Tokoh, Bahasa Indonesia, Pemerintah
Bandung Mawardi (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Sejak SD kita belajar bahasa Indonesia. Sekian banyak murid mengaku pelajaran itu sulit, menjemukan, atau malah bergengsi. Pada suatu masa, kala dulu, gengsi murid-murid SD yang beralamat di desa kadang terangkat bila mengerti pelajaran bahasa Indonesia dan fasih mengucapkan kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia.

Pada suatu masa, bahasa Indonesia memang mengesankan kemodernan, perkotaan, dan keintelektualan ketimbang bahasa-bahasa keseharian yang digunakan murid-murid di desa: Jawa, Sunda, Madura, Bugis, Bali, dan lain-lain.

Pelajaran itu terkenang gara-gara cerita ketimbang tata bahasa atau sosal-soal yang sering muncul dalam ujian. Bahasa Indonesia terus dipelajari di SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Sekian tahun belajar, bahasa Indonesia jarang membuat orang terpanggil membaca buku-buku untuk mengenali para tokoh penggerak bahasa Indonesia dari masa ke masa.

Rutinitas peringatan Sumpah Pemuda tak memastikan para murid dan mahasiswa bertambah pengetahuan tentang biografi para tokoh berpengaruh dalam sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia. Mereka hanya menambahi daftar pengenalan tokoh darikalangan biduan, pebalap, pemain sepak bola, politikus, artis sinetron, ilmuwan, dan lain-lain.

Tahun demi tahun berlalu, industri perbukuan Indonesia berkelimpahan dengan penerbitan buku biografi atau autobiografi politikus dan pengusaha. Mereka berada di depan, disusul oleh biografi ulama, artis, ilmuwan, dan atlet. Kalau kita punya gairah mengunjungi toko buku untuk mencari buku-buku biografi para tokoh berkaitan bahasa Indonesia pasti bakal lekas padam.

Industri buku tentu tak menganggap para tokoh bahasa Indonesia bisa menjadi jaminan buku menghasilkan untung. Buku tentang tokoh-tokoh bahasa Indonesia dianggap sulit laris, sulit menjadi perbincangan yang menghebohkan. Ketokohan dalam bahasa Indonesia belum menjadi acuan dengan mengisahkan saat pelajaran di sekolah atau kampus.

Kalangan guru, murid, mahasiswa, dan dosen tak pernah merasa bersalah bila tak mengenali para tokoh bahasa Indonesia. Mereka mengaku sudah memiliki ingatan dan pengenalan terhadap para tokoh bangsa yang biasa dijuluki pahlawan.

Kini, saya ingin mengajak Anda mengenal secuil demi secuil biografi para tokoh bahasa Indonesia melalui buku-buku yang pernah terbit tapi jarang mendapat pembaca dan sering tertinggal di rak-rak masa lalu. Saya mulai dari tokoh bernama Soegondo Djojopoespito (22 Februari 1905-2 April 1978), tokoh penting dalam Kongres Pemuda II (1928).

Informasi tentang Soegondo Djojopoespito mungkin bica dicari di mesin pencari Google tapi itu terasa ”meremehkan” bila ingin memuliakan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan diperingati tiap tahun atau turut dalam peringatan Bulan Bahasa dan Sastra selama Oktober.

Pada 1999 terbit buku berjudul Soegondo Djojopoespito: Hasil Karya dan Pengabdiannya susunan Sri Sutjiatiningsih. Buku dengan penampilan jelek ini terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pembaca layak lekas ragu dengan isi buku ini.

Ia memang tokoh dalam Kongres Pemuda II, tapi mengaku terbiasa menggunakan bahasa Belanda ketimbang bahasa Indonesia. Sekian pelaku dan saksi sejarah sering meminta agar ia menulis biografi atau memoar berkaitan dengan peristiwa-peristiwa penting dalam alur sejarah Indonesia.

Buku itu tak pernah ada. Peran dalam politik dan pendidikan memang menonjol ketimbang dalam kebahasaan. Pada masa kolonial dan masa kemerdekaan, ia sulit fasih berbahasa Indonesia, merasa sungkan bila dikaitkan sebagai tokoh penting dalam sejarah bahasa Indonesia.

Di kalangan sastra, ada nama yang saya ingat: Soewarsih Djojopoespito. Ia adalah istri Soegondo Djojopoespito. Perempuan ini menggubah novel dalam bahasa Sunda dan Belanda, sebelum terbit dalam edisi bahasa Indonesia berjudul Manusia Bebas. Novel ini mengisahkan para guru pada masa pergerakan politik kebangsaan.

Soegondo Djojopoespito terasa mendapat ”pengesahan” dalam peran sejarah dan pengaruh istri selaku pengarang. Di buku tipis terbitan pemerintah, kita bakal kesulitan mencari hal-hal memikat terkait ketokohan dalam Sumpah Pemuda. Buku memang sulit dianggap bermutu.

Peran terpenting yang ditulis dalam buku adalah peran Soegondo Djojopoespito sebagai pemimpin rapat yang mendapat sodoran kertas dari Muhammad Yamin selaku sekretaris. Gagasan dalam kertas itu mendapat persetujuan. Sikap itu menentukan pengucapan Sumpah Pemuda.

Di situ Soegondo Djojopoespito turut dalam sejarah bahasa Indonesia yang kemudian dimufakati sebagai bahasa persatuan. Saya lanjutkan ke buku berjudul Prof H Muhammad Yamin (1985) susunan Sutrisno Kutoyo. Buku terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ini dengan kemasan sulit membuat orang tergoda untuk membaca sampai khatam.

Buku itu memuat pengisahan dan penjelasan berkaitan peran Muhammad Yamin (23 Agustus 1903-17 Oktober 1962) dan Soegondo Djojopoespito dalam Sumpah Pemuda. Semula ia dikenali sebagai pujangga. Pada masa 1920-an, ia memilih sibuk dalam gerakan politik bersambung menekuni sejarah. Sastra tak dilupakan.

Pada akhir abad XX, Muhammad Yamin mulai sering mendapat gugatan dari pelbagai kalangan berkaitan peran dan penulisan buku mengenai bendera, konstitusi, Gajah Mada, Pangeran Diponegoro, dan lain-lain. Ia diragukan atau melakukan kesalahan dalam penulisan sejarah dan biografi.

Sekian pendapat negatif tak membatalkan Muhammad Yamin sebagai tokoh bahasa Indonesia. Ia rajin menulis artikel bertema bahasa Indonesia dan mengumumkan dalam pelbagai forum sejak masa 1920-an. Sutrisno memberi keterangan bahwa sejak muda, Muhammad Yamin sudah tertarik pada ilmu bahasa dan kebudayaan Timur.

Bermutu

Ia menjadi pelopor pembinaan bahasa persatuan kita. Ia juga ahli dalam ilmu bahasa Indonesia modern dan sejarah puisi Indonesia modern. Keterangan cuma pendek itu tak memungkinkan pembaca mengetahui babak-babak penting dalam pemajuan bahasa Indonesia pada masa kolonial.

Buku itu cukup mengenalkan si tokoh tapi pembaca tak bisa memastikan bakal mendapat bacaan bermutu dan bergelimang makna. Kita suka mengeluhkan buku-buku terbitan pemerintah. Misi mengenalkan dan menghormati tokoh sering gagal bila menilik isi buku dan penampilan buku.

Pemerintah seperti sembarangan dalam menentukan penulis. Buku juga jarang memuat daftar pustaka atau deretan catatan agar pembaca melakukan penelusuran melengkapi acuan-acuan mengenali tokoh dalam kesejarahan (bahasa Indonesia) dari masa ke masa.

Saya menduga buku ”asal” terbit meski melalui tata cara rumit dalam pendanaan, riset, dan misi. Dulu, buku-buku jenis itu haram diperdagangkan, tak bermaksud komersial. Buku-buku dikirim ke ribuan perpustakaan, ditata rapi di rak tanpa jaminan ada pembaca.

Tahun-tahun berlalu, buku-buku biografi kesepian dan berdebu dijual secara bijian atau kiloan. Saya menemukan dan membeli buku-buku seperti itu di pasar buku loak dengan harga murah. Mari menengok lagi buku terbitan pemerintah demi peringatan Sumpah Pemuda dan pemuliaan bahasa Indonesia.

Buku itu berjudul WJS Purwadarminta: Hasil Karya dan Pengabdiaannya (1981) garapan Putu Lasminah. Buku dengan sampul berwarna ungu. Dulu, Purwadarminta (12 September 1904-28 November 1968) dikenal sebagai pembuat Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952), acuan penting dalam pembuatan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988).

Ia juga berperan besar dalam penulisan buku pelajaran bahasa Indonesia yang digunakan pada masa 1950-an dan 1960-an. Putu Lasminah menjelaskan W.J.S. Purwadarminta sering merenung, berpikir, berusaha, agar dapat turut memecahkan masalah-masalah yang menyangkut bidang bahasa.

Harus ikut berjuang dalam menangani masalah masyarakat Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. W.J.S. Purwadarminta sadar bahwa bahasa Indonesia pun harus dibina dan dikembangkan agar dapat mengikuti perkembangan bahasa Indonesia yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Dari halaman awal sampai akhir sekian penjelasan dan referensi sulit membuat pembaca terpana. Buku tak memberi pengaruh besar bagi para pembaca sehingga tumbuh keinginan memuliakan bahasa Indonesia melalui pengenalan tokoh-tokoh.

Pemerintah telah berusaha menerbitkan buku tapi pembaca boleh meragu. Kini, kita menunggu dengan kesabaran bakal ada sejarawan atau sastrawan bersedia menulis buku biografi tokoh-tokoh bahasa Indonesia melampaui buku-buku terbitan pemerintah yang semakin tak mendapat perhatian pembaca.

 

 

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom