Wanita menangis saat pemakaman massal korban ledakan tambang di Soma, Turki, Rabu (15/5/2014). (JIBI/Solopos/Reuters)

Solopos.com, SOMA – Aksi protes besar-besaran terjadi di Soma, Turki, setelah tragedi di tambang batu bara setempat yang menewaskan sedikitnya 298 orang. Polisi melepaskan tembakan gas air mata, peluru plastik, dan meriam air untuk membubarkan massa.

CNN.com melaporkan massa meneriakkan “jangan tidur Soma, ingat kematianmu!” sambil berlarian di jalan-jalan kota di bagian barat Turki itu. Bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi itu terjadi dua hari setelah sebuah foto yang menunjukkan ajudan Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan yang bernama Yusuf Yerkel menendang seorang demonstran. Gambar itu telah menjadi simbol kemarahan massa kepada pemerintah Erdogan.

Tak hanya itu, sebuah video juga menunjukkan Erdogan sedang mengatakan sesuatu kepada seseorang seperti dilansir stasiun televisi DHA. Dalam video itu, Erdogan mengatakan "Apa yang terjadi, sudah terjadi. Ini dari Tuhan. Jika kamu mengolok-olok perdana menteri, kamu bakal ditampar," kata Erdogan dalam bahasa Turki.

Sementara itu, upaya penyelamatan masih berlangsung. Tim penyelamat masih mencari para korban yang terjebak di dalam tambang bawah tanah yang meledak Selasa (13/5/2014) lalu.

Jumat lalu, seorang pejabat perusahaan tambang tersebut menyatakan para pekerja tidak boleh memasuki tempat perlindungan setelah terjadi ledakan. Padahal tempat itu memungkinkan mereka terlindung dari api dan asap beracun.

Menanggapi isu itu, manajer tambang, Akin Celik, berkilah dengan mengatakan pihaknya menutup tempat perlindungan darurat itu karena penggalian dipindahkan ke area yang lebih dalam. “Para penambang membangun sebuah bilik perlindungan baru di tempat yang lebih dalam, tapi belum selesai,” katanya.

Pemilik perusahaan tambang tersebut, Alp Gurman, malah menambah ricuh suasana. Dia mengatakan tambang yang dia operasikan telah menggunakan standar tertinggi sesuai hukum Turki. Jadi, katanya, perusahaan itu tidak wajib membangun ruang perlindungan di lokasi tambang.

Sabtu (17/5/2014) dini hari, Direktorat Bencana Alam dan Koordinasi Darurat setempat mengatakan jumlah korban meninggal dunia saat ini mencapai 298 orang. Namun mereka belum bisa mengungkap berapa banyak penambang yang masih terjebak di bawah tanah. Pemerintah setempat masih menyebut korban yang terjebak sebanyak 18 orang.

Petugas penyelamat sudah tidak menemukan korban yang masih bertahan hidup sejak Rabu (14/5/2014) lalu. Proses penyelamatan terhalang asap dan gas sisa ledakan.

Akin Celik juga enggan memberitahukan penyebab kejadian itu meskipun ada dugaan api berasal dari ledakan trafo. “Kami tidak tahu apapun, belum pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya. Kami masih mencari tahu.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten