Perwakilan direktur BUM Desa memaparkan hasil kinerja dalam Lokakarya Forum BUM Desa 2018 di Pendapa Pemkab Klaten, Rabu (19/12/2018). (Solopos-Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Pembangunan jalan tol Solo-Jogja pada 2019 berpotensi mematikan produk unggulan berbagai desa di Klaten. Guna mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemab) Klaten mendorong Badan Usaha Milik (BUM) Desa menjadi garda depan guna memasarkan produk desa secara ke berbagai daerah di Tanah Air.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Pemkab Klaten saat ini masih menelaah rencana tata ruang wilayah (RTRW) guna mendukung pembangunan jalan tol Solo-Jogja. Hal itu termasuk menelaah jalur utara, meliputi Gondang-Karangnongko-Pluneng-Tulung.

Nantinya, jalur tersebut dapat berhubungan dengan Pengging hingga jala tol Solo-Kertosono (Soker). Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Klaten, Ronny Roekminto, mengatakan pembangunan jalan tol dapat memberikan keuntungan positif bagi pengguna jalan.

Keberadaan jalan tol berfungsi memperlancar arus lalu lintas. Di sisi lain, keberadaan jalan tol dapat memberikan dampak negatif. Pembangunan jalan tol dapat memengaruhi penjualan produk daerah terdampak jalan tol.

“Pembangunan jalan tol ini menjadi tantangan bersama. Di Brebes yang dikenal sebagai daerah penghasil telur asin itu sudah ada kejadian. Sejak ada jalan tol, penjualan telur asin turun hingga 70 persen per hari [seiring kurang ramainya arus lalu lintas di Brebes]. Hal seperti ini perlu diantisipasi lebih lanjut agar jangan sampai pembangunan jalan tol mematikan produk unggulan daaerah [desa],” kata Ronny Roekminto di sela-sela kegiatan Lokakarya Forum BUM Desa Klaten 2018 di pendapa Pemkab Klaten, Rabu (19/12/2018).

Ronny Roekminto mengatakan Brebes menjadi satu-satunya daerah yang menuai dampak kurang positif terkait pembangunan jalan tol. Hal itu berbeda dengan daerah terdampak lainnya, seperti Ngawi, Caruban, Madiun, dan lain sebagainya.

“Di Madiun itu, pecel Madiun tetap ramai. Roti dan bremnya juga ramai. Di Ngawi dan Caruban, arus lalu lintas tetap padat. Kenapa ini ada perbedaan? Makanya, Klaten harus dapat memunculkan brand asli daerah secara optimal. BUM Desa di Klaten harus mampu turut serta mewujudkan Klaten menjadi daerah yang maju, mandiri, dan berdaya saing,” katanya.

Ronny Roekminto mengatakan BUM Desa dapat meningkatkan berbagai inovasi dalam mengembangkan potensi desanya masing-masing. BUM Desa diharapkan tak melulu menggarap potensi sumber daya alam (SDA).

BUM Desa di Klaten harus mampu memunculkan semangat kewirausahaan guna memajukan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Di samping itu juga berinovasi memajukan pariwisata di desa masing-masing.

“Di Klaten ada 226 BUM Desa [dari 391 desa]. Kami akan pantau terus perkembangan masing-masing BUM Desa. BUM Desa harus memiliki komitmen dan semangat pantang menyerah dalam memajukan desanya. Jangan cepat puas dengan raihan yang ada. Klaten memang di tengah-tengah Solo-Jogja. Lokasi strategis itu perlu dimaksimalkan,” katanya.

Ketua Forum BUM Desa Klaten, Joko Winarno, mengaku saat ini sedang memetakan berbagai desa yang bakal terdampak pembangunan jalan tol Solo-Jogja. Forum BUM Desa bersiap memasarkan secara aktif setiap produk unggulan di desa terdampak pembangunan jalan tol Solo-Jogja.

Hal itu perlu dilakukan agar pembangunan jalan tol tak mematikan produk unggulan desa. Berbekal pemasaran produk secara sporadis di berbagai daerah, diharapkan produk unggulan di sejumlah desa terdampak pembangunan jalan tol tetap dapat dinikmati para konsumen.

“Selain aktif mem-branding produk desa, kami juga bertekad memasarkan produk BUM Desa secara berjejaring. Bisa juga menggandeng pihak ketiga. Produk yang dikeluarkan memang harus mengandung unsur kreatif dan inovatif. Kami tak ingin seperti yang terjadi di Brebes,” kata Joko Winarno.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten