Tragedi Itaewon dan Filsafat Kerumunan

Kerumunan massa yang begitu antusias dan gembira merayakan Halloween setelah dua tahun sebelumnya ditiadakan akibat pandemi justru berujung tragis.

 Satrio Wahono (Solopos/Istimewa)

SOLOPOS.COM - Satrio Wahono (Solopos/Istimewa)

Solopos.con, SOLO — Mengerikan!  Itulah kesan yang terlintas dalam benak banyak orang ketika mengetahui berita tentang tragedi perayaan Halloween di Itaewon, Korea Selatan, pada 29 Oktober 2022 malam. Kerumunan massa yang begitu antusias dan gembira merayakan Halloween setelah dua tahun sebelumnya ditiadakan akibat pandemi justru berujung tragis.

Begitu banyak manusia di satu tempat membuahkan keterimpitan massal (crowd crush) yang berakibat pada setidaknya 156 orang meninggal, termasuk kabarnya dua orang warga negara Indonesia, dan 172 orang cedera.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Ironi mendalam dari tragedi ini adalah lokasi terjadinya yang di salah satu negara maju Asia, yaitu Korea Selatan, dan kenyataan bahwa ini adalah bencana terburuk yang dialami negeri itu pada masa damai.

Sejumlah pejabat publik Korea Selatan mengatakan tragedi itu terjadi karena beberapa faktor, seperti kurangnya respons memadai (adequate response) dalam menangani kerumunan dan kurangnya studi atau penelitian mengenai kerumunan massa.

Esai ini saya tulis untuk urun rembuk menelisik akar filosofis dari kerumunan dan bagaimana kaitannya dengan peristiwa berdarah Itaewon. Salah seorang filsuf yang berfokus membahas tema kerumunan adalah Elias Canetti (1905-1994).

Dalam buku Crowds and Power (dikutip dari Reza Wattimena, Filsafat Anti Korupsi, Kanisius, 2012, hal. 79-81), Canetti menyatakan manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang takut bersentuhan dengan yang asing dari dirinya.

Pemahaman ini berubah setelah manusia masuk menjadi massa bersama manusia-manusia lainnya. Di dalam massa, manusia menjadi tidak takut untuk bersentuhan dengan manusia lain walaupun mereka tak saling mengenal secara pribadi. Sebaliknya, manusia merasakan nikmat ketika bersentuhan dengan manusia lainnya saat menjelma menjadi massa.

Massa dalam pengertian Canetti adalah massa yang padat, yaitu terdiri atas tubuh-tubuh manusia yang saling berdesakan. Tubuh itu anonim dalam arti tidak mengenal satu sama lain, namun menjelma menjadi satu gerak, yakni gerak massa.

Di dalam massa, manusia berubah menjadi apa yang bukan dirinya dan menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang memiliki cara berpikir maupun pola perilaku yang amat berbeda dari sebelumnya.

Menurut Canetti, manusia-manusia modern yang cenderung individualistis akan kehilangan individualitasnya di dalam massa dan melebur menjadi tubuh kolektif. Di dalam massa, orang dengan senang hati menyerahkan otonomi dirinya, ruang privatnya, dan ruang intimnya kepada kolektivitas.

Dari perspektif filosofis seperti inilah kita bisa memahami peristiwa tragedi di Itaewon. Manusia-manusia Korea Selatan secara umum terkenal sebagai individu-individu yang tinggal di masyarakat maju lengkap dengan kultur yang sangat kompetitif hingga kadang-kadang mencapai taraf mengidap tekanan mental.

Segala kesempatan untuk melebur di dalam massa dengan jumlah besar menjadi sarana katarsis menggiurkan, apalagi acara perayaan Halloween itu diadakan sesudah lebih dari dua tahun tidak ada aktivitas keramaian akibat pandemic Covid-19.

Tradisi perayaan Halloween yang mendorong orang menggunakan topeng atau dandanan unik ala monster tentu kian mengentalkan elemen anonimitas di dalam massa.

Sayangnya, euforia yang kemudian berhasil mengumpulkan ratusan ribu manusia di satu tempat itu tidak diorganisasi oleh satu atau beberapa kelompok penanggung jawab tertentu.

Massa itu juga tidak diawasi secara ketat oleh aparat keamanan, padahal sifat massa atau kerumunan yang mengandung elemen anonimitas tinggi akan membuat perilaku individu di dalam kerumunan bisa berubah dan menjadi tidak dapat diprediksi.

Di sinilah kita bisa memahami adanya selentingan soal munculnya segerombolan orang berbando kelinci di Itaewon yang memprovokasi individu-individu di dalam kerumunan untuk saling mendorong.

Jika selentingan yang salah satunya diungkapkan youtuber Seon Yeo Jung itu benar, perilaku gerombolan itu termasuk dalam jenis perilaku menyimpang yang memang sulit diprediksi dan rawan terjadi di dalam kerumunan yang bersifat anonim dan kadang anomie (ketiadaan nilai).

Sumbangan filsafat Canetti setidaknya memberi kita dua pelajaran untuk mengantisipasi tragedi serupa terulang di mana saja, termasuk di Indonesia. Pertama, pada era manusia sekarang rindu untuk berkumpul setelah pelonggaran pembatasan sosial akibat pandemi Covid-19, aparat keamanan harus mengantisipasi acara-acara  (event) apa saja yang berpotensi mengundang kerumunan besar dan kemudian memberikan respons yang sesuai dan memadai (proper and adequate) untuk itu.

Kedua, segala acara yang bisa mengundang kerumunan besar harus dipastikan memiliki penyelenggara (event organizer) sebagai penanggung jawab, entah itu berupa penanggung jawab resmi suatu acara atau komunitas-komunitas yang saling mengawasi dan mengoordinasikan gerakan kerumunan yang ada di bawah pengawasan mereka. Kita tentu berharap peristiwa seperti ini tidak lagi menimpa siapa pun, di mana pun, pada kemudian hari.

(Esai ini terbit di Harian Solopos edisi 18 November 2022. Penulis adalah alumnus Magister Filsafat Universitas Indonesia)

Daftar dan berlangganan Espos Plus sekarang. Cukup dengan Rp99.000/tahun, Anda bisa menikmati berita yang lebih mendalam dan bebas dari iklan dan berkesempatan mendapatkan hadiah utama mobil Daihatsu Rocky, sepeda motor NMax, dan hadiah menarik lainnya. Daftar Espos Plus di sini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Solopos.com - Panduan Informasi dan Inspirasi

Berita Terkait

Berita Lainnya

      Berita Terkini

      Guru Era Metaverse

      Metaverse adalah dunia baru pelengkap dunia realitas. Menurut disrupto.co, meta adalah digital, sedangkan universe berarti semesta. Digabungkan menjadi semesta digital. Perwujudan metaverse tidaklah sesederhana itu.

      Efek Gibran

      Keberadaan Gibran sebagai Wali Kota Solo sekaligus anak Presiden Joko Widodo pasti berbeda dibandingkan dengan status wali kota atau bupati yang tak punya hubungan kekeluargaan dengan presiden.

      Angkringan

      Konon angkringan ada sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia. Menurut sejumlah sumber, angkringan lahir dari inovasi warga Kabupaten Klaten bernama Eyang Karso Dikromo pada 1930-an.

      Demokrasi ala Muhammadiyah

      Gawe Muhammadiyah wis rampung (hajatan besar Muhammadiyah telah usai). Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah telah berakhir. Kini Muhammadiyah dan Aisyiyah kembali bekerja untuk bangsa dan semesta.

      Wisata Wedding

      Para insan pariwisata Solo bisa berharap pernikahan Kaesang-Erina bisa menjadi momentum agar orang-orang luar kota yang punya budget cukup bisa menjadikan wedding di Solo sebagai pilihan. Bali bisa menjadi contoh adanya wisata wedding ini. Banyak orang luar negeri yang melaksanakan pernikahan di Balik karena eksotisme budaya dan tradisinya.

      Menyikapi Pro Kontra Gestur Jerman di Piala Dunia 2022

      Sikap FIFA melarang ekspresi politis di lapangan adalah gagasan utopis.

      Kecacatan Editor Tulisan

      Sistem media digital mereduksi kaidah struktur penulisan kata sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)—kini kembali ke Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

      Buya Turun dari Menara Gading

      Dosen semestinyamengajar, meneliti, menulis, juga mendampingi masyarakat. Dosen ideal juga mengajak mahasiswa terjun ke masyarakat untuk melihat persoalan lalu mencarikan solusi. Blusukan dan berdialog dengan warga akar rumput.

      Dari Bon Raja, Taman Satwa Taru Jurug, hingga Solo Safari

      Cikal bakal Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) yang kini sedang direvitalisasi menjadi Solo Safari semula adalah kebun binatang di Taman Sriwedari yang dibangun pada 1901 dengan sebutan Kebon Raja atau Bon Raja.

      Aneka Masalah untuk Rektor UNS

      Universitas Sebelas Maret (UNS) baru saja menyelesaikan hajatan besar, yaitu transisi pemimpin atau pergantian rektor.

      Kaum Boro Harus Bali Ndesa Mbangun Desa

      Istilah kaum boro sangat lekat dengan Kabupaten Wonogiri. Banyak warga Kabupaten Wonogiri memiliki sejarah panjang dengan budaya merantau.

      Pencanangan Kampung KB

      Pencanangan kampung KB (keluarga berkualitas) di Kota Solo belum lama ini menarik untuk diperhatikan. Meski dicita-citakan dapat membawa harapan baru, yang patut untuk dipertanyakan adalah harapan siapakah itu?

      Banjir Kabar Banjir

      Semestinya urusan saluran air dan tata kelola lingkungan diperhatikan dengan baik sehingga banjir bisa dikendalikan serta bisa mewariskan lingkungan yang baik bagi generasi mendatang.

      Bukan Radiator Springs

      Mereka khawatir jalan-jalan baru antarprovinsi ini membuat daerah-daerah jadi sepi karena tak ada pelaku perjalanan antardaerah yang mau mampir.

      Paradoks Implementasi Merdeka Belajar

      Program Merdeka Belajar sebagai ikhtiar memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan patut diapresiasi. Sebagai program transformatif banyak hal yang harus ditelaah secara kritis, antara lain, rapor pendidikan Indonesia dan program guru penggerak.