Eka Kurniawan. (Pictagram)

Solopos.com, SOLO - Sikap novelis Eka Kurniawan yang menolak Anugerah Kebudayaan 2019 justru meraih dukungan. Sederet nama tenar seperti sutradara Fajar Nugros mengacungi jempol sikap Eka Kurniawan tersebut.

Novelis Lelaki Harimau itu semestinya menerima menerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kamis (10/10/2019). Namun, Eka Kurniawan justru menolak penghargaan tersebut. Dia mengutarakan beberapa alasannya lewat fanpage priibadinya, Rabu (9/10/2019).

"Apakah negara sungguh-sungguh memiliki komitmen dalam memberi apresiasi kepada kerja-kerja kebudayaan?" tanya Eka Kurniawan.

Eka Kurniawan mempertanyakan hadiah peraih Anugerah Kebudayaan yang nilainya jauh lebih kecil ketimbang atlet yang menang kompetisi.

"Ketika sekitar dua bulan lalu saya dihubungi oleh staf Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan informasi bahwa saya calon penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019, untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru, yang rencananya diberikan besok, 10 Oktober 2019, pertanyaan saya adalah, pemerintah bakal kasih apa?”
terang Eka Kurniawan.

Pria berusia 43 tahun kelahiraan Tasikmalaya, Jawa Barat, itu kaget ketika mendapat perincian hadiah yang bakal diterima. Dia menilai hadiah itu berbanding terbalik dengan atlet pemenang kompetisi.

"Dia bilang antara lain, pin dan uang 50 juta rupiah, dipotong pajak. Reaksi saya secara otomatis adalah, kok, jauh banget dengan atlet yang memperoleh medali emas di Asian Games 2018 kemarin?" sambung dia.

Sebagai informasi, peraih emas memperoleh Rp1,5 miliar rupiah. Peraih perunggu memperoleh Rp250 juta. Bagi Eka kurniawan, perbedaan itu terasa sangat mengganggu. Dia lantas mempertanyakan kepedulian pemerintah terhadap kesusastraan dan keebudayaan secara umum.

Awalnya Eka Kurniawan mengesampingkan pikiran negatif tersebut. DIa mengikuti proses wawancara pembuatan profil. Namun, hal itu tak lantas membuang pikiran negatifnya begitu saja.

Sampai akhirnya kabar soal beberapa toko buku kecil yang digeruduk aparat membuatnya sedih. Ditambah lagi maraknya pembajakan buku yang masih menjadi polemik berkepanjangan dan belum terselesaikan sampai saat ini membuat Eka Kurniawan semakin resah. Hal itu membuatnya berpikir negara tidak punya komitmen melindungi seniman dan penulis atas hak dasar mereka, yakni kehidupan.

"Di luar urusan hadiah, ada hal-hal mendasar seperti itu yang layak untuk membuat saya mempertanyakan komitmen Negara atas kerja-kerja kebudayaan. Kesimpulan saya, persis seperti perasaan yang timbul pertama kali ketika diberitahu kabar mengenai Anugerah Kebudayaan, Negara ini tak mempunyai komitmen yang meyakinkan atas kerja-kerja kebudayaan," tegas dia.

Pada akhirnya, Eka Kurniawan berkesimpulan menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019. Dia berharap sikapnya tersebut menjadi perhatian.

" Suara saya mungkin terdengar arogan, tapi percayalah, Negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan," tandasnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten