Pengelola Rumah Kreatif BUMN Bekasi, Usman Rusmana (kiri), memberikan paparan mengenai kemasan produk kepada para pelaku UMKM di Rumah Kreatif BUMN Wonogiri, Rabu (20/2/2019)./Cahyadi Kurniawan

WONOGIRI—Keberadaan toko modern yang bakal terus berkembang di Wonogiri diharuskan berkontribusi pada kemajuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Hal itu salah satunya ditempuh dengan menerbitkan aturan wajib menampung produk UMKM berupak olahan makanan minimal 30% dari produk makanan yang dijual di toko modern.

Ada sekitar 24.000 pelaku UMKM di bidang pengolahan makanan di Wonogiri yang tersebar di 25 kecamatan. Di Desa Ngadirojo, Kecamatan Jatisrono, ada sentra pengolahan kacang mete. Sementara sentra pengolahan keripik tempe dan pisang menyebar hampir di semua kecamatan.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (KUKM dan Perindag) Wonogiri, Wahyu Widayati, mengatakan aturan itu masih berupa rancangan peraturan daerah tentang penataan dan pembinaan pusat perbelanjaan. Konsep 30% produk olahan UMKM itu diharapkan bisa dilakukan melalui kemitraan antara pelaku usaha besar dengan pelaku UMKM lokal.

 “Ketentuannya minimal 30% dari jumlah produk makanan olahan yang dijual,” kata dia, saat ditemui Espos di sela-sela pelatihan bongkar kemasan kepada 45 pelaku UMKM di Wonogiri di Rumah Kreatif BUMN (RKB) Wonogiri, Rabu (20/2/2019).

 Guna mempersiapkan diri menuju kemitraan itu, UMKM harus segera berbenah mulai dari kualitas produk, kemasan, dan kontinuitas produksi. Kontinuitas menjadi hal penting sebab jangan sampai produk laris di pasaran, tapi pelanggan kesulitan mendapatkannya. “Kalau kualitas bagus, kemasan cantik, dan produksi berlangsung lancar, berikutnya adalah harga harus kompetitif. Dengan begitu, produk UMKM Wonogiri punya daya saing dengan daerah lain,” terang Wahyu.

Permasalahan kontinuitas pernah ditemui salah satu UMKM yang menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku, yakni keripik talas. Di Wonogiri, belakangan ini talas sulit didapat. Bahkan, pemilik usaha itu sampai mencari ke Pacitan meski hasilnya nihil. “Padahal, makanan itu cukup populer. Banyak orang membeli untuk oleh-oleh dari Wonogiri,” beber Wahyu.

Pelatihan kemarin digelar berkat kerja sama dengan BNI Wonogiri. Pelatihan itu menghadirkan Usman Rusmana dari RKB Bekasi. Peserta pelatihan adalah pelaku UMKM yang bergerak di bidang makanan dan kerajinan. “Kemasan produk yang ada saat ini diulas satu persatu secara bersama dan dikreasikan dalam kreasi kemasan baru agar lebih menarik sehingga diharapkan dapat menigkatkan nilai merk, menarik minat pembeli dan ujungnya peningkatan omset penjualan,” ujar Pemimpin Cabang BNI Wonogiri, Sri Haryati, dalam kesempatan yang sama.

Ia memaparkan dengan bergabung di RKB Wonogiri, pelaku UMKM berkesempatan membuka pasar lebih luas melalui pemasaran secara dalam jaringan (daring).

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten