sekitar 10.757 ha, di mana 1.827 ha di antaranya mengalami puso. Sementara di Wonogiri, lahan petani yang mengalami kekeringan mencapai 5.758 ha, di mana 1.516 ha di antaranya mengalami puso.

“Tapi kalau yang mengalami puso terbanyak setelah Cilacap itu di Kebumen dan Pati. Di Kebumen dari 4.565 ha lahan petani yang kekeringan, 2.661 ha di antaranya mengalami puso. Sedangkan di Pati dari 4.153 ha yang mengalami kekeringan, 2.702 hektare di antaranya gagal panen,” tutur Herawati.

Herawati menambahkan kekeringan di Jateng pada tahun ini memang terbilang ekstrem jika dibandingkan tahun lalu. Pada tahun 2018, musim kemarau hanya berimbas kekeringan pada lahan pertanian sekitar 16.900 ha.

“Tahun ini jumlah lahan yang mengalami kekeringan meningkat empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Mungkin karena musim kemarau tahun ini cukup panjang. Bahkan prediksinya, November sudah musim penghujan juga meleset. Hujan memang turun tapi intensitasnya masih sedikit, sehingga tidak terlalu memberi dampak pada lahan petani,” imbuh Herawati.

Herawati menyatakan lahan petani yang mengalami gagal panen itu bisa mendapat ganti rugi dari pemerintah, baik pusat maupun provinsi melalui Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Meski demikian, AUTP hanya disediakan bagi petani yang bercocok tanam padi dan sudah mendaftar. Meski demikian, Herawati mengaku belum banyak petani di Jateng yang memanfaatkan asuransi itu

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten