Tradisi Indonesia Itu Tradisi Persaudaraan Islam
Berkumpul dalam suasana rukun dan guyub harus dipertahankan untuk menjaga tali persaudaraan. (dok)

Solopos.com, SOLO – Berbagai kegiatan kampung seperti rapat rukun tetangga, arisan, hingga kerja bakti setiap pekan selaras dengan yang diajarkan Islam. Tujuannya adalah untuk menguatkan persaudaraan antarmanusia tanpa memandang latar belakang, agama, suku, maupun ras.

“Kegiatan kampung kalau dilihat nilai Islamnya sangat tinggi, itu jelas menyatukan umat melalui hal kecil seperti kerja bakti. Agama apa pun, siapa pun dia, bagaimana caranya bersatu untuk menyejahterakan kampungnya. Kalau manusia mengaku cinta pada negara Indonesia, kegiatan kecil pemersatu umat tentunya tidak akan terlewat,” ujar motivator Pemuda Islami Ikhwatu Fillah, Ustaz Azmi Assegaf, saat ditemui Solopos.com di Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, belum lama ini.

Hal itu dapat ditarik ke dalam skala yang lebih besar hingga ke lingkup negara. Allah berfirman,“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al-Ashr: 1-3)

Dalam ayat itu dijelaskan tentang mengerjakan amal saleh dan menasihati kebenaran. Menurut Azmi, berbuat baik tidak memandang latar belakang manusia. Dengan iman dalam hati, segala perbuatan akan terkontrol. Sehingga manusia tidak akan melakukan perbuatan yang merugi bagi diri sendiri maupun orang lain.

Apabila kembali melihat zaman Rasulullah ketika hijrah ke Madinah, beliau menanamkan tiga fondasi penting yakni mendirikan masjid, memersatukan kaum anshar dan muhajirin secara khusus, dan mendeklarasi Piagam Madinah yang berisikan persatuan umat antara satu dengan yang lainnya dengan saling membantu dan gotong royong.

Menurutnya, rasa persatuan akhir-akhir ini semakin luntur karena perkembangan teknologi memberi efek negatif terkait maraknya media sosial tanpa kontrol. Upaya memecah belah umat Islam dengan berbagai cara selalu gagal, namun media sosial menunjukkan kesuksesannya dalam upaya memecah rasa ukhuwah Islam.

Media sosial atau jaringan yang menghubungkan dapat dimanfaatkan sebagai pengikatan ukhuwah antara saudara seiman.

“Saudara seiman saja saat ini mulai memprihatinkan, media sosial yang seharusnya jaringan yang menghubungkan tali persaudaran justru menjadi pemutus. Ulama sebagai penerus Nabi Muhammad justru diadu domba. Bukan media sosial yang salah melainkan cara manusianya menyikapi media sosial untuk membangun persaudaraan,” ujar Azmi.

Menurutnya, seperti yang disampaikan Sayidina Ali bin Abi Talib, manusia hidup memiliki saudara seiman, sebangsa. Seluruh persaudaraan itu memiliki porsi-porsi sesuai hak yang telah ditentukan Allah. Ia menegaskan mencaci maki manusia jelas haram hukumnya, terlebih saudara seiman.

Ia menambahkan dalam saudara seiman terdapat hak-hak untuk memperoleh zakat, sedekah. Rasulullah bersabda,“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman [dengan iman sempurna] sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)

Menurutnya, lewat hadis itu sesama saudara seiman tidak saling menjatuhkan melalui cara apapun. “Terdapat riwayat yakni tidak akan sempurna perbuatan baik kecuali ia menyedekahkan sesuatu yang ia cintai. Jelas umat Islam dilarang memberikan sesuatu yang sudah tidak layak kepada saudarannya baik muslim atau bukan,” ujarnya.

Dalam hijrahnya, Rasulullah mendirikan masjid selain untuk tempat untuk beribadah juga sebagai sarana mempererat tali ukhuwah Islamiyah. Dalam sehari, lima waktu saudara seiman saling bertemu dan saling mengucap salam wajib hukumnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom