Penampilan Soloensis di DSCX, Sabtu (16/11/2019). (Solopos-Sunaryo HB)

Solopos.com, SOLO -- Suara musik menggelegar di Concert Hall De Tjolomadoe, Karanganyar, Sabtu (16/11/2019) malam. Suara musik rock blues itu ternyata dari alat musik yang dimainkan empat personel Soloensis Band sebagai acoustic performance (local band) dalam ajang DSCX Diplomat Success Challenge.

Bagi anak muda Solo, nama Soloensis cukup familiar. Personelnya terdiri atas Pungkas Pinundi (gitar), Gema Isyak Adam (vocal gitar), Janu Joni (bass), dan Galang Dick Biondi (drum).

Sejak awal manggung mereka bernyanyi membawakan beberapa lagu dengan lirik berbahasa Inggris maupun Indonesia. Lebih dari 10 lagu yang mereka nyanyikan. Salah satu lagu yang cukup fenomenal ciptaan 2017 Sederhana Saja sempat dinyanyikan dan mendapat apresiasi berupa tepukan tangan penonton di hall itu.

“Selamat malam. Terima kasih banyak. Mendoakan saja semoga semakin sukses [DCX Diplomat Success challenge]. Lanjut ya. Nyanyi wae ya [menyanyi saja ya],” ujar Gema Isyak Adam sembari minum air mineral seusai membawakan lagu keenam, malam itu.

Lagu Bertemu Semestinya juga tak lupa mereka lantunkan dengan gender musiknya yang khas itu. Di susul lagu terbaru mereka yang berjudul Hari Pagi dipersembahkan khusus bagi penonton yang hadir. “Spesial buat teman-teman yang ada di sini, Hari Pagi,” ujar Gema lagi singkat.

Soloensis Lover

Setelah selesai membawakan lagu itu, mereka menutup pertemuan dengan para Purba Milenial, Soloensis lover, dengan lagu yang paling fenomenal, yakni Rock N Roll Syndrome. “Terima kasih banyak teman-teman. Lagu terakhir Rock N Roll Syndrome,” kata Gema.

Wahyu, 19, seorang mahasiswa Universitas Surakarta semester I, masih tetap duduk di kursinya di deret kedua dari depan panggung Soloensis. Wahyu menikmati lagu-lagu Soloensis sejak menit pertama sekitar pukul 08.00 WIB. Wahyu menyukai Soloensis sejak masih SMA sampai sekarang.

“Seperti biasa, Soloensis tampil total,” kesan Wahtu setelah melihat tampilan Soloensis. Wahyu sering melihat konser Soloensis bahkan sempat sampai Salatiga dan sejumlah kota lainnya. Ia menyukai seluruh lagu-lagu Soloensis. Bahkan ia menjadi salah satu dari ribuan Purba Milenial.

“Lagu terakhir ini bagi saya yang paling fenomenal selain Sederhana Saja,” kata pemuda asal Sekip, Banjarsari, Solo, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu malam.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten