TRAGEDI PEMBUNUHAN ANGELINE : Hasil Lie Detector, Agus Banyak Benar, P2PT2A Hadirkan Saksi Baru
Siswa SDN Nayu Barat 2 Solo kirim doa untuk Angeline, Jumat (12/6/2015). (Reza Fitriyanto/JIBI/Solopos/ilustrasi)

Tragedi pembunuhan Angeline menarik banyak saksi untuk mengungkap peristiwa sebenarnya.

Solopos.com, DENPASAR — Tersangka pembunuhan Angeline, Agus Tae, dites pihak penyidik menggunakan alat pendetektor kebohongan atau lie detector. Berdasarkan hasil uji kebohongan tersebut, pernyataan Agus bisa dipercaya.

Berdasarkan hasil uji kebohongan, Kepala Kepolisian Daerah Bali Inspektur Jenderal Ronny Sompie menyatakan keterangan yang diungkap Agus mayoritas benar.

"Informasi yang diberikan dalam berita acara pemeriksaan saat terakhir, banyak informasi yang benar yang bisa dipercaya," kata Ronny, di Denpasar, sebagaimana dilansir Okezone, Senin (22/6/2015).

Meski begitu, Ronny dan pihaknya masih akan mengkaji lagi informasi-informasi Agus dengan hasil pemeriksaan forensik dan alat bukti yang berhasil dikumpulkan penyidik.

"Selain itu juga hasil olah di tempat kejadian perkara saat awal jenazah ditemukan dan olah TKP lainnya," ucap mantan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri itu.

Sementara itu, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Denpasar, Bali, kembali menghadirkan satu sakasi kasus pembunuhan Angeline. Saksi tersebut adalah Rahmat Handoyo.

Menurut juru bicara P2TP2A, Siti Sapurah, saksi Rahmat pernah ngekos di rumah Margriet dan melihat kejadian ganjil. Rahmat memergoki Agus bolak-balik membawa tanah bekas menggali lubang di kandang ayam milik Margrie, dari belakang rumah ke depan rumah. Kesaksian Rahmat tersebut membuat Siti merasa ada sesuatu yang aneh.

"Sangat janggal itu. Agustinus disuruh menggali lubang itu diduga untuk mengubur Engeline. Jangankan itu, pot pindah saja majikannya marah-marah, apalagi sampai membuang tanah bolak-balik. Kalau tidak tahu itu sudah tidak masuk logika," jelas Siti sebagaimana dilansir Detik, Selasa (23/6/2015).

"[Pengakuan Handoyo] Bisa langsung kroscek ke tersangka. Karena ini temuan baru yang sebelumnya belum diungkapkan," pungkas Siti.

Rahmat sendiri sempat ngekos di rumah Margriet selama tiga tahun. Lalu ia keluar setelah jasad Angeline ditemukan pada Rabu (10/6/2015). Berbeda dengan tiga saksi yang sebelumnya pernah dibawa Siti, yaitu Francky Maringka, Yuliet Christien, dan Loraine Soriton, Rahmat yang masih tinggal di kawasan rumah Margriet tersebut merasa tidak perlu perlindungan.

"Masih di luar. Tadi kan saya mau amankan dia [Rahmat], tapi katanya, enggak apa-apa kok [di luar] saya sama adik," Ujar Siti.

“Tadinya kan mau saya jadikan satu dengan saksi-saksi yang lain, tapi dia enggak mau," jelas Siti.

Sebelumnya, Angeline, bocah delapan tahun dikabarkan hilang oleh anggota keluarga angkatnya pada 16 Mei 2015. Lalu, publik dikejutkan dengan temuan jasad Angeline atau Engeline di belakang rumah ibu angkatnya, Margriet.

Hampir membusuk, jasad Angeline sempat ditahan di RS Sanglah Denpasar untuk diautopsi. Sepekan diperiksa penyidik, jasad Angeline dibawa pulang dan dikebumikan di tempat asal orang tua kandungnya, Rasyidin dan Hamidah, di Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (16/6/2015) lalu.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom