TOL SOLO-MANTINGAN : Belum Dibayar, Sopir Truk di Sragen Mogok Kerja
Sejumlah truk pengangkut tanah uruk terparkir di lokasi pembangunan jalan tol Solo-Mantingan di perbatasan Desa Sidoharjo dan Desa Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Minggu (21/6/2015). (Moh Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)

Tol Solo-Mantingan masih dalam tahan pembangunan.

Solopos.com, SRAGEN — Sekitar 70 truk pengangkut tanah uruk untuk pembangunan jalan tol Solo-Mantingan di Desa Sidoharjo dan Singopadu, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, mogok kerja setelah tidak menerima honor selama lima hari.

Pengamatan Solopos.com di lokasi, Minggu (21/6/2015), belasan truk terparkir di sepanjang jalan Pungkruk-Tanon dan ruas jalan tol yang belum jadi. Sebagian sopir tetap mengemudikan truknya untuk mengangkut tanah uruk menuju lokasi pembangunan jalan tol.

“Sudah lima hari kita bekerja, tetapi belum dapat bayaran. Sesuai kesepakatan, honor akan dibayarkan setiap tiga hari sekali,” kata Larsito, 35, salah seorang sopir truk saat ditemui wartawan di lokasi.

Larsito mengaku sudah kehabisan uang untuk membeli bahan bakar solar. Truk milik majikan itu terpaksa tidak dijalankan Larsito sembari menunggu kejelasan dari pihak rekanan pembangunan jalan tol. Sebelumnya, Larsito sudah bekerja mengangkut tanah uruk sebanyak lima kali dalam sehari.

Jutaan Rupiah

Dalam sekali angkut, Larsito dijanjikan mendapat bayaran Rp125.000. Dengan begitu, mestinya Larsito mendapat honor Rp625.000/hari. Selama lima hari bekerja, mestinya Larsito mendapat honor Rp3.125.000 yang harus ia bagi bersama majikannya.

“Sampai sekarang belum ada kejelasan kapan honor itu akan dibayar. Lalu mau memakai bahan bakar apa supaya truk bisa jalan. Kalau tidak dibayarkan, lebih baik saya pulang nanti,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan Hengky, 52, sopir truk lainnya. Menurutnya, terdapat sekitar 70 truk pengangkut tanah uruk untuk proyek pembangunan jalan tol Solo-Mantingan.

Sebagian besar truk itu mogok bekerja lantaran sopirnya belum mendapat honor kendati sudah lima hari bekerja. “Intinya itu, kita [sopir truk] sudah kehabisan solar. Selama lima hari bekerja, uangnya belum cair. Terus, kita mau narik pakai apaan,” keluh Hengky.

Hengky mengaku masih menunggu kedatangan mandor proyek untuk dimintai kejelasan terkait keterlambatan pembayaran honor kepada sopir truk.

Kendati demikian, dia ragu honor tersebut akan dibayarkan sang mandor pada Minggu. “Kalau dia [mandor] tidak bawa uang, ya kita tetap mogok kerja. Sekarang [kemarin] hari Minggu, jadi setiap kantor pasti tutup. Apalagi bank,” jelasnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom