TPS Unik di Sragen, Anggota KPPS Pakai Surjan Sediakan Bilik Khusus di Ruang Keranda
Para petugas KPPS mengenakan baju surjan saat melayani pemilih menggunakan hak pilihnya di TPS 11 Sidorejo, Sragen Wetan, Sragen, Rabu (9/12/2020). (Tri Rahayu/Solopos)

Solopos.com, SRAGEN--Awan putih masih menggelayut di langit wilayah Sragen Wetan, Sragen, Rabu (9/12/2020). Para warga sudah berkumpul di salah satu gang di Kampung Sidorejo untuk takziah salah seorang warganya.

Sedangkan di gang sebelahnya terdapat masih cukup sepi. Di gang itu terdapat sebuah bangunan seperti musala yang digunakan untuk tempat mengaji anak-anak, yakni gedung Taman Pendidikan Quran (TPQ) Siti Istiqomah yang terletak di lingkungan RT 022/RW 007, Sidorejo.

Gedung kecil itu dimanfaatkan warga sebagai tempat pemungutan suara (TPS) 11 Sragen Wetan. Para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tampil berbeda dengan TPS lainnya di wilayah Sragen Wetan.

Para anggota KPPS laki-laki tampil memakai pakaian surjan, yakni pakai blangkon, baju lurik lengan panjang, dan sarung goyor produk Kalijambe yang membalut celanan panjang mereka sampai ke lutut.

Sementara anggota KPPS yang perempuan mengenakan baju kebaya dan berhijab. Para petugas ketertiban atau linmas juga mengenakan pakaian surjan. Yang membedakan dengan KPPS terletak pada penutup kepala, yakni bukan blangkon melainkan ikat kepala bermotif batik.

Pilkada Solo: Habis Nyoblos, Wali Kota Rudy Debat dengan Saksi Bajo

TPS itu mengampu para pemilih sebanyak 314 orang yang berasal dari lingkungan RT 020 dan RT 022 RW 007. Sejak dibuka pukul 07.00 WIB, para pemilih belum banyak yang datang.

Heri Ponco Setyono, 38, seorang anggota linmas bertugas di depan pintu gerbang. Setiap pemilih yang datang dicek suhu tubuhnya dengan thermogun dan diminta cuci tangan atau disemprot dengan cairan hand sanitizer. “Yang tertinggi suhunya 36,6 derajat Celsius,” ujarnya.

Bagi para pemilih yang suhunya di atas 37,3 derajat Celsius sudah disiapkan bilik khusus. Bilik khusus itu berada masih dalam satu ruangan dengan tiga bilik lainnya tetapi disekat dengan dinding kayu permanen. Di ruangan khusus itu ternyata digunakan untuk menyimpan keranda jenazah. Di ruang keranda itulah bilik khusus diletakkan.

“Pemilih yang suhunya tinggi dari depan langsung menuju bilik ini. Nanti surat suara sudah diserahkan petugas,” ujar salah seorang anggota KPPS seraya menunjukkan lokasi bilik khusus yang bisa diakses dari pintu belakang.

Mencegah Persebaran Covid-19

Di lingkungan TPS itu ada satu keluarga yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Dari para petugas KPPS berharap warga yang isolasi mandiri itu tidak datang ke TPS tetapi petugas KPPS yang nanti datang ke rumah yang bersangkutan untuk mencegah terjadinya persebaran Covid-19.

Mereka tampil dengan pakaian khas Sragenan itu atas inisiatif kolektif. Ada yang sudah memiliki baju sendiri dan ada yang pinjam tetangga. Prinsipnya mereka memakai baju tradisional tidak sewa. “Ada yang pinjam da nada yang milik sendiri,” ujar Anang Rustiono, Ketua KPPS 11, saat berbincang dengan Solopos.com.

Memakai baju surjan itu sudah izin ke kelurahan dan justru diapresiasi. Pemakaian baju surjan itu baru kali pertama dilakukan di warga di lingkungan Sidorejo. Pada pemilu sebelumnya belum pernah ada yang pakai pakaian tradisional.

Pilkada Wonogiri: Ditemani Istri dan Tiga Anaknya, Hartanto Mencoblos di TPS 002 Bulusari

“Kami sepakat pakai surjan karena ingin tampil beda. Di TPS lain tidak ada,” ujar petugas linmas lainnya, Suranto.

Pemungutan suara di masa pandemi ini dirasakan berbeda oleh seorang warga RT 020/RW 007 Sidorejo, Darmono, 45, saat berbincang dengan Espos. Darmono merasa pemungutan suara sekarang lebih ribet karena harus pakai masker dengan protokol kesehatan. “Saya nyaman dengan adanya protokol kesehatan yang ketat sehingga bisa mencegah penularan,” katanya.



Berita Terkini Lainnya








Kolom