Tolak Rencana Pendirian Tower, Warga Kregangan Klaten Surati Camat hingga Pemkab
Warga menunjukkan surat penolakan rencana pendirian tower seluler di wilayah RT 003/RW 002, Dukuh Kregangan, Desa Bolopleret, Kecamatan Juwirig, Minggu (17/5/2020) malam. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Warga RT 03/RW 02, Dukuh Kregangan, Desa Bolopleret, Kecamatan Juwiring, Klaten, resah dengan rencana pendirian tower seluler di wilayah mereka. Warga melayangkan surat ke kepolisian hingga pemkab agar pendirian tower tak dilakukan di wilayah mereka.

Salah satu warga RT 003/RW 002, Dukuh Kregangan, Sudadi, 54, mengatakan lokasi rencana pendirian tower berada di tanah hak milik. Pemilik tanah itu sendiri berdomisili di Solo.

Kabar rencana pendirian tower seluler itu muncul sejak dua pekan menjelang Ramadan atau pada April lalu. Saat itu, ketua RT/RW dan perwakilan warga di Bolopleret diundang ke kantor desa untuk membahas recana pendirian tower seluler.

Beredar Hoaks Warga Jateng Boleh Salat Id di Lapangan, Ini Seruan Ganjar

Awalnya warga di wilayah RT 003/RW 002 Dukuh Kregangan Klaten tak tahu ada pertemuan membahas rencana pendirian tower. Hingga beredar kabar di masyarakat ihwal rencana tersebut. Selain itu, dalam pertemuan yang digelar di kantor desa juga sudah mulai membahas nominal kompensasi yang diterima warga di wilayah RT 003 senilai Rp20 juta.

Mendengar kabar tersebut, warga RT 003 resah. Pasalnya, warga tak mendapatkan sosialisasi sebelumnya. Warga lantas mencoba mencari informasi dari orang-orang yang diundang dalam rapat tersebut. Di wilayah RT 003, hanya seoarang perwakilan warga dan ketua RT yang datang ke pertemuan.

Aksi Tanda Tangan

Selain mencari informasi kebenaran rencana pendirian tower seluler di RT 003, perwakilan warga di wilayah RT 003 juga menggelar pertemuan. Mereka sepakat menolak rencana pendirian tower seluler di wilayah mereka. Dukungan itu dibuktikan dengan tanda tangan bermaterai pada surat penolakan warga.

Dari total 23 keluarga di wilayah RT 003, sebanyak 20 keluarga menyatakan menolak pendirian tower di wilayah mereka.”Kami mengumpulkan dukungan penolakan ini tidak ada paksaan,” kata Sudadi saat ditemui di Bolopleret, Minggu (17/5/2020) malam.

Dukung Seruan Damai dengan Corona, Rudy: Virus Ini Ciptaan Tuhan, Tak Mungkin Dilawan

Awalnya, warga meminta ketua RT setempat menyampaikan surat penolakan warga atas pendirian tower seluler di wilayah mereka ke pemerintah desa. Namun, selama beberapa hari permintaan warga itu belum direspon, warga memilih melayangkan surat sendiri.

Selain ke pemerintah desa, surat penolakan pendirian tower dilayangkan ke polsek, koramil, pemerintah desa, camat, hingga pemkab Klaten yakni Satpol PP. Inti dari surat tersebut yakni warga tak ingin di wilayah mereka didirikan tower seluler.

Meski tower rencananya berdiri di tanah milik warga, Sudadi mengatakan dampak dari pendirian tower dikhawatirkan mengganggu kesehatan warga terutama di wilayah yang paling berdekatan yakni RT 003/RW 002, Dukuh Kregangan. Dari referensi yang diterima warga, salah satu risiko berdirinya tower bisa memengaruhi tingkat kesuburan laki-laki dan perempuan.

Rudy Ngaku Komunikasi dengan Jokowi Tak Seperti Dulu: Saya Tahu Diri

“Kami menolak ini bukan karena masalah kompensasi. Walaupun tower itu berdiri, kami menolak menerima kompensasi. Kami memang butuh sinyal [seluler] dan uang. Namun, kami lebih mementingkan kesehatan warga kami,” urai dia.

Izin Belum Keluar

Kepala Desa Bolopleret, Catur Joko Nugroho, mengatakan hingga kini belum ada izin pendirian tower seluler yang diterima pemerintah desa. “Memang ada informasi dan koordinasi dari ketua RW pernah menyampaikan [rencana pendirian tower]. Namun, kami sampaikan bahwa kami tidak ada istilah melarang dan tidak ada istilah mengizinkan. Kami mengikuti musyawarah masyarakat seperti apa,” jelas dia.

Catur mengatakan pemerintah desa siap memfasilitasi pertemuan mencari solusi terbaik terkait rencana pendirian tower tersebut. Namun, upaya mengumpulkan warga belum bisa dilakukan dalam waktu dekat lantaran masih dalam masa pandemi Covid-19.

“Nantinya kami kumpulkan warga. Saat ini tidak memungkinkan mengumpulkan warga karena ada SOP untuk menghindari kerumunan. Kami tetap upayakan mencari win-win solution. Saat ini, kami masih fokus pada penanganan Covid-19,” jelas Catur.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho